Advertorial

Nostalgia 5 Hal yang Bikin Kangen Era 90an, dari Wartel Hingga Semen Kujang

Kompas.com - 29/07/2026, 15:46 WIB

KOMPAS.com - Jauh sebelum pesan instan dan layanan streaming menjadi bagian dari keseharian, ada banyak hal yang kini menjadi kenangan generasi 90-an.

Mulai dari kebiasaan mengantre di wartel, berburu kaset di toko musik, hingga jingle iklan yang sempat mewarnai layar televisi, .

Tak hanya tempat atau benda, berbagai brand lokal yang hadir pada masa itu juga ikut membentuk memori kolektif banyak orang.

Sebagian memang telah menghilang, tetapi ada pula yang masih eksis hingga sekarang. Sebagian hadir sebagai ikon, sebagian lain dikenang lewat produk dan kontribusinya terhadap perjalanan sebuah daerah.

Berikut adalah lima hal yang dapat membangkitkan kenangan era 90-an.

1. Wartel dan telepon umum

Sebelum smartphone menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menghubungi keluarga atau teman membutuhkan usaha lebih.

Wartel—akronim dari warung telepon—menjadi tempat andalan untuk menelepon keluarga, kerabat, hingga rekan kerja.

Ada pula telepon umum berwarna biru yang mudah ditemukan di berbagai sudut kota.

Tak sedikit orang rela mengantre di wartel dan telepon umum hanya untuk berbicara selama beberapa menit atau sekadar mengabarkan bahwa mereka telah sampai di tujuan.

Kini, pemandangan tersebut nyaris tak lagi ditemukan karena telah tergantikan oleh kemudahan komunikasi yang serba instan.

2. Semen Kujang

Di antara berbagai brand lokal yang tumbuh pada era tersebut, Semen Kujang menjadi salah satu nama yang lekat dengan perjalanan pembangunan di Jawa Barat.

Semen Kujang pernah menjadi salah satu brand asli Jawa Barat yang lekat dengan perjalanan pembangunan di daerah tersebut. Meski kini tidak lagi diproduksi, rekam jejaknya masih menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.Dok. Semen Kujang Semen Kujang pernah menjadi salah satu brand asli Jawa Barat yang lekat dengan perjalanan pembangunan di daerah tersebut. Meski kini tidak lagi diproduksi, rekam jejaknya masih menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Selama puluhan tahun, brand asli Jawa Barat ini hadir dalam berbagai fase pembangunan, mulai dari kawasan permukiman hingga proyek infrastruktur yang terus berkembang.

Di balik banyak bangunan yang berdiri di Jawa Barat, Semen Kujang menjadi bagian dari perjalanan itu.

Meski kini Semen Kujang sudah tidak lagi berproduksi, rekam jejak kontribusinya masih dapat dirasakan hingga hari ini.

Kehadirannya menjadi pengingat bahwa sebuah brand dapat meninggalkan warisan yang melampaui masa operasionalnya.

3. Gedung Sate

Bagi banyak orang, Jawa Barat hampir selalu identik dengan Gedung Sate. Bangunan bersejarah yang berdiri sejak 1920 itu bukan hanya menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, tetapi juga salah satu tengara paling ikonik di Indonesia.

Arsitekturnya yang khas dengan ornamen menyerupai tusuk sate di bagian puncak membuat Gedung Sate mudah dikenali.

Selama lebih dari satu abad, bangunan ini menjadi saksi berbagai perjalanan sejarah, mulai dari masa kolonial hingga perkembangan Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia.

4. Disc Tarra

Bagi pencinta musik pada era 90-an, mengunjungi toko kaset menjadi aktivitas yang tak jarang dinanti. Salah satu destinasi favorit pencinta musik di era itu adalah Disc Tarra.

Sebelum era streaming, Disc Tarra menjadi salah satu destinasi favorit pencinta musik untuk berburu kaset dan CD sekaligus menikmati pengalaman mendengarkan musik yang kini sulit ditemui lagiDok. Istimewa Sebelum era streaming, Disc Tarra menjadi salah satu destinasi favorit pencinta musik untuk berburu kaset dan CD sekaligus menikmati pengalaman mendengarkan musik yang kini sulit ditemui lagi

Berburu album terbaru, membaca daftar lagu di balik sampul CD, hingga menabung agar bisa membawa pulang album idola menjadi pengalaman yang sulit tergantikan.

Disc Tarra bukan sekadar tempat membeli musik. Bagi banyak orang, toko ini menjadi ruang untuk menikmati musik dengan cara yang berbeda, sebuah pengalaman yang kini mulai jarang ditemui sejak layanan streaming menjadi pilihan utama.

5. Iklan dan jingle legendaris

Sebelum media sosial menjadi bagian dari keseharian, televisi merupakan pusat hiburan keluarga sekaligus tempat lahirnya banyak iklan yang kemudian menjadi bagian dari budaya populer.

Hal yang melekat di ingatan masyarakat bukan hanya produknya, melainkan juga slogan dan jingle yang terus dikenang selama bertahun-tahun.

Salah satu yang paling ikonik adalah iklan Xon-Ce versi 1994 dengan slogan "Xonce-nya mana?".

Kalimat sederhana tersebut begitu populer hingga kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari dan menjadi salah satu slogan iklan yang paling diingat oleh generasi 90-an.

Pada akhirnya, kenangan era 90-an tidak hanya tersimpan dalam tempat atau benda yang pernah akrab dengan keseharian. Berbagai ikon, slogan, hingga brand lokal yang tumbuh pada masa itu juga menjadi bagian dari memori kolektif banyak orang.

Seperti Gedung Sate yang tetap menjadi ikon Jawa Barat, slogan "Xonce-nya mana?" yang masih dikenang, maupun Semen Kujang yang pernah mengiringi perjalanan pembangunan di provinsi tersebut, semuanya menjadi pengingat bahwa sebuah era meninggalkan jejak yang tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau