KOMPAS.com - Indonesia menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Asia Tenggara. Hal itu tecermin dalam penyelenggaraan World AI Show Global Edition Ke-47 di Sheraton Grand Jakarta, Selasa (7/7/2026) dan Rabu (8/7/2026).
Selama dua hari, ajang tersebut mempertemukan lebih dari 1.200 pemimpin teknologi, pengambil keputusan perusahaan, dan inovator dari berbagai negara.
Mereka membahas implementasi AI di berbagai sektor industri, mulai dari layanan keuangan hingga pariwisata.
Konferensi yang diselenggarakan Trescon tersebut memperlihatkan bahwa AI kini telah bergeser dari sekadar mengikuti perkembangan teknologi menjadi upaya mendorong penerapannya untuk menciptakan nilai bisnis di berbagai sektor.
Dalam konferensi, posisi Indonesia sebagai salah satu pusat implementasi AI di kawasan pun semakin menguat.
Penyelenggaraan World AI Show edisi Indonesia sendiri mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian melalui Startup for Industry (SFI), Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf), organisasi industri AISII dan KORIKA, serta Dubai Technology Entrepreneur Centre (DTEC Dubai) sebagai global innovation partner.
Berbagai perusahaan teknologi global juga terlibat sebagai sponsor, mulai dari DATADOG, Magure, Zoom, Redis, UCloud Global, PT ASIX Indonesia Cerdas, Akamai, Alibaba Cloud, Indonet, Datalabs, hingga Google Cloud.
Dukungan juga datang dari berbagai asosiasi industri, seperti KADIN Jakarta, APDI, BritCham Indonesia, ISACA Indonesia, Telkom University, Indonesia AI Society, dan Block71 Indonesia.
Implementasi AI di berbagai sektor
Hari pertama konferensi berfokus pada strategi implementasi AI untuk meningkatkan efisiensi serta daya saing bisnis.
Dalam sesi keynote bertajuk “AI-Powered Creative Economy: Unlocking Indonesia's Next Growth Engine”, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) Muhammad Neil El Himam mengatakan, perkembangan AI telah memasuki fase yang tidak lagi dapat dihindari.
Menurutnya, tantangan saat ini tidak lagi terletak pada adopsi teknologi, tetapi kemampuan memanfaatkannya untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.
Neil juga mengungkapkan bahwa AI generatif mampu memangkas waktu produksi hingga 45 persen dalam proses desain, penulisan, dan produksi video.
"AI akan membentuk masa depan, tetapi nilai sesungguhnya akan ditentukan oleh kreativitas manusia," ujar Neil dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (29/7/2026).
Pembahasan kemudian berlanjut pada penerapan AI dalam operasional perusahaan melalui sesi panel “From Insight to Impact: How AI and Data Intelligence are Redefining Business Growth in Indonesia”.
Para pemimpin dari sektor perbankan, ritel, telekomunikasi, hingga manufaktur membahas pemanfaatan machine learning sebagai bagian dari strategi bisnis untuk menghasilkan dampak yang lebih terukur.
Chief Digital Officer Allo Bank Sajal Bhatnagar mengatakan, AI kini tidak lagi hanya digunakan untuk pekerjaan administratif, tetapi juga mampu menangani proses bisnis yang jauh lebih kompleks.
Dalam analisis kelayakan kredit, misalnya, AI mampu menghasilkan penalaran prediktif yang 30 persen lebih unggul ketimbang kemampuan manusia.
"Saat ini, kita sedang menyaksikan perubahan paradigma yang sangat besar ketika berbagai tanggung jawab yang kompleks dapat sepenuhnya dialihkan kepada AI. Kini, penentunya hanyalah seberapa gesit organisasi mampu mengadopsinya," jelasnya.
Memasuki hari kedua, pembahasan beralih pada implementasi AI di lingkungan perusahaan dan penguatan infrastruktur digital publik.
Melalui keynote bertajuk “Indonesia's Digital Tourism Journey: Building Smarter, More Connected Visitor Experiences”, Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Made Ayu Marthini memperkenalkan "Maya", pendamping perjalanan berbasis AI yang terintegrasi dalam platform pariwisata Indonesia.
Sistem tersebut dirancang dengan standar kepatuhan yang ketat untuk meminimalkan risiko hallucination, yakni kondisi ketika AI menghasilkan informasi yang keliru atau tidak akurat.
Maya mampu menyusun rekomendasi perjalanan yang dipersonalisasi bagi wisatawan mancanegara dalam waktu kurang dari tiga detik. Teknologi tersebut juga turut membantu mengelola persoalan over-tourism.
"Suka atau tidak, AI telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Namun, saya ingin menegaskan bahwa kami tidak akan pernah menggantikan keramahtamahan khas Indonesia dengan AI. Teknologi hanyalah alat yang mampu membuat ekosistem kita bekerja lebih cepat, lebih produktif, dan lebih kompetitif di tingkat global sembari tetap menempatkan hubungan antarmanusia sebagai inti dari setiap pengalaman," kata Ni Made.
Konferensi juga menghadirkan Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Lupi Trilaksono, Deputi Direktur Data Science and Governance Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Arie Purwanto, Kepala Tim Industri Elektronika dan Telematika Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Risma Fattahatin Muizzullah, serta Vice President DTEC Hans Christensen.
Selain menjadi forum diskusi, World AI Show memfasilitasi pertemuan bisnis antarpeserta melalui platform KonfHub.
Melalui platform tersebut, para pengambil keputusan dapat menjadwalkan pertemuan tertutup, menjajaki peluang kemitraan, serta membangun kolaborasi lintas industri.
Selepas dari Indonesia, rangkaian World AI Show berikutnya akan digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (9/9/2026) dan Kamis (10/9/2026).