Advertorial

Berawal dari Dapur Sederhana, Usaha Gula Merah Rosidah Tumbuh Berkat Program Ini

Kompas.com - 29/07/2026, 19:55 WIB

KOMPAS.com - Asap tipis mengepul dari dapur produksi sederhana di Desa Pragaan Laok, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Di balik tungku besar yang terus menyala, Rosidah (50) tampak sibuk mengaduk cairan nira hingga perlahan berubah menjadi gula merah berwarna kecoklatan.

Rutinitas itu telah dijalaninya selama hampir dua dekade. Bagi Rosidah, gula merah bermakna lebih dari sekadar produk yang dijual untuk mencari nafkah. Produk ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjangnya membangun usaha sekaligus menghidupi keluarga.

Sejak 2006, perempuan asal Sumenep itu mengembangkan usaha gula merah khas Madura dengan memanfaatkan air nira dari pohon siwalan atau lontar yang banyak tumbuh di daerahnya.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal merintis usaha, Rosidah harus menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari peralatan produksi yang masih sangat sederhana hingga keterbatasan modal untuk mengembangkan usaha.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekadnya. Perlahan, ia terus menjaga kualitas gula merah yang diproduksi hingga akhirnya mulai dikenal masyarakat.

Rosidah mengaku, seiring berjalannya waktu, semakin banyak konsumen yang memercayai kualitas gula merah buatannya. Permintaan pun mulai berdatangan dari berbagai daerah.

"Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, kualitas gula merah buatan saya mulai dilirik konsumen. Permintaan mulai berdatangan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (29/7/2026).

KUR BRI jadi titik balik pengembangan usaha

Meningkatnya permintaan pasar kemudian menjadi titik balik bagi perkembangan usahanya. Rosidah menyadari kapasitas produksi yang dimiliki saat itu tidak lagi mampu mengimbangi kebutuhan pasar tanpa tambahan modal kerja.

Karena itu, pada 2016, ia memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Pragaan. Keputusan tersebut menjadi langkah penting yang kemudian membawa perubahan besar bagi usahanya.

Rosidah mengatakan, meski telah lama menjadi nasabah BRI, baru pada 2016 ia memutuskan memanfaatkan fasilitas KUR untuk mengembangkan usaha gula merah yang dirintisnya.

Menurut Rosidah, pengajuan KUR berlangsung cepat dengan pendampingan yang responsif dari petugas BRI. Selain itu, bunga yang rendah dan tidak adanya persyaratan agunan membuat KUR menjadi pilihan yang sesuai bagi pelaku usaha mikro seperti dirinya.

"Saya sudah lama jadi nasabah BRI, tapi baru pada 2016 memberanikan diri mengajukan pinjaman KUR. Prosesnya cepat dan tim dari BRI sangat responsif. Saya memilih KUR ini karena selain bunganya rendah juga tidak ada agunan. Jadi, cocok untuk usaha kecil seperti saya," katanya.

Dana KUR yang diperoleh kemudian difokuskan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku sehingga proses produksi dapat berjalan lebih lancar.

Hasilnya mulai terlihat dalam tiga tahun pertama setelah menjadi nasabah KUR BRI. Seiring meningkatnya perputaran usaha, Rosidah berhasil melunasi pinjaman pertamanya dengan catatan yang baik.

Kepercayaan tersebut mendorongnya kembali memanfaatkan KUR BRI untuk mengembangkan usaha. Ia mengajukan pinjaman tahap kedua dengan nilai yang lebih besar, yakni Rp 50 juta.

Dukungan pembiayaan dari BRI pun terus berlanjut. Melihat perkembangan usahanya yang konsisten, pada 2024 Rosidah kembali memperoleh fasilitas KUR dengan nilai pembiayaan yang lebih besar.

Bagi Rosidah, tambahan modal kerja tersebut memberikan manfaat yang langsung dirasakan, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku sekaligus melengkapi peralatan produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

"KUR BRI ini sangat bermanfaat bagi kami, khususnya untuk penyediaan bahan baku, peralatan produksi agar bisa memenuhi permintaan," ujarnya.

Dukungan permodalan tersebut menjadi salah satu pendorong pertumbuhan usaha Rosidah. Dengan kapasitas produksi yang semakin besar, ia mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Produksi gula merah yang sebelumnya rata-rata sekitar 200 kilogram per hari kini meningkat menjadi sekitar 500 kilogram per hari. Peningkatan tersebut tidak hanya memperkuat usahanya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Rosidah mengatakan, perkembangan usaha yang dirintisnya turut memberikan manfaat bagi warga sekitar. Selain membeli bahan baku dari masyarakat, ia juga mulai merekrut tenaga kerja untuk membantu proses produksi.

"Alhamdulillah, kami juga bisa membantu warga sekitar. Selain menerima hasil bahan baku dari mereka, kami juga membantu menyerap tenaga kerja. Jika awal-awal saya merintis usaha ini saya kerjakan sendiri, saat ini pekerja saya ada enam orang," ungkapnya.

Pendampingan BRI perkuat pertumbuhan UMKM

Setelah hampir 20 tahun membangun usaha, Rosidah kini telah memiliki pelanggan tetap di berbagai wilayah di Pulau Madura. Jangkauan pemasarannya tidak lagi terbatas di sekitar Sumenep, tetapi telah meluas hingga Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Sistem pemasarannya pun berkembang mengikuti kebutuhan pelanggan. Para pemilik toko di berbagai daerah cukup menghubunginya melalui telepon untuk memesan gula merah. Setelah pesanan diterima, Rosidah langsung menyiapkan pengiriman untuk memasok toko-toko tersebut secara rutin.

Bertambahnya volume produksi dan meluasnya pasar membuat omzet usahanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Hasil tersebut tidak hanya memperkuat kondisi keuangan usaha, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Rosidah mengungkapkan, keberhasilan usaha gula merah yang dirintisnya bahkan mampu mengantarkan kedua anaknya membuka usaha sendiri di Surabaya.

Baginya, hubungan dengan BRI juga tidak lagi sebatas antara debitur dan kreditur. Selama menjadi nasabah KUR, Rosidah merasakan pendampingan yang rutin melalui kunjungan petugas BRI ke rumah sekaligus tempat produksi gula merah miliknya.

Menurut Rosidah, kehadiran petugas BRI tidak hanya untuk memantau perkembangan usaha, tetapi juga memberikan pendampingan serta pelatihan yang mendukung pertumbuhan bisnisnya. Komunikasi yang terjalin pun berlangsung terbuka sehingga berbagai kebutuhan konsultasi dapat segera memperoleh solusi.

Ia juga merasakan manfaat dari fleksibilitas layanan BRI yang memungkinkan penambahan modal usaha meski pinjaman sebelumnya masih berjalan. Skema tersebut dinilai membantu menjaga kebutuhan operasional usaha tetap terpenuhi ketika permintaan pasar meningkat.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, sebagai bank yang fokus pada pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), BRI terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha di berbagai daerah.

Menurut Akhmad, langkah tersebut dilakukan untuk mendorong peningkatan produktivitas UMKM, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat sektor riil yang menjadi fondasi perekonomian nasional.

Komitmen tersebut tecermin dari penyaluran KUR BRI hingga Juni 2026 yang mencapai Rp 103,81 triliun atau setara 54,63 persen dari total kuota KUR BRI pada 2026 sebesar Rp 190 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75,02 persen disalurkan ke sektor-sektor produktif yang memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Akhmad menilai, perjalanan Rosidah menjadi salah satu contoh bagaimana akses pembiayaan dapat membantu pelaku UMKM mengembangkan usaha secara berkelanjutan melalui dukungan pemberdayaan yang diberikan BRI.

"Kisah Rosidah membesarkan usaha Gula Merah di Sumenep jadi kisah inspiratif dari pelaku UMKM yang memanfaatkan KUR sebagai akses permodalan usaha dan terus berkembang melalui pemberdayaan BRI. Semoga kisah ini menjadi kisah inspiratif yang dapat direplikasi oleh pelaku UMKM lainnya di berbagai wilayah di Indonesia," ucap Akhmad.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau