KOMPAS.com – Transformasi badan usaha milik negara (BUMN) tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan serta memberikan dampak lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan, peningkatan kinerja BUMN perlu diikuti penguatan sumber daya manusia (SDM) dan kepemimpinan yang mampu menjaga keberlanjutan perusahaan untuk jangka panjang.
Pasalnya, kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting agar perusahaan dapat terus bertumbuh dan menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang.
“Hal yang membedakan seorang chief executive officer (CEO) dengan manajer itu adalah komitmennya terhadap keberlanjutan sebuah perusahaan,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (30/7/2026).
Salah satu implementasi transformasi tersebut dijalankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI melalui program BRIvolution Reignite.
Program tersebut menjadi kerangka transformasi terintegrasi untuk memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan daya saing, dan memperbesar kontribusi perusahaan terhadap ekonomi kerakyatan.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, transformasi BRI diarahkan tidak hanya untuk menciptakan pertumbuhan bisnis yang sehat, tetapi juga memperluas pembiayaan sektor produktif serta mendukung program prioritas pemerintah.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, transformasi tersebut dirancang agar perusahaan dapat tumbuh lebih sehat, efisien, dan berdaya saing tanpa meninggalkan perannya dalam mendukung ekonomi masyarakat.
“Transformasi ini menjadi bagian dari komitmen BRI untuk menghadirkan nilai tambah yang semakin besar sejalan dengan arah strategis Danantara Indonesia,” kata Hery.
Perkuat pendanaan dan bisnis inti
BRIvolution Reignite bertumpu pada dua pilar utama dan didukung enam faktor penggerak atau enabler di seluruh organisasi.
Pilar pertama adalah Transform the Funding Franchise. Pilar ini diarahkan untuk membangun struktur pendanaan yang lebih efisien, stabil, dan berbasis dana murah.
Upaya tersebut dijalankan melalui penguatan dana murah atau current account saving account (CASA) serta peningkatan kemampuan layanan transaction banking.
Sementara itu, pilar kedua, yakni Revamp Existing Core and Build New Core berfokus memperkuat penyaluran kredit mikro sebagai bisnis inti serta pengembangan consumer banking sebagai sumber pertumbuhan baru.
Pengembangan kedua pilar tersebut ditujukan untuk menjawab perubahan kebutuhan nasabah dan dinamika industri perbankan.
Implementasi transformasi itu turut tecermin dalam kinerja perseroan hingga triwulan I 2026. Total aset BRI Group tercatat tumbuh 7,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 2.250 triliun. Sementara itu, kredit dan pembiayaan meningkat 13,7 persen menjadi Rp 1.562 triliun yoy.
Pada periode sama, laba bersih konsolidasian perusahaan tercatat sebesar Rp 15,5 triliun yoy. Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4 persen yoy. Pertumbuhan ini turut mendorong penurunan biaya dana atau cost of fund dari 2,98 persen pada triwulan I 2025 menjadi 2,33 persen pada triwulan I 2026.
Salurkan KUR kepada 2 juta UMKM
Penguatan fundamental bisnis tersebut kemudian menjadi modal untuk memperluas fungsi intermediasi dan kontribusi terhadap program pembangunan nasional. Salah satunya diwujudkan melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR).
Hingga akhir Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 103,81 triliun kepada sekitar 2 juta pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Penyaluran tersebut didominasi sektor produktif yang berhubungan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan 869.285 debitur atau 42,68 persen dari total penerima KUR. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan dengan 647.440 debitur atau 32,34 persen.
Dukung pembiayaan perumahan
Selain pembiayaan UMKM, BRI juga mendukung program 3 Juta Rumah melalui penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi.
Hingga Juni 2026, penyaluran KPR subsidi BRI mencapai Rp 18,39 triliun kepada lebih dari 134.000 debitur.
Sekitar 97 persen dari total pembiayaan tersebut disalurkan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang menjangkau sekitar 131.000 debitur.
Hingga Juni 2026, penyaluran FLPP mencapai 19.075 unit atau sekitar 32,8 persen dari target 60.000 unit.
Dari sisi penyediaan hunian, realisasi Kredit Program Perumahan (KPP) mencapai Rp 10,7 triliun hingga Minggu (19/7/2026). Jumlah ini setara dengan sekitar 89 persen dari target penyaluran sepanjang 2026 sebesar Rp 12 triliun.
Pembiayaan itu menjangkau pelaku usaha di sektor penyediaan hunian serta masyarakat sebagai pembeli rumah.
Penyaluran pembiayaan perumahan diharapkan dapat memperkuat ekosistem hunian serta menciptakan efek berganda bagi aktivitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Hery mengatakan, transformasi perusahaan tidak hanya ditujukan untuk memperkuat kinerja internal, tetapi juga memastikan pertumbuhan bisnis memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Dengan dukungan seluruh insan BRILiaN, kepercayaan masyarakat, serta sinergi bersama Danantara Indonesia, BRI optimistis dapat terus menjaga kinerja yang sehat dan berkelanjutan sekaligus memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi kerakyatan,” tuturnya.