KOMPAS.com – Kapal peti kemas Shanghai Voyager menyelamatkan empat awak kapal Indonesia yang terapung di Laut China Selatan setelah kapal tunda yang mereka tumpangi terbalik akibat cuaca buruk.
Berdasarkan keterangan Sinokor Merchant Marine, perusahaan yang mengoperasikan Shanghai Voyager, dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (2/8/2026), peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (25/8/2026) di perairan Laut China Selatan, dekat Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.
Saat itu, Shanghai Voyager sedang berlayar dari Penang, Malaysia, menuju Hong Kong ketika awak jaga mendeteksi sebuah rakit penyelamat yang terapung di tengah hujan lebat dengan jarak pandang terbatas dan gelombang setinggi 2 meter.
Di atas rakit tersebut terdapat empat awak kapal Indonesia yang berhasil menyelamatkan diri setelah kapal tunda yang mereka tumpangi terbalik pada pagi hari akibat cuaca buruk.
Saat itu, Shanghai Voyager sedang berlayar dari Penang, Malaysia, menuju Hong Kong ketika awak jaga mendeteksi sebuah rakit penyelamat yang terapung di tengah hujan lebat dengan jarak pandang terbatas dan gelombang setinggi 2 meter. “Pada pukul 15.47 waktu setempat di kapal (UTC+8), Perwira Kedua Shanghai Voyager yang sedang bertugas jaga mendeteksi rakit penyelamat tersebut di sisi kiri haluan kapal. Setelah menerima laporan, nakhoda Lee Yoon-cheol memutuskan mengurangi kecepatan kapal dan mengubah haluan untuk melakukan penyelamatan,” tulis keterangan tersebut.
Sinokor Merchant Marine menyatakan seluruh awak kapal kemudian dikerahkan untuk proses penyelamatan.
Dalam kondisi hujan lebat dan gelombang tinggi, kapal melakukan manuver untuk mendekati rakit penyelamat hingga keempat korban berhasil dievakuasi ke atas kapal pada pukul 16.30 waktu setempat.
“Proses evakuasi berlangsung sekitar 43 menit sejak rakit ditemukan dan seluruh korban berhasil diselamatkan tanpa mengalami cedera,” ujar perwakilan perusahaan.
Adapun keempat korban merupakan awak kapal tunda TB AOM 787 yang terbalik akibat gelombang tinggi dan angin kencang saat menarik tongkang.
Proses evakuasi berlangsung sekitar 43 menit sejak rakit ditemukan dan seluruh korban berhasil diselamatkan tanpa mengalami cedera. Mereka meninggalkan kapal sekitar pukul 10.00 pagi tanpa sempat membawa paspor sebelum akhirnya ditemukan oleh Shanghai Voyager setelah berada di atas rakit penyelamat selama sekitar enam setengah jam.
“Setelah proses evakuasi, tim manajemen keselamatan di kantor pusat mengaktifkan prosedur tanggap darurat, termasuk memberikan dukungan pertolongan pertama, membantu proses identifikasi korban, berkoordinasi dengan otoritas pencarian dan pertolongan Indonesia, serta mendokumentasikan kronologi kejadian,”tambahnya.
Sebagai informasi, Shanghai Voyager saat itu mengangkut 1.862 TEU muatan dalam pelayaran reguler.
Atas permintaan otoritas pencarian dan pertolongan Indonesia, kapal kemudian bergerak menuju perairan utara Pulau Matak yang berjarak sekitar 70 mil laut dari lokasi penyelamatan karena tim penyelamat setempat belum dapat menjangkau posisi kapal akibat cuaca buruk.
Keempat korban kemudian diserahkan kepada kapal penyelamat setempat pada pukul 00.48 pada Minggu (26/7/2026) setelah operasi penyelamatan berlangsung sembilan jam sejak korban ditemukan.
Dalam surat elektronik, perusahaan juga menyebut bahwa Joint Rescue Coordination Centre (JRCC) Indonesia menyampaikan apresiasi kepada nakhoda dan awak Shanghai Voyager atas respons cepat dalam membantu proses penyelamatan.
Keempat awak kapal selanjutnya dibawa ke rumah sakit di wilayah Terempa untuk menjalani pemeriksaan medis dan dilaporkan dalam kondisi baik.
“Operasi tersebut merupakan bagian dari penerapan prosedur keselamatan yang dijalankan perusahaan. Keselamatan jiwa manusia di laut menjadi prioritas dalam setiap operasi pelayaran dan perusahaan akan terus mendukung awak kapal untuk mengambil tindakan penyelamatan apabila menghadapi situasi serupa,” jelas perwakilan Sinokor Merchant Marine.