Advertorial

Hadir di Petak Enam Glodok, Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 Tawarkan Pia dan Mooncake Halal

Kompas.com - 03/08/2026, 20:47 WIB

KOMPAS.com — Destinasi wisata kuliner peranakan Tionghoa di Jakarta bertambah dengan kehadiran gerai pertama Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 di kawasan Petak Enam, Glodok, Jakarta.

Rumah kue tersebut menyajikan beragam kue khas peranakan Tionghoa, seperti pia dan mooncake, dengan mengusung konsep open kitchen. Seluruh kue diproduksi secara handmade setiap hari sehingga pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya.

Pemilik Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 Andrye Setiawan mengatakan, gerainya menawarkan sajian kue peranakan Tionghoa modern tanpa meninggalkan cita rasa tradisional.

Ide mendirikan rumah kue tersebut terinspirasi dari tradisi dan kehangatan keluarga Andrye. Terlahir dari keluarga bermarga Wen, ia mengenang kegiatan membuat kue bersama sebagai momen yang menyatukan seluruh anggota keluarga.

Nilai kehangatan dan kebersamaan itu kemudian ia hadirkan kembali melalui Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980.

“Sajian kue di Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 bukan hanya sekadar hidangan manis, melainkan setiap gigitannya melambangkan kehangatan, cinta, dan kebersamaan keluarga,” ujar Andrye dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (3/8/2026).

Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 memadukan resep warisan keluarga dengan standar produksi modern agar produknya dapat dinikmati konsumen lintas generasi.

Beragam kue tradisional khas peranakan Tionghoa tersedia di gerai tersebut, mulai dari pia, mooncake, hingga nastar.

Rumah kue itu berkomitmen menjaga kualitas produknya tetap premium dengan harga yang terjangkau serta menggunakan bahan baku halal.

“Kami memilih bahan baku unggulan yang halal serta standar produksi yang modern. Hal ini dilakukan untuk memastikan sajian kue di gerai kami selalu konsisten, baik dari segi rasa maupun kualitasnya,” kata Andrye.

Ketertarikan Andrye terhadap dunia kuliner telah tumbuh sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, ia mulai membuat nastar untuk dijual menjelang Idul Fitri serta menerima pesanan hamper.

Pengalaman tersebut kemudian mendorong Andrye untuk menekuni bisnis kuliner. Selain mendirikan Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980, pria berusia 46 tahun itu juga merupakan pemilik Exquise Patisserie yang telah memiliki sejumlah cabang di Jakarta dan sekitarnya, serta Toko Kue Serba Pandan Rayoean.

Pengalaman tersebut turut menjadi dasar bagi Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 untuk menghadirkan produk berkualitas, konsisten, dan memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan.

Peluang bisnis masih terbuka

Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 menyediakan sekitar 12–14 varian pia khas peranakan Tionghoa.

Untuk varian manis, konsumen dapat memilih pia dengan isian kacang hijau, kacang merah, pandan abon ayam, cokelat, wijen hitam, dan cokelat keju.

Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 hadir di kawasan Petak Enam, Glodok, Jakarta. Rumah kue ini menyajikan beragam kue khas peranakan Tionghoa, seperti pia dan mooncake, dengan mengusung konsep open kitchen. dok. Tuan Wen 1980 Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 hadir di kawasan Petak Enam, Glodok, Jakarta. Rumah kue ini menyajikan beragam kue khas peranakan Tionghoa, seperti pia dan mooncake, dengan mengusung konsep open kitchen.

Sementara itu, varian gurih tersedia dengan isian bakso ayam, charsiu ayam, dan lemper ayam.

Rumah kue tersebut juga menawarkan mooncake mini dengan pilihan isian kacang hijau telur asin, kacang merah telur asin, ubi ungu telur asin, dan pandan telur asin. Selain itu, tersedia pula nastar dan kukis kacang.

Produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 9.000 hingga Rp 18.000 per buah. Kemasannya dirancang dengan tampilan mewah dan elegan sehingga dapat dijadikan hampers atau buah tangan untuk keluarga, kolega, ataupun relasi bisnis.

Andrye optimistis, Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 dapat berkembang. Salah satu alasannya adalah pemilihan lokasi gerai di kawasan pecinan Petak Enam, Glodok, yang memiliki keterkaitan erat dengan komunitas peranakan Tionghoa di Jakarta.

Ke depan, Andrye berencana membuka cabang Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 di sejumlah kota besar yang memiliki kawasan pecinan, seperti Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan kuliner peranakan Tionghoa kepada masyarakat Indonesia melalui sajian yang autentik, berkualitas, dan relevan dengan selera masa kini.

Selama masa promosi pembukaan hingga akhir Agustus 2026, Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980 menawarkan program beli lima gratis satu dan beli 10 gratis dua.

Untuk mengetahui informasi terkini mengenai Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980, dapat diakses melalui akun Instagram dan TikTok @tuanwen1980.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau