KOMPAS.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang memperpanjang masa penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga tahun depan.
Langkah tersebut dapat menjaga likuiditas perbankan sehingga ruang penyaluran kredit kepada sektor-sektor produktif tetap terjaga. Sebelumnya, sebagian dana SAL direncanakan akan ditarik pada akhir 2026.
SAL merupakan dana yang berasal dari sisa lebih pembiayaan anggaran dan digunakan pemerintah sebagai salah satu instrumen pengelolaan kas negara.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyambut positif kebijakan tersebut.
Instrumen pengelolaan kas negara seperti penempatan dana SAL, lanjutnya, punya peran penting dalam mendukung stabilitas sistem keuangan.
"Kebijakan tersebut memberikan dukungan likuiditas bagi industri perbankan sehingga bank dapat menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar Hery dalam siaran pers kepada Kompas.com, Kamis (6/8/2026).
Ia menambahkan, likuiditas yang memadai menjadi salah satu prasyarat agar perbankan dapat terus menyalurkan kredit secara sehat.
Kondisi tersebut juga memberikan ruang lebih besar bagi bank untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan dunia usaha tanpa mengabaikan kualitas aset ataupun manajemen risiko.
Fokus pada pembiayaan produktif
Hery menambahkan, dukungan likuiditas tersebut akan dioptimalkan untuk memperkuat penyaluran kredit berkualitas, terutama ke sektor riil dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memiliki dampak tinggi.
“Fokus kami tetap pada pembiayaan yang produktif sehingga mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) berupa peningkatan aktivitas usaha, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi masyarakat," kata Hery.
BRI sendiri merupakan bank dengan portofolio pembiayaan UMKM terbesar di Indonesia. Selain UMKM, BRI juga akan terus mengarahkan ekspansi kredit ke sektor penggerak utama perekonomian nasional, seperti pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan berbagai sektor produktif lain.
Hingga akhir triwulan I 2026, BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1.562 triliun. Sebanyak Rp 1.211 triliun atau sekitar 77,5 persen di antaranya disalurkan kepada segmen UMKM.
Fondasi penting pertumbuhan ekonomi nasional
Hery menyatakan, sinergi antara pemerintah dan industri perbankan merupakan fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.
Untuk itu, pihaknya akan terus mendukung berbagai kebijakan pemerintah yang bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan dan memperkuat kapasitas pembiayaan sektor riil.
“Melalui pengelolaan likuiditas yang prudent dan penyaluran kredit yang berkualitas, kami akan terus memperbesar kontribusi BRI sebagai agen pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas inklusi keuangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutur Hery.