KOMPAS.com – Kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) semakin banyak digunakan karena memiliki teknologi yang mampu menggabungkan efisiensi motor listrik dengan fleksibilitas mesin bensin.
Salah satu teknologi PHEV yang telah diperkenalkan di Indonesia adalah Intelligent Dual Mode (i-DM) milik JETOUR. Teknologi ini diterapkan pada JETOUR T1 i-DM dan JETOUR T2 i-DM.
Berbeda dengan sistem hybrid konvensional, i-DM mengatur kerja mesin bensin dan motor listrik secara otomatis sesuai kondisi berkendara. Tujuannya, menjaga efisiensi bahan bakar tanpa mengurangi performa, baik saat melintasi kemacetan perkotaan maupun ketika digunakan untuk perjalanan jarak jauh.
Product Senior Manager PT JETOUR Sales Indonesia Irwan Nugraha Kurnia mengatakan, karakter teknologi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pengguna yang berbeda.
Menurutnya, setiap konsumen memiliki preferensi berkendara yang berbeda. Ada yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan untuk mobilitas sehari-hari. Ada pula yang mencari performa lebih tinggi untuk perjalanan jarak jauh ataupun menjelajah berbagai medan.
“Oleh karena itu, Intelligent Dual Mode (i-DM) dihadirkan dengan karakter yang berbeda pada JETOUR T1 i-DM dan JETOUR T2 i-DM," ujar Irwan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (6/8/2026).
Mengapa T1 i-DM dan T2 i-DM berbeda?
Sistem i-DM mengombinasikan tiga komponen utama, yakni mesin 1.5 TGDI Dedicated Hybrid Engine, motor listrik, dan Dedicated Hybrid Transmission (DHT).
Ketiga komponen tersebut bekerja sebagai satu kesatuan untuk menentukan sumber tenaga yang paling efisien.
Dalam kondisi tertentu, kendaraan dapat bergerak sepenuhnya menggunakan motor listrik. Saat membutuhkan tenaga lebih besar, mesin bensin akan aktif membantu penggerak. Pada kondisi lain, keduanya bekerja secara bersamaan agar akselerasi tetap responsif sekaligus hemat energi.
Dengan mekanisme tersebut, pengemudi tidak perlu mengatur perpindahan mode secara manual karena seluruh proses dilakukan oleh sistem.
Meski menggunakan platform teknologi yang sama, JETOUR menerapkan konfigurasi berbeda pada kedua model.
JETOUR T2 i-DM dibekali dua motor listrik dan transmisi 3-Speed DHT untuk menghasilkan performa lebih tinggi, terutama ketika menghadapi tanjakan, membawa beban, atau digunakan pada berbagai kondisi jalan.
Sementara itu, JETOUR T1 i-DM menggunakan satu motor listrik dengan transmisi 1-Speed DHT yang lebih berorientasi pada kenyamanan dan efisiensi untuk mobilitas sehari-hari.
Atur penggunaan energi
Salah satu komponen utama i-DM adalah Hybrid Management System. Sistem ini bertugas memilih skenario kerja mesin dan motor listrik sesuai kondisi berkendara.
Pada T1 i-DM tersedia lima skenario hybrid, sedangkan T2 i-DM memiliki sembilan skenario hybrid.
Selain itu, pengemudi dapat memilih berbagai Driving Mode, Power Mode, dan Battery Level Mode sesuai karakter perjalanan yang diinginkan.
Product Trainer PT JETOUR Sales Indonesia Fatur Farhananda menambahkan, sistem tersebut dirancang agar efisiensi tetap terjaga, baik saat menghadapi kemacetan maupun ketika kendaraan melaju pada kecepatan tinggi.
Selain sistem penggerak hybrid, i-DM juga mendukung pengisian daya melalui AC Charging ataupun DC Fast Charging hingga 50 kW. Baterai diklaim dapat diisi dari 30 persen menjadi 80 persen dalam waktu sekitar 27 menit.
“Baterai juga dapat memperoleh tambahan daya melalui regenerative braking dan drive charging sehingga pengisian tidak sepenuhnya bergantung pada charger eksternal,” ucap Fatur.
Sebagai pelengkap, teknologi tersebut turut dibekali fitur Vehicle-to-Load (V2L) berkapasitas hingga 3,3 kW sehingga kendaraan dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik portabel untuk berbagai perangkat elektronik saat beraktivitas di luar ruangan.