Advertorial

Dari Kampus Dunia ke Perubahan Kota Jakarta, Ini Perjalanan Muhamad Kamaluddin Bangun Transportasi untuk Indonesia

Kompas.com - 10/08/2026, 18:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Setiap hari, lebih dari tiga juta orang bergegas memasuki stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Sebagian berjalan cepat mengejar kereta berikutnya, sebagian lagi berpindah ke Transjakarta atau Lintas Raya Terpadu (LRT) untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor.

Di tengah hiruk-pikuk itu, tak banyak orang menyadari bahwa kemudahan berpindah antarmoda yang kini mulai dinikmati masyarakat merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak orang, lintas institusi, dan bahkan lintas negara.

Salah satunya adalah Muhamad Kamaluddin, profesional di bidang transportasi berkelanjutan dan strategi korporat.

Bagi Kamal, transportasi publik tak pernah sekadar memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain.

Di balik rel kereta, halte bus, serta jalur pejalan kaki, ada kesempatan untuk menghadirkan kota yang lebih inklusif dan ramah lingkungan serta memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat.

Cara pandang itu tidak lahir begitu saja. Kamal ditempa melalui perjalanan hidup yang membawanya belajar di salah satu sekolah bisnis terbaik dunia, bekerja di industri energi global, hingga akhirnya memilih kembali ke Indonesia untuk ikut membangun sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi.

Bagi Kamal, keputusan mengambil kuliah master menjadi titik balik yang paling penting dalam perjalanan hidupnya.

"Saat itu saya tidak sedang mencari gelar. Saya sedang mencari kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri saya," ujar Kamal saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat (31/7/2026).

Keputusan tersebut ia ambil pada 2006. Kala itu ia meninggalkan pekerjaannya sebagai konsultan di Accenture untuk menempuh program Master of Business Administration (MBA) di London Business School, Inggris, dengan dukungan beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation (PSF).

Bagi Kamal, langkah tersebut bukan semata-mata untuk mengejar gelar akademik atau mempercantik riwayat hidup. Ia melihat pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk memperluas kapasitas diri serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang mampu menciptakan perubahan.

Ketika pendidikan menjadi titik balik

Sebelum berangkat ke London, Kamal lebih dulu meniti karier sebagai konsultan. Lulusan Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) itu kerap mendampingi perusahaan melakukan transformasi bisnis, mulai dari memperbaiki proses kerja hingga merancang strategi organisasi.

Meski kariernya berkembang, ia merasa ada ruang yang masih perlu diisi. Keinginan itu mendorongnya mencari berbagai peluang beasiswa.

Namun, menemukan program yang mampu mendukung pendidikan MBA di universitas kelas dunia bukan perkara mudah. Selain biaya kuliah yang tinggi, sebagian besar program beasiswa saat itu belum mencakup biaya hidup atau secara khusus mendukung studi MBA.

Bagi banyak orang, beasiswa mungkin dipandang sebatas bantuan biaya pendidikan. Namun, bagi Kamal, PSF membuka sesuatu yang jauh lebih besar, yakni pintu menuju pendidikan kelas dunia yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

"PSF adalah foundation lokal Indonesia, tetapi memiliki visi yang besar untuk mengembangkan talenta Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global. (Hal ini) yang membuat saya semakin tertarik. Mereka juga memiliki perhatian besar terhadap aspek sosial. Itu sejalan dengan visi pribadi saya," cerita Kamal.

Muhamad Kamaluddin, penerima beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation (PSF), berfoto di London Business School, Inggris, saat kelulusan. Dok. Istimewa Muhamad Kamaluddin, penerima beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation (PSF), berfoto di London Business School, Inggris, saat kelulusan.

Proses seleksinya pun tidak sederhana. Selain harus memenuhi persyaratan London Business School melalui esai, Graduate Management Admission Test (GMAT), IELTS, hingga wawancara dengan alumnus, Kamal juga mengikuti serangkaian seleksi di PSF yang tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.

"Yang saya ingat, penekanannya bukan hanya kemampuan akademik, melainkan juga attitude, kepemimpinan, dan bagaimana kita bekerja bersama orang lain," ujarnya.

Belajar memimpin, bukan sekadar bisnis

Nilai-nilai itu kembali dikuatkan kala Kamal resmi menyandang predikat mahasiswa pascasarjana di London Business School.

Di London, Kamal memilih untuk memaksimalkan setiap peluang yang terbuka. Ia belajar bersama mahasiswa dari berbagai negara, mengikuti program pertukaran ke University of Michigan di Amerika Serikat, menjalani magang di DHL Singapura, hingga memimpin berbagai proyek yang menuntut penyelesaian persoalan bisnis nyata.

"Leadership tidak hanya dipelajari dari teori, tetapi bagaimana kita mengaplikasikannya. Kami dituntut untuk bisa memimpin tim, menyatukan berbagai perspektif, lalu menghasilkan solusi yang benar-benar bisa dijalankan," ujarnya.

Kamal ingat betul, selama menempuh pendidikan, mahasiswa ditantang menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi perusahaan alih-alih hanya mempelajari teori manajemen di ruang kelas. Mereka didorong untuk bekerja dalam tim lintas negara, menganalisis masalah, lalu menyusun solusi yang dapat langsung diterapkan.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika timnya diminta membantu perusahaan teknologi Symbian untuk menghadapi persaingan ketat dengan Apple dan Android.

Pada saat yang sama, Putera Sampoerna Foundation juga membekalinya dengan pengalaman yang tak kalah penting. Melalui berbagai pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial, hingga jejaring alumnus yang terus terjaga, Kamal belajar bahwa pemimpin tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian terhadap masyarakat.

Hal lain yang hingga kini masih ia rasakan manfaatnya adalah jaringan yang terbentuk selama menjadi bagian dari Putera Sampoerna Foundation dan London Business School.

"Network itu sangat penting. Hubungan yang dibangun sejak masa kuliah terus berlanjut sampai sekarang. Kami saling berbagi pengetahuan, bertukar pengalaman, bahkan berkolaborasi dalam berbagai inisiatif profesional," tutur Kamal.

Baginya, pendidikan global bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk membawa pulang cara berpikir baru.

Kesempatan yang dibuka Putera Sampoerna Foundation kemudian menjadi awal dari perjalanan panjang yang membentuk dirinya sebagai pemimpin dengan perspektif global, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan Indonesia.

Visi itu pula yang kelak membawanya kembali ke Tanah Air untuk berkontribusi membangun transportasi publik yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pulang untuk membangun kota

Setelah menyelesaikan studi pada 2008, Kamal bergabung dengan Shell Indonesia sebagai Strategic Portfolio General Manager. Berbeda dengan pekerjaannya sebagai konsultan, kali ini ia berada di dalam organisasi dan bertanggung jawab langsung terhadap hasil bisnis.

Menurut Kamal, pengalaman dan pendidikan dari London Business School memberi bekal yang sangat memadai untuk menjalankan peran tersebut.

"Sebagai konsultan, saya memberikan rekomendasi (kepada business leader perusahaan). Namun, sebagai business leader, saya yang harus menjalankan keputusan itu dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Bagi saya, perpindahan dari independent advisor menjadi business leader adalah perubahan yang signifikan," ujarnya.

Kariernya kemudian berkembang hingga bekerja di Qatar selama hampir delapan tahun. Di sana, ia mengemban tugas sebagai Chief Executive Officer (CEO) Office Shell Qatar dan terlibat dalam berbagai proyek strategis di salah satu industri energi terbesar di dunia itu.

Bagi banyak orang, pengalaman internasional tersebut mungkin sudah menjadi puncak karier. Namun, tidak bagi Kamal. Ada satu pertanyaan yang terus muncul di benaknya. Apa manfaat semua pengalaman itu jika tidak kembali dibawa pulang ke Indonesia?

"Hati saya selalu di Indonesia," katanya singkat.

Keinginan itu sebenarnya telah lama tumbuh. Bahkan, ketika bekerja di Qatar, ia terus mengikuti perkembangan pembangunan di Indonesia, terutama di sektor energi, infrastruktur, dan transportasi.

Momentum tersebut pun datang pada 2017 ketika pembangunan MRT Jakarta memasuki tahap akhir sebelum beroperasi.

Di mata Kamal, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan moda transportasi baru. Ia melihatnya sebagai awal transformasi kota-kota di Indonesia.

"Saya melihat MRT Jakarta menjadi titik penting perubahan transportasi di Indonesia. Setelah puluhan tahun, kita belum memiliki transportasi massal modern, saya merasa inilah saat yang tepat untuk ikut berkontribusi," ucap Kamal mantap.

Keputusan itu juga bukan lompatan yang sepenuhnya baru. Saat masih bekerja di Shell, Kamal telah terlibat dalam berbagai pembahasan mengenai energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan.

Muhamad Kamaluddin, penerima beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation (PSF), bersama mahasiswa pascasarjana dari berbagai negara berfoto saat menempuh program MBA di London Business School, Inggris. Dok. Istimewa Muhamad Kamaluddin, penerima beasiswa dari Putera Sampoerna Foundation (PSF), bersama mahasiswa pascasarjana dari berbagai negara berfoto saat menempuh program MBA di London Business School, Inggris.

Oleh karena itu, ketika beralih ke sektor transportasi, ia merasa masih berjalan di jalur yang sama, yakni menghadirkan pembangunan yang memberikan manfaat ekonomi serta menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus.

"Bagi saya, pertumbuhan ekonomi dan sustainability tidak boleh dipertentangkan. Dua-duanya harus berjalan beriringan," tegas Kamal.

Ketika transportasi ubah cara orang jalani hidup

Berada di MRT Jakarta dan kemudian memimpin JakLingko Indonesia membuat Kamal melihat transportasi dari sudut pandang yang berbeda.

Menurutnya, ukuran keberhasilan sistem transportasi bukan sekadar jumlah armada, panjang jalur, atau investasi besar yang digelontorkan pemerintah.

Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan transportasi mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Sebagian waktu produktif masyarakat perkotaan habis untuk berpindah dari rumah menuju tempat beraktivitas. Kalau mobilitasnya semakin efisien, kualitas hidup masyarakat juga ikut meningkat," ujarnya.

Transportasi publik juga berperan besar dalam mengurangi emisi karbon, memperbaiki kualitas udara, serta menciptakan kota yang lebih inklusif.

Ia membayangkan, sebuah kota memiliki transportasi yang aman bagi perempuan. Penyandang disabilitas dapat bepergian tanpa hambatan, anak-anak memiliki akses yang mudah menuju sekolah, dan kelompok lanjut usia (lansia) tetap bisa beraktivitas secara mandiri.

"Itulah yang saya sebut sebagai kota layak huni," tambah Kamal.

Selama memimpin JakLingko, salah satu fokus utama Kamal adalah mendorong integrasi antarmoda. Dengan demikian, masyarakat dapat berpindah dari satu layanan transportasi ke layanan lain dengan lebih mudah.

Namun, ia menolak menganggap keberhasilan tersebut sebagai pencapaian pribadi.

"Saya tidak pernah mengklaim itu sebagai kontribusi pribadi. Semua merupakan hasil kerja bersama banyak tim, banyak stakeholder, dan banyak pengambil keputusan," imbuhnya.

Kini, melalui perannya sebagai Project Lead for Mobility di GIZ Indonesia, Kamal mendampingi pemerintah pusat dan daerah untuk mengembangkan transportasi berkelanjutan.

Targetnya tidak sekadar membangun sistem transportasi baru, tetapi memperkuat tata kelola, pendanaan, serta kapasitas pemerintah daerah agar transformasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Harapannya sederhana, transformasi transportasi di Jakarta dapat menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia.

Bawa pulang mindset baru

Belajar di Inggris, mengikuti program di Amerika Serikat, magang di Singapura, dan bekerja di Timur Tengah membuat Kamal melihat banyak praktik baik dari berbagai negara.

Menurutnya, Indonesia tidak perlu menyalin mentah-mentah apa yang dilakukan kota-kota di dunia. Hal terpenting adalah membawa pulang cara berpikir masyarakat di kota-kota maju itu.

Ia mencontohkan Transport for London yang membuka data transportasi kepada publik. Dengan begitu, perusahaan rintisan tersebut dapat berinovasi untuk mengembangkan berbagai aplikasi yang membantu masyarakat menggunakan transportasi umum secara lebih mudah.

"Mindset untuk terus mencari ruang inovasi itu yang menurut saya perlu terus didorong di Indonesia dan ini bisa kita dapatkan dengan menjadikan pendidikan sebagai fondasi," kata Kamal.

Indonesia, lanjut Kamal, memiliki peluang yang sangat besar karena masih berada pada fase membangun. Artinya, ruang untuk menghadirkan inovasi, memperluas jaringan transportasi publik, dan memperbaiki kualitas layanan masih terbuka lebar.

Meski telah mengemban berbagai jabatan strategis, Kamal tidak pernah mengukur kesuksesan dari posisi yang berhasil diraih.

Baginya, kesuksesan karier apabila tidak disertai dengan kesuksesan sosial tidak akan memberikan kepuasan personal yang menyeluruh.

“(Warisan penting justru) bukan jaringan MRT, integrasi transportasi, atau gedung dan infrastruktur yang berdiri kokoh. Warisan knowledge lebih penting daripada warisan infrastruktur," katanya.

Menurut Kamal, infrastruktur memang menjadi fondasi pembangunan. Namun, tanpa pengetahuan, kapasitas manusia, dan perubahan perilaku masyarakat, pembangunan tidak akan bertahan lama.

Di penghujung perbincangan, Kamal kembali menegaskan bahwa seluruh perjalanan hidupnya berawal dari satu keputusan untuk terus belajar.

“Pendidikan adalah kunci utama untuk mencapai kesuksesan karena tantangan masa depan akan semakin kompleks dan penuh ketidakpastian," tutur Kamal.

Oleh karena itu, ia berharap, semakin banyak anak muda Indonesia berani bermimpi menempuh pendidikan terbaik, memanfaatkan berbagai peluang beasiswa, dan kembali membawa pulang pengetahuan untuk menjawab tantangan bangsa.

Setiap hari, jutaan orang mungkin tidak pernah mengenal nama Muhamad Kamaluddin ketika berpindah dari MRT ke Transjakarta.

Namun, di balik perjalanan mereka, terdapat perjalanan lain yang dimulai bertahun-tahun lalu, yakni perjalanan seorang anak Indonesia yang diberi kesempatan belajar, kembali ke Tanah Air, dan memilih membangun masa depan bangsanya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau