Advertorial

UM Libatkan Mahasiswa Baru Tanam 2.000 Sansevieria di Kampus

Kompas.com - 13/08/2026, 10:17 WIB

KOMPAS.com - Universitas Negeri Malang (UM) menanam sekitar 2.000 bibit Sansevieria atau lidah mertua dengan melibatkan mahasiswa baru dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 pada Selasa (11/8/2026).

Aksi tersebut tidak sekadar ditujukan untuk menambah ruang hijau di lingkungan kampus. Melalui program Green Campus, UM juga menjadikan momentum awal mahasiswa memasuki kehidupan akademik sebagai ruang untuk mengenalkan kesadaran ekologis dan kebiasaan menjaga lingkungan.

Langkah tersebut dilakukan di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi, suhu global pada 2026-2030 akan bertahan atau mendekati rekor tertinggi.

WMO juga memperkirakan, setidaknya satu tahun dalam periode tersebut, suhu bumi bakal melampaui rekor tahun terpanas pada 2024 yang melewati ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celcius. Dalam perhitungan WMO, peluang kondisi tersebut mencapai 86 persen.

Di Indonesia, dampak perubahan iklim turut terlihat melalui berbagai kejadian cuaca ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, perubahan iklim tidak lagi sekadar menjadi ancaman masa depan. Fenomena tersebut telah berdampak terhadap kehidupan masyarakat, salah satunya melalui peningkatan intensitas hujan ekstrem.

Kondisi itu mendorong UM untuk melakukan aksi penghijauan yang bukan sekadar kegiatan seremonial. Untuk itu, mahasiswa baru dilibatkan secara langsung agar persoalan lingkungan dapat dikenalkan melalui tindakan yang mereka lakukan bersama.

Tanam kesadaran ekologis sejak PKKMB

Rektor UM Prof Dr Hariyono, MPd mengatakan, program Green Campus menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk mencermati kondisi lingkungan di tengah perubahan iklim yang semakin terasa.

“Program Green Campus mengajak kita untuk mempertanyakan dan mencermati keadaan lingkungan sekitar. Belakangan, fenomena perubahan iklim begitu terasa karena berbagai faktor,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (12/8/2026).

Menurut Hariyono, penanaman Sansevieria menjadi salah satu bentuk tindakan nyata yang dapat dilakukan di lingkungan kampus.

Kegiatan menanam bibit Sansevieria atau lidah mertua dalam rangkaian PKKMB 2026 di lingkungan kampus Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Green Campus UM yang melibatkan mahasiswa secara langsung dalam aksi penghijauan.Dok. Universitas Negeri Malang Kegiatan menanam bibit Sansevieria atau lidah mertua dalam rangkaian PKKMB 2026 di lingkungan kampus Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Green Campus UM yang melibatkan mahasiswa secara langsung dalam aksi penghijauan.

Ketua Green Campus UM Prof Dr Sumarmi MPd mengatakan, kegiatan tersebut tidak berhenti pada penambahan tanaman di kawasan kampus. Penanaman Sansevieria juga dirancang sebagai sarana membangun kesadaran ekologis mahasiswa baru.

“Melalui penanaman Sansevieria, kami berharap dapat membantu menyediakan oksigen secara berkelanjutan bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penanaman secara simbolis oleh jajaran pimpinan UM di taman Gedung Fakultas Ilmu Kedokteran (FIK).

Setelah itu, mahasiswa baru terlibat langsung menanam Sansevieria di sepanjang Jalan Cakrawala.

Koordinator Lapangan Green Campus PKKMB UM 2026 Salsa Nurpahid Hubaidillah menambahkan, Sansevieria dipilih karena relatif mudah dirawat dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan.

Keterlibatan mahasiswa baru menjadi salah satu pembeda pelaksanaan Green Campus tahun ini.

Jika sebelumnya penghijauan lebih banyak dipahami sebagai program lingkungan kampus, pada PKKMB 2026, mahasiswa baru ditempatkan sebagai pelaku langsung.

Dari 2.000 bibit hingga kebiasaan sehari-hari

Sekitar 2.000 bibit Sansevieria selanjutnya dialokasikan ke berbagai gedung fakultas di lingkungan UM.

Penanaman tersebut diharapkan dapat memperluas ruang hijau serta menciptakan lingkungan kampus yang lebih asri dan nyaman.

Namun, bagi UM, tujuan kegiatan tidak berhenti pada jumlah tanaman yang berhasil ditanam.

Lebih dari itu, penghijauan melalui PKKMB diharapkan menjadi titik awal pembentukan kebiasaan ekologis mahasiswa.

Pesan yang ingin dibangun adalah menjaga lingkungan agar tidak berhenti ketika kegiatan PKKMB berakhir, tetapi berlanjut melalui perilaku sehari-hari di lingkungan kampus.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen UM terhadap pembangunan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai agenda global untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Aksi penghijauan dan edukasi ekologis UM berkaitan dengan SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.

Dengan demikian, ribuan Sansevieria yang ditanam mahasiswa baru tidak hanya menjadi tambahan tanaman di lingkungan kampus.

Di tengah proyeksi suhu global yang masih tinggi dalam beberapa tahun mendatang, UM menjadikan kampus sebagai ruang belajar untuk merespons perubahan iklim yang dimulai dari tindakan sederhana secara bersama-sama.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau