KOMPAS.com - Arah layar penonton berubah lebih cepat dibandingkan desain kamera. Sebagian besar konten di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini dikonsumsi dalam format vertikal.
Sementara itu, mayoritas kamera mirrorless yang beredar masih dirancang dengan asumsi bahwa hasil rekaman akan ditonton secara horizontal.
Akibatnya, kreator yang ingin merekam video secara vertikal harus menambah sejumlah langkah, seperti memasang aksesori dudukan tambahan berupa L-bracket, memutar hasil rekaman secara manual, atau memotong ulang komposisi gambar pada tahap pascaproduksi.
Canon EOS R50 V, kamera mirrorless APS-C yang dirancang untuk content creator modern, menempatkan format vertikal sebagai salah satu orientasi normal kamera.
Kamera tersebut dipasarkan melalui Official Store Canon Indonesia di Shopee.
Canon Business Unit Director PT Datascrip Monica Aryasetiawan mengatakan bahwa perubahan cara berpikir mengenai orientasi video menjadi salah satu dasar dalam desain EOS R50 V.
"Perubahan terbesar beberapa tahun terakhir bukan pada resolusi, melainkan pada arah layar penonton. Ketika hampir semua konten dikonsumsi secara vertikal, kamera yang masih menganggap vertikal sebagai kasus khusus akan selalu menyulitkan kreatornya. Di EOS R50 V, posisi vertikal kami perlakukan sebagai posisi normal," ujar Monica dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com pada Rabu (12/8/2026).
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui Vertical Tripod Mount yang terpasang langsung pada bodi kamera.
Berbeda dari kamera lain yang membutuhkan aksesori dudukan tambahan agar dapat dipasang dalam posisi vertikal, EOS R50 V sudah memiliki dudukan tersebut sejak dari pabrik.
Dengan demikian, kreator dapat langsung memosisikan kamera secara vertikal pada tripod tanpa perlu membeli atau memasang aksesori tambahan.
Ketika bodi kamera diposisikan secara vertikal, tampilan antarmuka pada layar juga berputar mengikuti orientasi tersebut.
Pengaturan menu, informasi pada layar, hingga hasil rekaman dapat langsung tersaji dalam format vertikal sesuai kebutuhan TikTok dan Instagram Reels. Kreator tidak perlu memutar ulang atau memotong kembali komposisi gambar pada tahap pascaproduksi.
Kemudahan dalam pengambilan gambar vertikal tersebut turut didukung oleh sistem autofocus Dual Pixel CMOS AF II yang memberikan fokus cepat dan akurat dengan cakupan hingga 100 persen.
Bagi kreator yang merekam seorang diri dalam posisi vertikal, seperti yang umum dilakukan untuk konten TikTok maupun Reels, sistem tersebut dapat mengikuti pergerakan subjek secara responsif tanpa memerlukan penyesuaian fokus secara manual.
Canon EOS R50 V ditampilkan dalam posisi vertikal. Kamera mirrorless APS-C ini dirancang untuk memudahkan kreator membuat konten dalam format vertikal.Dari sisi tampilan gambar, EOS R50 V menghasilkan warna kulit yang halus dan natural langsung dari kamera. Kemampuan tersebut didukung reproduksi warna yang dirancang Canon untuk menonjolkan rona kulit secara alami.
Kamera ini juga menyediakan 14 pilihan filter warna bawaan yang dapat diterapkan langsung saat merekam. Dengan demikian, footage vertikal yang dihasilkan sudah memiliki karakter visual tanpa memerlukan proses color grading tambahan.
Orientasi vertikal juga tetap berlaku ketika kamera digunakan untuk melakukan siaran langsung.
Melalui satu kabel USB-C ke laptop, EOS R50 V dapat digunakan untuk livestream sekaligus memperoleh pasokan daya langsung melalui koneksi USB selama siaran berlangsung.
Dengan kombinasi tersebut, kreator tidak memerlukan dummy battery maupun capture card. Fitur ini relevan bagi kreator yang menggelar sesi TikTok LIVE atau Instagram Live dalam orientasi vertikal.
PT Datascrip selaku distributor tunggal produk pencitraan digital Canon di Indonesia memasarkan EOS R50 V dengan harga Rp 12.300.000 untuk versi body only.
Setiap unit yang dibeli melalui kanal resmi juga mendapatkan garansi resmi selama dua tahun untuk kamera maupun lensa.
Informasi lengkap mengenai produk tersedia di situs resmi Canon Indonesia.
Menurut Datascrip, pendekatan desain yang mengutamakan format vertikal tersebut mencerminkan upaya mengikuti cara kerja kreator masa kini, bukan meminta kreator menyesuaikan diri dengan keterbatasan alat yang digunakan.