Advertorial

BRI Salurkan KUR Rp 103,81 Triliun hingga Juni 2026, Dorong UMKM Naik Kelas

Kompas.com - 13/08/2026, 17:42 WIB

KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memperkuat dukungannya terhadap pemberdayaan UMKM melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 103,81 triliun kepada 2 juta debitur di berbagai wilayah Indonesia.

Penyaluran tersebut menjadi bagian dari Upaya BRI dalam memperluas akses pembiayaan yang inklusif bagi UMKM, sekaligus mendorong sektor tersebut sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional.

Penyaluran KUR tersebut didominasi oleh sektor-sektor produktif. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan porsi 42,68 persen dari total penyaluran, disusul sektor perdagangan sebesar 32,34 persen. Secara keseluruhan, penyaluran KUR BRI mencakup sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Perkuat sektor produktif

Akses pembiayaan yang diperoleh pelaku UMKM tidak hanya mendukung keberlanjutan usaha, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk mengembangkan bisnis. Dengan dukungan modal tersebut, pelaku UMKM dapat memperluas skala usaha sekaligus memperkuat kondisi keuangan mereka.

Aktivitas petani di area persawahan. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor produktif yang mendapatkan penyaluran KUR BRI Dok. BRI Aktivitas petani di area persawahan. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor produktif yang mendapatkan penyaluran KUR BRI

KUR menjadi salah satu instrumen yang digunakan BRI untuk meningkatkan daya saing UMKM. Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, penyaluran KUR diarahkan pada sektor-sektor produktif sebagai bagian dari peran BRI dalam ekosistem Danantara.

Menurut Akhmad, pembiayaan tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, memperkuat ketahanan pangan, mendorong kewirausahaan, dan memperluas pemerataan ekonomi di berbagai daerah melalui pemberdayaan pelaku usaha.

“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, melainakan bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif, khususnya pertanian, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat basis ekonomi daerah dan mendukung agenda ketahanan pangan nasional. Melalui akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran, UMKM dan pelaku usaha dapat tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional,” ujar Akhmad dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (13/8/2026) 

Dorong UMKM naik kelas

Upaya mendorong UMKM untuk berkembang juga terlihat dari capaian graduasi debitur KUR BRI. Graduasi menunjukkan bahwa pelaku usaha yang sebelumnya menggunakan pembiayaan KUR telah berkembang hingga mampu mengakses pembiayaan komersial.

Aktivitas jual beli hasil pertanian dan kebutuhan pangan melalui perahu di Kawasan perairan. Perdagangan menjadi salah satu sektor penerima penyaluran KUR BRI. Dok. BRI Aktivitas jual beli hasil pertanian dan kebutuhan pangan melalui perahu di Kawasan perairan. Perdagangan menjadi salah satu sektor penerima penyaluran KUR BRI.

Hingga Juni 2026, sebanyak 487.000 debitur KUR telah mengalami graduasi. Jumlah tersebut setara dengan 50,71 persen dari target graduasi BRI pada 2026 yang mencapai 962.000 debitur. Capaian ini menunjukkan bahwa penyaluran KUR BRI tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga mendukung peningkatan skala usaha secara berkelanjutan.

Dukung ekosistem perumahan

BRI juga menyalurkan Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR Perumahan untuk mendukung ekosistem penyediaan hunian. Hingga Juni 2026, realisasi penyaluran KPP BRI mencapai Rp 10,7 triliun atau 89 persen dari target sebesar Rp 12 triliun.

Pembiayaan KPP mencakup pelaku usaha yang bergerak di sisi penyediaan hunian serta masyarakat dari sisi permintaan. Penyaluran tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas sektor perumahan sekaligus memberikan dampak aktivitas usaha dan penyerapan tenaga kerja. 

Akhmad menjelaskan, BRI tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran KUR dengan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas kredit karena dana KUR sepenuhnya berasal dari perbankan yang dihimpun dari masyarakat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau