KOMPAS.com — Berangkat dari tekad untuk memulihkan denyut perekonomian dan kualitas kesehatan warga pascakonflik sosial, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) menerjunkan tim akademisinya ke Negeri Kariu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.
Sebelumnya, UKIM telah menetapkan Negeri Kariu sebagai desa binaan sejak 2024 berkat potensi sumber daya lokal yang dapat dikembangkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Namun, dampak konflik sosial yang pernah terjadi masih memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, sehingga kemandirian kelompok masyarakat belum sepenuhnya optimal.
Merespons hal tersebut, UKIM menjalankan program Pemberdayaan Desa Binaan dengan judul “Pemberdayaan Potensi Kelompok Nelayan dan Kader Posyandu untuk Meningkatkan Kemandirian Ekonomi dan Pengendalian Stunting”.
Program itu terlaksana dengan sumber pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) tahun 2026 melalui Skema Pemberdayaan Desa Binaan.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Devita Madiuw menyampaikan, kegiatan pada 2026 merupakan tahun perdana dari program yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan selama tiga tahun.
Pada tahun pertama, program difokuskan pada penguatan kapasitas masyarakat, peningkatan pengetahuan dan keterampilan kelompok mitra, serta persiapan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pengendalian stunting di Negeri Kariu.
Devita berharap, program tersebut dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya sehingga hasil yang telah dibangun pada tahun pertama tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja
“Kami harap, program ini berkembang menjadi kegiatan yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat Negeri Kariu,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (17/8/2026).
Devita juga berharap, apabila didanai kembali, keberlanjutan program pada tahun kedua dan ketiga dapat memperkuat kemandirian kelompok mitra, meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya lokal, serta memperluas dampak kegiatan bagi masyarakat Negeri Kariu.
Inovasi untuk Negeri Kariu
Program Pemberdayaan Desa Binaan di Negeri Kariu melibatkan dua kelompok mitra sasaran, yaitu Kelompok Nelayan Negeri Kariu sebagai mitra pertama dan kader Posyandu Negeri Kariu sebagai mitra kedua.
Pemilihan kedua kelompok mitra tersebut didasarkan pada potensi dan kebutuhan masyarakat Negeri Kariu, khususnya dalam penguatan ekonomi masyarakat pascakonflik.
Untuk itu, kegiatan dilakukan melalui pemanfaatan sumber daya perikanan, serta peningkatan kapasitas kader dalam mendukung upaya pengendalian stunting.
Rangkaian kegiatan diawali dengan focus group discussion (FGD) sebagai tahap awal untuk melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah (pemda) dan kelompok mitra.
FGD juga mengidentifikasi kebutuhan, menyusun rencana kegiatan, serta menyepakati bentuk intervensi yang akan dilaksanakan selama program berlangsung.
Pada Mitra Kelompok Nelayan, tim PkM melaksanakan sosialisasi entrepreneurship sebagai upaya meningkatkan wawasan dan motivasi masyarakat dalam mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi peluang ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Selain itu, Mitra Kelompok Nelayan juga diajarkan pengolahan ikan asap cair sebagai produk inovatif dari kelompok, termasuk menjual ikan hasil tangkapan.
Untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi Kelompok Nelayan, tim PkM merancang Rumpon Solar Cell sebagai teknologi pendukung kegiatan penangkapan ikan.
Teknologi itu diharapkan dapat membantu nelayan dalam meningkatkan efektivitas kegiatan penangkapan ikan dengan memanfaatkan energi terbarukan.
Untuk Mitra Kader Posyandu, UKIM melaksanakan Pelatihan Deteksi Dini Stunting bagi para kader posyandu.
Pelatihan itu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam mengenali faktor risiko pada ibu hamil dan tanda-tanda stunting serta mendukung pemantauan pertumbuhan dan status gizi balita di Negeri Kariu.
Kegiatan dilanjutkan dengan Pelatihan Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal.
Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan kader posyandu dalam memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi bagi balita.
Apresiasi dari pemda
Penjabat (Pj) Kepala Pemerintahan Negeri Kariu Stevi Pattirajawane mengapresiasi dan tim PkM yang telah hadir dan melaksanakan berbagai kegiatan pemberdayaan di Negeri Kariu.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada tim PkM dari UKIM yang telah melakukan kegiatan yang sangat membantu Kelompok Nelayan dan Kader Posyandu di Negeri Kariu,” ujarnya.
Stevi mengatakan, kegiatan tersebut sangat berarti bagi masyarakat, terutama dalam membantu kelompok nelayan untuk bangkit dan mengembangkan kembali potensi ekonomi masyarakat setelah mengalami keterpurukan akibat konflik sosial.
“Program UKIM juga membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendukung pemenuhan gizi balita dan pengendalian stunting,” ungkapnya.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemda, kelompok nelayan, dan kader posyandu diharapkan dapat terus diperkuat sehingga program pemberdayaan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan dan pembangunan masyarakat Negeri Kariu secara berkelanjutan.
Adapun Tim PkM diketuai Devita Madiuw dengan anggota tim Mozes D Istia, dan Hennie Tuhuteru dari UKIM, serta Cindy Regina M Loppies dari Universitas Pattimura (UNPATTI).
Tim PkM mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XII, Universitas Kristen Indonesia Maluku, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Negeri Kariu atas dukungan dalam terlaksananya rangkaian kegiatan Pemberdayaan Desa Binaan tahun 2026.
Program itu diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kembali kekuatan ekonomi dan ketahanan masyarakat Negeri Kariu melalui pengembangan potensi lokal, penguatan kelompok masyarakat, peningkatan kapasitas kader kesehatan, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kepulauan.