Advertorial

Bangkitkan Ekonomi Negeri Kariu Pascakonflik, UKIM Racik Teknologi Solar Cell dan Olahan Ikan

Kompas.com - 17/08/2026, 17:09 WIB

KOMPAS.com — Berangkat dari tekad untuk memulihkan denyut perekonomian dan kualitas kesehatan warga pascakonflik sosial, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) menerjunkan tim akademisinya ke Negeri Kariu, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

Sebelumnya, UKIM telah menetapkan Negeri Kariu sebagai desa binaan sejak 2024 berkat potensi sumber daya lokal yang dapat dikembangkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Namun, dampak konflik sosial yang pernah terjadi masih memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, sehingga kemandirian kelompok masyarakat belum sepenuhnya optimal.

Merespons hal tersebut, UKIM menjalankan program Pemberdayaan Desa Binaan dengan judul “Pemberdayaan Potensi Kelompok Nelayan dan Kader Posyandu untuk Meningkatkan Kemandirian Ekonomi dan Pengendalian Stunting”.

Program itu terlaksana dengan sumber pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) tahun 2026 melalui Skema Pemberdayaan Desa Binaan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Devita Madiuw menyampaikan, kegiatan pada 2026 merupakan tahun perdana dari program yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan selama tiga tahun.

Pada tahun pertama, program difokuskan pada penguatan kapasitas masyarakat, peningkatan pengetahuan dan keterampilan kelompok mitra, serta persiapan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pengendalian stunting di Negeri Kariu.

Devita berharap, program tersebut dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya sehingga hasil yang telah dibangun pada tahun pertama tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja

“Kami harap, program ini berkembang menjadi kegiatan yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat Negeri Kariu,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (17/8/2026).

Devita juga berharap, apabila didanai kembali, keberlanjutan program pada tahun kedua dan ketiga dapat memperkuat kemandirian kelompok mitra, meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya lokal, serta memperluas dampak kegiatan bagi masyarakat Negeri Kariu.

Inovasi untuk Negeri Kariu

Program Pemberdayaan Desa Binaan di Negeri Kariu melibatkan dua kelompok mitra sasaran, yaitu Kelompok Nelayan Negeri Kariu sebagai mitra pertama dan kader Posyandu Negeri Kariu sebagai mitra kedua.

Pemilihan kedua kelompok mitra tersebut didasarkan pada potensi dan kebutuhan masyarakat Negeri Kariu, khususnya dalam penguatan ekonomi masyarakat pascakonflik.

Untuk itu, kegiatan dilakukan melalui pemanfaatan sumber daya perikanan, serta peningkatan kapasitas kader dalam mendukung upaya pengendalian stunting.

Rangkaian kegiatan diawali dengan focus group discussion (FGD) sebagai tahap awal untuk melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah (pemda) dan kelompok mitra.

FGD juga mengidentifikasi kebutuhan, menyusun rencana kegiatan, serta menyepakati bentuk intervensi yang akan dilaksanakan selama program berlangsung.

Pada Mitra Kelompok Nelayan, tim PkM melaksanakan sosialisasi entrepreneurship sebagai upaya meningkatkan wawasan dan motivasi masyarakat dalam mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi peluang ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Selain itu, Mitra Kelompok Nelayan juga diajarkan pengolahan ikan asap cair sebagai produk inovatif dari kelompok, termasuk menjual ikan hasil tangkapan.

Untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi Kelompok Nelayan, tim PkM merancang Rumpon Solar Cell sebagai teknologi pendukung kegiatan penangkapan ikan.

Teknologi itu diharapkan dapat membantu nelayan dalam meningkatkan efektivitas kegiatan penangkapan ikan dengan memanfaatkan energi terbarukan.

Untuk Mitra Kader Posyandu, UKIM melaksanakan Pelatihan Deteksi Dini Stunting bagi para kader posyandu.

Pelatihan itu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam mengenali faktor risiko pada ibu hamil dan tanda-tanda stunting serta mendukung pemantauan pertumbuhan dan status gizi balita di Negeri Kariu.

Kegiatan dilanjutkan dengan Pelatihan Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal.

Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan kader posyandu dalam memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi bagi balita.

Apresiasi dari pemda

Penjabat (Pj) Kepala Pemerintahan Negeri Kariu Stevi Pattirajawane mengapresiasi dan tim PkM yang telah hadir dan melaksanakan berbagai kegiatan pemberdayaan di Negeri Kariu.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada tim PkM dari UKIM yang telah melakukan kegiatan yang sangat membantu Kelompok Nelayan dan Kader Posyandu di Negeri Kariu,” ujarnya.

Stevi mengatakan, kegiatan tersebut sangat berarti bagi masyarakat, terutama dalam membantu kelompok nelayan untuk bangkit dan mengembangkan kembali potensi ekonomi masyarakat setelah mengalami keterpurukan akibat konflik sosial.

“Program UKIM juga membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendukung pemenuhan gizi balita dan pengendalian stunting,” ungkapnya.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemda, kelompok nelayan, dan kader posyandu diharapkan dapat terus diperkuat sehingga program pemberdayaan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan dan pembangunan masyarakat Negeri Kariu secara berkelanjutan.

Adapun Tim PkM diketuai Devita Madiuw dengan anggota tim Mozes D Istia, dan Hennie Tuhuteru dari UKIM, serta Cindy Regina M Loppies dari Universitas Pattimura (UNPATTI).

Tim PkM mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XII, Universitas Kristen Indonesia Maluku, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Negeri Kariu atas dukungan dalam terlaksananya rangkaian kegiatan Pemberdayaan Desa Binaan tahun 2026.

Program itu diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kembali kekuatan ekonomi dan ketahanan masyarakat Negeri Kariu melalui pengembangan potensi lokal, penguatan kelompok masyarakat, peningkatan kapasitas kader kesehatan, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kepulauan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau