Advertorial

Limbah Jeroan Ikan di Banjar Diolah Jadi Pakan Itik Berbasis Ekonomi Sirkular

Kompas.com - 19/08/2026, 10:20 WIB

KOMPAS.com — Limbah jeroan ikan yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan mulai dikembangkan menjadi sumber daya bernilai ekonomi di Desa Sungai Bangkal, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis Pemberdayaan Wilayah, limbah dari aktivitas pengolahan ikan sepat kering dimanfaatkan sebagai bahan alternatif untuk mendukung kebutuhan pakan peternakan itik.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan desa binaan melalui penerapan ekonomi sirkular.

Pendekatan itu mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim dari Universitas Sari Mulia yang diketuai Nur Hidayah, MT.

Dalam pelaksanaannya, Nur Hidayah didampingi Muhammad Zulfadhilah, MKom, dan Nadya Novianty, SE, MSA, Ak.

Tim juga berkolaborasi dengan Dr Muhammad Syarif Djaya, SPt, MP, dari Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari.

Pelaksanaan kegiatan tersebut didukung Hibah BIMA Kemendikti Saintek dengan Nomor Kontrak 214/C3/DT.05.00/PM/2026.

Hubungkan UMKM ikan dan peternakan itik

Desa Sungai Bangkal memiliki potensi ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan pengolahan hasil perikanan dan peternakan.

Salah satu kegiatan yang berkembang di desa tersebut adalah usaha pengolahan ikan sepat menjadi ikan sepat kering.

Dalam proses produksinya, terdapat bagian ikan yang biasanya tidak dimanfaatkan, terutama jeroan.

Jika tidak dikelola dengan tepat, limbah organik tersebut dapat menimbulkan bau dan mengganggu kebersihan lingkungan.

Di sisi lain, peternakan itik membutuhkan pakan sebagai salah satu komponen utama biaya produksi.

Kondisi tersebut membuka peluang untuk menghubungkan dua aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu sistem ekonomi sirkular.

Melalui kegiatan pemberdayaan itu, limbah dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pengolahan ikan diarahkan agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pendukung pakan peternakan itik.

Pola pemanfaatannya dimulai dari pengumpulan limbah jeroan hasil produksi ikan sepat kering.

Limbah tersebut kemudian dikelola dan diproses menjadi bahan yang dapat digunakan dalam formulasi pakan.

Dengan cara itu, peternak itik memperoleh alternatif bahan pakan yang bersumber dari potensi lokal.

Pada saat yang sama, lingkungan desa mendapat manfaat melalui pengurangan limbah organik.

Model tersebut juga membuka hubungan ekonomi baru antara sektor pengolahan ikan dan peternakan.

Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Berbasis potensi lokal

Ketua pelaksana kegiatan Nur Hidayah menjelaskan, pendekatan pemberdayaan berbasis wilayah menempatkan potensi dan persoalan masyarakat sebagai dasar dalam menentukan solusi.

Pengolahan limbah jeroan ikan dipilih karena berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat Desa Sungai Bangkal.

Sementara itu, keberadaan peternakan itik membuka peluang pemanfaatan hasil samping tersebut dalam rantai produksi yang berbeda.

Pendekatan itu diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat bahwa limbah dari satu kegiatan usaha dapat menjadi sumber daya bagi kegiatan usaha lainnya.

Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan limbah hasil pengolahan ikan.

Kegiatan tersebut pun turut mendukung peningkatan kapasitas UMKM dalam mengelola hasil samping produksi.

Dari sisi peternakan, program tersebut mendorong pengembangan alternatif bahan pakan berbasis sumber daya lokal serta penguatan kapasitas kelompok peternak itik.

Kegiatan itu juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan.

Dalam jangka panjang, model tersebut diarahkan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang dapat dijalankan secara berkelanjutan di tingkat desa.

Dari limbah menjadi peluang ekonomi

Penerapan ekonomi sirkular memberikan cara pandang baru terhadap hubungan antara usaha perikanan dan peternakan.

Limbah jeroan ikan yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan kini diarahkan menjadi bahan yang memiliki nilai guna.

Bagi pelaku UMKM, pengelolaan limbah dapat membantu menciptakan proses produksi yang lebih ramah lingkungan.

Sementara bagi peternak itik, pemanfaatan bahan lokal berpotensi menjadi salah satu strategi untuk mendukung ketersediaan pakan.

Meski demikian, pemanfaatan jeroan ikan sebagai bahan pakan tetap perlu memperhatikan sejumlah aspek.

Beberapa di antaranya adalah keamanan, kebersihan, kandungan nutrisi, proses pengolahan, serta penyimpanan.

Karena itu, pendampingan dari perguruan tinggi menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara tepat.

Kolaborasi lintas perguruan tinggi

Kegiatan tersebut juga menjadi contoh kolaborasi antarkampus dalam mendukung pemberdayaan masyarakat.

Tim dari Universitas Sari Mulia berkolaborasi dengan Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari untuk memberikan pendampingan yang mengintegrasikan aspek teknologi, manajemen, ekonomi, dan peternakan.

Keterlibatan lintas disiplin tersebut diharapkan dapat memperkuat penyelesaian persoalan masyarakat secara lebih komprehensif.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah, tetapi juga pada penguatan kapasitas pelaku usaha dan keberlanjutan model ekonomi yang dikembangkan.

Dukungan Hibah BIMA Kemendikti Saintek melalui Kontrak Nomor 214/C3/DT.05.00/PM/2026 menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pengembangan inovasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi wilayah.

Bangun ekosistem ekonomi sirkular desa

Pemanfaatan limbah jeroan ikan untuk mendukung kebutuhan pakan peternakan itik menunjukkan bahwa ekonomi sirkular dapat dimulai dari potensi yang tersedia di sekitar masyarakat.

Model tersebut memperlihatkan hubungan antara beberapa aktivitas ekonomi dalam satu rantai nilai.

UMKM pengolahan ikan menghasilkan limbah, limbah diolah kembali menjadi bahan bernilai guna, lalu hasil pengolahan dimanfaatkan untuk mendukung sektor peternakan.

Ke depan, model tersebut mulai dikembangkan melalui penguatan kelembagaan kelompok, standardisasi proses pengolahan, pengujian kualitas bahan pakan, pencatatan efisiensi ekonomi, serta pengembangan jejaring usaha antarkelompok masyarakat.

Dengan demikian, Pengabdian kepada Masyarakat melalui Pemberdayaan Berbasis Wilayah tidak berhenti pada pemberian teknologi atau pelatihan.

Program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi desa yang mampu memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien.

Desa Sungai Bangkal menunjukkan bahwa persoalan limbah dapat diubah menjadi peluang.

Ketika UMKM, peternak, masyarakat, perguruan tinggi, dan pemerintah desa bergerak dalam satu ekosistem, limbah tidak lagi sekadar sisa produksi.

Limbah dapat menjadi bagian dari solusi untuk membangun ekonomi desa yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau