KOMPAS.com — Limbah jeroan ikan yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan mulai dikembangkan menjadi sumber daya bernilai ekonomi di Desa Sungai Bangkal, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis Pemberdayaan Wilayah, limbah dari aktivitas pengolahan ikan sepat kering dimanfaatkan sebagai bahan alternatif untuk mendukung kebutuhan pakan peternakan itik.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan desa binaan melalui penerapan ekonomi sirkular.
Pendekatan itu mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar tidak langsung berakhir sebagai limbah.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim dari Universitas Sari Mulia yang diketuai Nur Hidayah, MT.
Dalam pelaksanaannya, Nur Hidayah didampingi Muhammad Zulfadhilah, MKom, dan Nadya Novianty, SE, MSA, Ak.
Tim juga berkolaborasi dengan Dr Muhammad Syarif Djaya, SPt, MP, dari Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari.
Pelaksanaan kegiatan tersebut didukung Hibah BIMA Kemendikti Saintek dengan Nomor Kontrak 214/C3/DT.05.00/PM/2026.
Desa Sungai Bangkal memiliki potensi ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan pengolahan hasil perikanan dan peternakan.
Salah satu kegiatan yang berkembang di desa tersebut adalah usaha pengolahan ikan sepat menjadi ikan sepat kering.
Dalam proses produksinya, terdapat bagian ikan yang biasanya tidak dimanfaatkan, terutama jeroan.
Jika tidak dikelola dengan tepat, limbah organik tersebut dapat menimbulkan bau dan mengganggu kebersihan lingkungan.
Di sisi lain, peternakan itik membutuhkan pakan sebagai salah satu komponen utama biaya produksi.
Kondisi tersebut membuka peluang untuk menghubungkan dua aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu sistem ekonomi sirkular.
Melalui kegiatan pemberdayaan itu, limbah dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pengolahan ikan diarahkan agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pendukung pakan peternakan itik.
Pola pemanfaatannya dimulai dari pengumpulan limbah jeroan hasil produksi ikan sepat kering.
Limbah tersebut kemudian dikelola dan diproses menjadi bahan yang dapat digunakan dalam formulasi pakan.
Dengan cara itu, peternak itik memperoleh alternatif bahan pakan yang bersumber dari potensi lokal.
Pada saat yang sama, lingkungan desa mendapat manfaat melalui pengurangan limbah organik.
Model tersebut juga membuka hubungan ekonomi baru antara sektor pengolahan ikan dan peternakan.
Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Ketua pelaksana kegiatan Nur Hidayah menjelaskan, pendekatan pemberdayaan berbasis wilayah menempatkan potensi dan persoalan masyarakat sebagai dasar dalam menentukan solusi.
Pengolahan limbah jeroan ikan dipilih karena berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat Desa Sungai Bangkal.
Sementara itu, keberadaan peternakan itik membuka peluang pemanfaatan hasil samping tersebut dalam rantai produksi yang berbeda.
Pendekatan itu diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat bahwa limbah dari satu kegiatan usaha dapat menjadi sumber daya bagi kegiatan usaha lainnya.
Program tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan limbah hasil pengolahan ikan.
Kegiatan tersebut pun turut mendukung peningkatan kapasitas UMKM dalam mengelola hasil samping produksi.
Dari sisi peternakan, program tersebut mendorong pengembangan alternatif bahan pakan berbasis sumber daya lokal serta penguatan kapasitas kelompok peternak itik.
Kegiatan itu juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan.
Dalam jangka panjang, model tersebut diarahkan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang dapat dijalankan secara berkelanjutan di tingkat desa.
Penerapan ekonomi sirkular memberikan cara pandang baru terhadap hubungan antara usaha perikanan dan peternakan.
Limbah jeroan ikan yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan kini diarahkan menjadi bahan yang memiliki nilai guna.
Bagi pelaku UMKM, pengelolaan limbah dapat membantu menciptakan proses produksi yang lebih ramah lingkungan.
Sementara bagi peternak itik, pemanfaatan bahan lokal berpotensi menjadi salah satu strategi untuk mendukung ketersediaan pakan.
Meski demikian, pemanfaatan jeroan ikan sebagai bahan pakan tetap perlu memperhatikan sejumlah aspek.
Beberapa di antaranya adalah keamanan, kebersihan, kandungan nutrisi, proses pengolahan, serta penyimpanan.
Karena itu, pendampingan dari perguruan tinggi menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara tepat.
Kegiatan tersebut juga menjadi contoh kolaborasi antarkampus dalam mendukung pemberdayaan masyarakat.
Tim dari Universitas Sari Mulia berkolaborasi dengan Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari untuk memberikan pendampingan yang mengintegrasikan aspek teknologi, manajemen, ekonomi, dan peternakan.
Keterlibatan lintas disiplin tersebut diharapkan dapat memperkuat penyelesaian persoalan masyarakat secara lebih komprehensif.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah, tetapi juga pada penguatan kapasitas pelaku usaha dan keberlanjutan model ekonomi yang dikembangkan.
Dukungan Hibah BIMA Kemendikti Saintek melalui Kontrak Nomor 214/C3/DT.05.00/PM/2026 menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pengembangan inovasi dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi wilayah.
Pemanfaatan limbah jeroan ikan untuk mendukung kebutuhan pakan peternakan itik menunjukkan bahwa ekonomi sirkular dapat dimulai dari potensi yang tersedia di sekitar masyarakat.
Model tersebut memperlihatkan hubungan antara beberapa aktivitas ekonomi dalam satu rantai nilai.
UMKM pengolahan ikan menghasilkan limbah, limbah diolah kembali menjadi bahan bernilai guna, lalu hasil pengolahan dimanfaatkan untuk mendukung sektor peternakan.
Ke depan, model tersebut mulai dikembangkan melalui penguatan kelembagaan kelompok, standardisasi proses pengolahan, pengujian kualitas bahan pakan, pencatatan efisiensi ekonomi, serta pengembangan jejaring usaha antarkelompok masyarakat.
Dengan demikian, Pengabdian kepada Masyarakat melalui Pemberdayaan Berbasis Wilayah tidak berhenti pada pemberian teknologi atau pelatihan.
Program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi desa yang mampu memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien.
Desa Sungai Bangkal menunjukkan bahwa persoalan limbah dapat diubah menjadi peluang.
Ketika UMKM, peternak, masyarakat, perguruan tinggi, dan pemerintah desa bergerak dalam satu ekosistem, limbah tidak lagi sekadar sisa produksi.
Limbah dapat menjadi bagian dari solusi untuk membangun ekonomi desa yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.