Advertorial

UPH Festival 2026 Berakhir, Mahasiswa Baru Diajak Menemukan Panggilan Hidup

Kompas.com - 20/08/2026, 11:50 WIB

KOMPAS.comMemasuki dunia perkuliahan, mahasiswa dihadapkan pada berbagai pilihan tentang masa depan, termasuk bidang yang ingin ditekuni dan tujuan hidup yang ingin dicapai.

Pada penutupan UPH Festival 2026, Sabtu (15/8/2026), Universitas Pelita Harapan (UPH) mengajak mahasiswa baru untuk melihat pendidikan tinggi tidak sekadar persiapan menuju profesi, tetapi juga proses menemukan dan menjalani panggilan hidup.

Pesan tersebut terangkum dalam tema hari ketiga UPH Festival 2026, “Called: Why Am I Here”. Tema ini melanjutkan perjalanan tiga hari kegiatan.

Selama tiga hari, mahasiswa baru diajak untuk mengenali identitasnya sebagai pribadi yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Imago Dei), memahami dunia dan tantangannya, hingga merefleksikan tujuan hidup serta cara menggunakan talenta untuk melayani dan membawa dampak bagi sesama.

Memulai perjalanan bersama di Founder’s 5K Run

Founder's 5K Run menjadi bagian dari UPH Festival 2026 yang mempertemukan mahasiswa baru dan sivitas akademika dalam pengalaman bersama. Dok. UPH Founder's 5K Run menjadi bagian dari UPH Festival 2026 yang mempertemukan mahasiswa baru dan sivitas akademika dalam pengalaman bersama.

Hari ketiga UPH Festival 2026 diawali dengan Founder’s 5K Run. Kegiatan ini sudah menjadi tradisi UPH untuk mempertemukan mahasiswa baru, dosen, staf, dan pimpinan universitas dalam pengalaman bersama.

Ribuan peserta berlari sejauh 5 km mengelilingi kawasan Lippo Village dengan membawa pesan Finish What You Start. Pesan ini mengajak mahasiswa baru untuk berkomitmen menyelesaikan apa yang telah dimulai dan menjalani setiap proses dengan tekun.

Executive Director of UPH Sport, Head Coach Tim Basket Putra Eagles UPH, serta Sports Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Dr Stephen Lester Metcalfe turut serta dalam kegiatan tersebut.

Ia mengatakan, Founder’s 5K Run bukan sekadar aktivitas olahraga, melainkan juga kesempatan untuk merefleksikan makna Imago Dei.

“Kita diciptakan menurut gambar Allah dan Tuhan memberikan kita tubuh ini. Oleh karena itu, ketika kita menggunakan tubuh kita untuk bergerak dan beraktivitas secara fisik, kita tidak hanya merayakan rancangan tersebut, tetapi juga merayakan Sang Pencipta,” ujar pria yang akrab disapa Coach Met dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (20/8/2026).

Coach Met melanjutkan, masa perkuliahan merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk bertumbuh secara utuh, tidak hanya dalam kemampuan akademik dan kesehatan fisik, tetapi juga dalam mengenal diri dan memahami tujuan yang Tuhan rancangkan dalam kehidupan mereka.

“Pesan saya kepada mahasiswa baru adalah jalani setiap hari dengan sungguh-sungguh dan maksimal. Bangunlah di pagi hari dengan rasa syukur, naikkan ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan, kemudian mulailah harimu dan jalani hari itu sebaik-baiknya,” pesannya.

Semangat Finish What You Start pun tecermin dari para mahasiswa baru yang menuntaskan rute dengan ritme masing-masing.

Mahasiswa baru Program Studi (Prodi) International Teachers College (ITC) Limson Axel Wijaya menjadi finisher pertama dengan catatan waktu 29 menit. Baginya, pengalaman mengikuti Founder’s 5K Run menjadi pengingat untuk menjaga kesehatan serta menjalani masa studi dengan tujuan yang lebih bermakna.

“Founder’s 5K Run menjadi pengingat bagi saya untuk selalu menjaga kesehatan. Ke depan, saya juga berharap bisa menyelesaikan studi hingga lulus. Namun, yang paling penting adalah bisa menemukan jati diri dan melihat rupa Allah dalam diri saya,” ucap Axel.

Sementara itu, mahasiswi baru Prodi ITC UPH asal China Alice Luo menjadi finisher pertama kategori perempuan dengan catatan waktu 34 menit.

Ia melihat, kegiatan tersebut sebagai momentum untuk membangun keseimbangan antara akademik, kesehatan, dan relasi sejak awal kehidupan perkuliahan.

“Saya ingin menjaga keseimbangan dalam kehidupan sebagai mahasiswa, tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga berolahraga dan membangun relasi dengan teman-teman. Namun yang paling penting, saya ingin menggunakan setiap hal yang saya lakukan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan,” kata Alice.

AI dan masa depan

Usai Founder’s 5K Run, mahasiswa baru mengikuti sesi “AI Will Change Everything. Will It Change You?” bersama Senior Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Dr Niel Nielson.

Ia mengajak mahasiswa memahami teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alat yang akan mengubah berbagai profesi, mulai dari medis, hukum, teknik, hingga bisnis.

Namun, penggunaan AI tetap harus disertai daya kritis, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga relasi antarmanusia.

“AI dapat menghitung, memprediksi, dan memproses data dengan sangat cepat. Namun, AI tidak dapat mengasihi, tidak dapat membedakan kebaikan dan kejahatan secara moral, serta tidak dapat berkorban bagi orang lain. AI adalah pelayan yang sangat baik, tetapi jangan pernah menjadikannya sebagai tuan atas hidup Anda,” tutur Dr Niel.

Menemukan panggilan melalui perjalanan di UPH

Pesan tentang panggilan hidup kemudian diperdalam melalui sesi “Called & Life That Matters” yang disampaikan oleh Associate Vice President Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH Dr Andry M Panjaitan, MT, CPHCM.

Ia mengajak mahasiswa mengenali dan mengembangkan talenta serta panggilan Tuhan melalui proses belajar, tantangan, komunitas, dan berbagai kesempatan untuk memimpin.

Dr Andry juga menekankan lima prinsip yang dapat menjadi panduan mahasiswa selama menjalani perjalanan di UPH.

Pertama, memahami bahwa panggilan hidup lebih besar dari sekadar karier. Kedua, melihat tantangan sebagai bagian dari proses bertumbuh. Ketiga, memimpin dengan melayani. Keempat, menggunakan talenta untuk membawa dampak bagi sesama. Kelima, memanfaatkan ilmu dan pengaruh secara bertanggung jawab untuk berkontribusi bagi Indonesia dan memuliakan Tuhan.

Pesan tersebut kemudian diperkuat melalui pengalaman lima mahasiswa senior UPH yang membagikan kisah tentang pilihan, kegagalan, komunitas, organisasi, hingga pencapaian sebagai bagian dari proses menemukan panggilan.

Menutup sesi, Dr Andry mengajak mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman dan tidak menjadikan prestasi sebagai ukuran nilai diri.

“Jangan pernah takut bermimpi besar di kampus ini. Bergabunglah dalam organisasi, tekuni riset, ciptakan karya seni dan teknologi, ikut kompetisi, dan bangun persahabatan sejati. Jadilah Shalom Community. Namun, di atas segalanya, ingatlah bahwa kalian berharga bukan karena apa yang kalian capai, melainkan siapa yang menciptakan dan menebus kalian,” kata Dr Andry.

Merayakan awal perjalanan baru

Imago Dei Celebration Concert and Fireworks menjadi momen kebersamaan mahasiswa baru UPH setelah mengikuti rangkaian festival selama tiga hari. Dok. UPH Imago Dei Celebration Concert and Fireworks menjadi momen kebersamaan mahasiswa baru UPH setelah mengikuti rangkaian festival selama tiga hari.

Rangkaian UPH Festival 2026 ditutup melalui Imago Dei Celebration Concert and Fireworks. Perayaan ini menjadi momen bagi mahasiswa baru untuk menikmati kebersamaan serta merayakan perjalanan yang telah mereka lalui selama tiga hari.

Suasana perayaan semakin semarak melalui penampilan vokal dan musik dari UPH Choir dan Fakultas Musik (FM) sebagai ekspresi kreativitas mahasiswa dalam menutup rangkaian UPH Festival 2026.

Lebih dari sekadar selebrasi penutup, Imago Dei Celebration Concert and Fireworks menjadi pengingat bagi mahasiswa baru bahwa perjalanan mereka di UPH baru saja dimulai.

Melalui rangkaian musik, ayat Alkitab, hingga fireworks, mahasiswa diajak untuk membawa identitas dan panggilan mereka sebagai Imago Dei ke dalam kehidupan perkuliahan dan berbagai tantangan yang akan dihadapi.

Selain itu, Rektor UPH Dr (Hon) Jonathan L Parapak, MEngSc, dalam sambutannya di perayaan penutupan UPH Festival 2026 berharap, kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa baru sebelum memasuki Tahun Akademik 2026/2027.

“Saya berdoa dan berharap, UPH Festival ini menjadi berkat sehingga kalian siap memasuki Tahun Akademik 2026/2027 dan sukses dalam studi. Selamat datang, warga UPH yang baru. Dengan penuh sukacita, kami mendoakan agar kalian senantiasa diberkati Tuhan dan berhasil dalam perkuliahan kalian,” ujar Dr (Hon) Jonathan.

Setelah tiga hari mengenal identitas, memahami dunia, dan merefleksikan panggilan lewat UPH Festival 2026, mahasiswa baru kini memasuki kehidupan nyata dunia kampus untuk mengembangkan talenta, menjalani pembelajaran, dan menggunakan apa yang dimiliki bagi kebaikan bersama.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau