KOMPAS.com – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara proporsional dan beretika menjadi salah satu materi yang ditekankan dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Kompas (LUKW) KG Media bersama Google di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (21/8/2026) hingga Sabtu (22/8/2026).
Ujian tersebut diikuti 46 wartawan dari berbagai platform, mulai dari media cetak, siber, hingga foto. Peserta mengikuti uji kompetensi untuk jenjang muda dan madya.
Ketua Dewan Kompetensi Kompas Gramedia (KG) Tri Agung Kristanto mengatakan, perkembangan teknologi, termasuk AI, membuat wartawan dan perusahaan media perlu beradaptasi.
“Adaptasi terhadap teknologi tetap harus dilakukan dengan memperhatikan profesionalisme dan kode etik jurnalistik,” ucap Tri Agung dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu.
Menurut dia, uji kompetensi juga menjadi sarana bagi insan pers untuk belajar beradaptasi dengan teknologi yang berkembang demikian cepat.
“Kita tidak mungkin menghindarinya, tapi harus beradaptasi dengannya. Wartawan dan media harus beradaptasi dengan cara-cara yang benar, proporsional, profesional, dan mengindahkan kode etik,” kata Tri Agung dalam sambutannya.
Sebagai informasi, UKW yang diselenggarakan KG Media bersama Google di Semarang merupakan pelaksanaan kedua. Sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Bekasi pada pekan sebelumnya.
Peserta UKW di Semarang berasal dari sejumlah daerah, antara lain Solo, Pati, Kebumen, dan Probolinggo. Bahkan, terdapat peserta yang datang dari Kalimantan.
Setelah Semarang, rangkaian UKW tersebut akan dilanjutkan di 14 kota lain di Indonesia hingga 2027.
Tri Agung mengatakan, penyelenggaraan UKW tersebut juga menjadi upaya mengisi keterbatasan pelaksanaan UKW yang difasilitasi Dewan Pers.
Ia menjelaskan, pada periode 2022-2024, Dewan Pers sempat menyelenggarakan UKW di sejumlah daerah dengan dukungan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Dalam periode tersebut, sekitar 1.700 wartawan mengikuti UKW.
Namun, seiring berkurangnya dukungan anggaran, jumlah peserta UKW yang difasilitasi Dewan Pers pada 2025 turun menjadi 169 wartawan.
“Tahun ini Dewan Pers mungkin hanya bisa memfasilitasi UKW untuk 40 sampai 50 wartawan,” tutur Tri Agung.
AI bisa bantu kerja jurnalistik, tetapi ada batasannya
Google News Partner Manager Yos Kusuma mengatakan, perkembangan AI membuka peluang bagi media untuk mengintegrasikan teknologi tersebut dalam berbagai proses kerja di ruang redaksi.
Menurut Yos, pemanfaatan AI dapat membantu membuat proses kerja jurnalistik menjadi lebih efisien sehingga wartawan memiliki lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal-hal yang membutuhkan pertimbangan dan pemikiran lebih mendalam.
“Dengan proses kerja yang efisien, teman-teman lebih punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal penting lainnya,” kata Yos.
Meski demikian, Yos menekankan bahwa pemanfaatan AI dalam kerja jurnalistik tetap memiliki batasan, terutama terkait aspek etik.
Menurut dia, penggunaan teknologi tersebut harus tetap diarahkan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas dan memenuhi standar etika jurnalistik.
“Google dan media memiliki misi yang sama, yaitu bagaimana audiens bisa mendapatkan informasi yang berkualitas. Informasi seperti itu dibutuhkan oleh semua pengguna di seluruh dunia. Oleh karena itu, Google sangat mendukung kerja-kerja jurnalisme yang berkualitas,” kata Yos.
UKW berlangsung selama dua hari dengan menguji sejumlah aspek kompetensi peserta, mulai dari keterampilan, pengetahuan, hingga kesadaran dalam menjalankan profesi jurnalistik.
Peserta diuji mengenai pemahaman terhadap kode etik jurnalistik, hukum pers, proses produksi berita atau konten, hingga manajemen redaksi.
Wartawan yang dinyatakan kompeten akan terdaftar dan memperoleh sertifikat dari Dewan Pers.