KOMPAS.com — Perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja turut mendorong industri manufaktur beradaptasi.
Perusahaan yang sebelumnya berfokus pada produksi kini dituntut mampu mengelola rantai bisnis yang lebih panjang, mulai dari ketersediaan barang, distribusi, transaksi digital, hingga pelayanan kepada konsumen.
Perubahan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan PT Triguna Jaya Sentosa. Perusahaan yang memulai kegiatan usaha pada 1998 ini kini tidak hanya bergerak dalam produksi dan distribusi kemasan makanan, tetapi juga mengembangkan kanal penjualan digital yang menghubungkan produsen dengan pelanggan.
Transformasi tersebut berlangsung bertahap. Dari produksi soft PVC label, Triguna Jaya Sentosa kemudian masuk ke industri kemasan makanan, memanfaatkan marketplace, membangun situs web sendiri, hingga mengembangkan konsep platform retail digital dan automasi.
Perjalanan itu memperlihatkan bagaimana perusahaan manufaktur berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi sekaligus kebutuhan pasar.
PT Triguna Jaya Sentosa memulai perjalanan bisnisnya pada 1998 dengan memproduksi soft PVC label.
Pada periode awal, kegiatan perusahaan lebih banyak berkaitan dengan proses manufaktur. Seiring perubahan kebutuhan pasar, perusahaan kemudian mengembangkan bidang usahanya ke sektor kemasan makanan.
Sekitar 2015, Triguna Jaya Sentosa mulai mengembangkan produksi kemasan makanan secara lebih luas. Salah satu produk yang dikembangkan pada tahap awal adalah sendok plastik.
Dari produk tersebut, perusahaan memperluas kategori ke berbagai kebutuhan kemasan makanan dan minuman.
Produk yang dikembangkan meliputi gelas plastik, thinwall, kotak makan, paper bowl, paper cup, sedotan, seal cup, tray, snack box, mika bento, mika kue, plastik klip, dan pouch.
Perubahan tersebut membuat perusahaan tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan industri berskala besar, tetapi juga pasar ritel serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Perkembangan perdagangan elektronik menjadi fase penting berikutnya. Pada 2018, Triguna Jaya Sentosa mulai memperluas penjualan melalui marketplace.
Langkah tersebut memungkinkan produk perusahaan menjangkau pelanggan di berbagai daerah tanpa sepenuhnya bergantung pada pola distribusi konvensional.
Namun, penjualan secara daring menghadirkan tantangan baru. Ketika transaksi dilakukan secara ritel, proses bisnis tidak berhenti pada produksi barang.
Perusahaan harus mengelola berbagai tahapan secara bersamaan, mulai dari informasi produk, stok, harga, pemesanan, pembayaran, pengemasan, pengiriman, hingga pelayanan setelah transaksi.
Semakin banyak transaksi yang masuk, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem yang mampu mengurangi pekerjaan manual dan menghubungkan setiap tahapan tersebut.
Dari persoalan operasional itulah, gagasan untuk membangun kanal digital sendiri mulai dikembangkan.
Pada 2021, Triguna Jaya Sentosa mulai mengembangkan situs web sendiri. Kanal ini tidak hanya diarahkan sebagai company profile atau katalog produk. Triguna Jaya Sentosa mengembangkannya sebagai kanal transaksi langsung antara perusahaan dan konsumen.
Melalui kanal tersebut, pelanggan dapat mencari produk, memasukkan barang ke keranjang, melakukan pembayaran, dan memilih metode pengiriman.
Bagi perusahaan, pengembangan situs web menjadi langkah untuk memiliki kendali lebih besar terhadap proses transaksi sekaligus membangun hubungan langsung dengan pelanggan.
Konsep itu kemudian berkembang lebih jauh. Situs web tidak lagi hanya dipandang sebagai toko online, tetapi juga sebagai bagian dari sistem digital ritel yang menghubungkan sejumlah aktivitas perusahaan.
Dalam konsep platform retail digital yang dikembangkan, proses transaksi diupayakan terhubung dengan kebutuhan operasional perusahaan.
Produk, harga, keranjang belanja, pembayaran, pemenuhan pesanan, hingga distribusi menjadi bagian dari alur yang saling berkaitan. Hal ini menjadi penting karena karakter pelanggan di industri kemasan cukup beragam.
Pelaku UMKM kuliner, misalnya, dapat membutuhkan beberapa jenis kemasan sekaligus dalam jumlah yang berbeda.
Karena itu, sistem penjualan perlu mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut tanpa membuat proses pemesanan menjadi rumit.
Di sisi lain, perusahaan harus memastikan pesanan yang masuk dapat diproses melalui sistem gudang dan pengiriman.
Dengan pendekatan tersebut, digitalisasi tidak hanya ditempatkan pada sisi pemasaran, tetapi juga diarahkan untuk mendukung kegiatan operasional.
Pengembangan sistem kemudian mengarah pada automasi. Dalam kegiatan perdagangan, terdapat sejumlah proses berulang yang dapat menghabiskan waktu apabila seluruhnya dilakukan secara manual.
Triguna Jaya Sentosa mengembangkan sistem yang berupaya menghubungkan perjalanan transaksi, mulai dari pelanggan memilih produk hingga pesanan diproses dan dikirim.
Namun, automasi dalam konteks tersebut tidak semata-mata digunakan untuk menggantikan tenaga manusia.
Sistem digunakan untuk membantu pekerjaan yang bersifat rutin sehingga tenaga kerja dapat lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan komunikasi, pengambilan keputusan, dan penyelesaian persoalan pelanggan.
Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya menyentuh konsumen, tetapi juga proses internal perusahaan.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi tahap berikutnya dalam perjalanan digitalisasi Triguna Jaya Sentosa.
Perusahaan mulai melihat AI sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu pengelolaan informasi dan pelayanan pelanggan.
Meski demikian, AI tidak ditempatkan sebagai pengganti seluruh proses bisnis. Beberapa pekerjaan tetap membutuhkan manusia, terutama ketika berkaitan dengan keputusan, komunikasi tertentu, serta persoalan pelanggan yang membutuhkan penanganan khusus.
Pendekatan tersebut menempatkan AI sebagai bagian dari sistem automasi yang telah dikembangkan sebelumnya.
Dengan kata lain, perjalanan perusahaan tidak dimulai dari AI, tetapi berkembang secara bertahap dari kebutuhan operasional.
Jika ditarik ke belakang, perjalanan Triguna Jaya Sentosa menunjukkan beberapa fase penting. Pada 1998, perusahaan memulai kegiatan manufaktur melalui produksi soft PVC label. Sekitar 2015, bisnis berkembang ke industri kemasan makanan.
Kemudian, pada 2018, perusahaan masuk ke marketplace untuk memperluas jangkauan pasar. Setelah mengalami langsung kompleksitas transaksi digital, perusahaan mulai membangun situs web sendiri pada 2021.
Dari sana, pengembangan berlanjut menuju platform retail digital, automasi, dan pemanfaatan AI.
Benang merah dari perjalanan tersebut adalah upaya menghubungkan berbagai aktivitas yang sebelumnya berjalan secara terpisah.
Produksi harus terhubung dengan ketersediaan barang. Ketersediaan barang perlu terhubung dengan penjualan. Penjualan harus tersambung dengan pembayaran. Pesanan kemudian diteruskan ke proses gudang dan pengiriman.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian tersebut harus kembali terhubung dengan pelanggan.
Selain membangun infrastruktur digital, Triguna Jaya Sentosa juga mengembangkan jaringan distribusi di sejumlah kota.
Perusahaan itu kini memiliki jaringan di Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Sorong.
Untuk mendukung pengiriman, perusahaan menggunakan sejumlah pilihan layanan, mulai dari armada internal, layanan kendaraan cepat di sekitar cabang, Gojek dan Grab, hingga JNE JTR untuk pengiriman ke berbagai wilayah Indonesia.
Jaringan fisik tersebut menjadi pelengkap bagi sistem digital yang dikembangkan perusahaan. Sebab, transaksi digital pada akhirnya tetap membutuhkan proses fisik, seperti penyediaan barang, pengelolaan gudang, pengemasan, dan pengiriman.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (21/8/2026), Triguna Jaya Sentosa menyebut ekosistem digital ritel mereka memiliki rating pelanggan 4,9 dengan lebih dari 135.000 penilaian.
Perusahaan juga mencantumkan lebih dari 2 juta produk terjual, 274.503 pelanggan aktif, lebih dari 200 SKU, dan jaringan cabang utama di enam kota.
Perusahaan juga menyatakan produknya telah digunakan berbagai jenis pelanggan, mulai dari UMKM kuliner hingga distributor dan perusahaan.
Namun, pertumbuhan digital juga membawa tantangan tersendiri. Sistem harus terus dikembangkan agar dapat mengikuti perubahan perilaku konsumen, kebutuhan pelanggan, perkembangan teknologi, dan semakin kompleksnya proses transaksi.
Transformasi digital PT Triguna Jaya Sentosa menunjukkan bahwa perubahan teknologi dalam industri manufaktur tidak selalu terjadi dalam satu tahap.
Perubahan dapat dimulai dari persoalan sederhana yang muncul dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Ketika produsen mulai menjual langsung kepada konsumen, kebutuhan terhadap sistem yang lebih terintegrasi menjadi semakin besar.
Dari kebutuhan tersebut, lahir pengembangan situs web, platform retail digital, automasi, hingga pemanfaatan AI.
Perjalanan itu sekaligus menunjukkan bahwa teknologi hanyalah salah satu bagian dari transformasi.
Di belakang sistem digital, tetap terdapat aktivitas produksi, gudang, distribusi, sumber daya manusia, dan pelayanan pelanggan yang harus berjalan secara bersamaan.
Bagi Triguna Jaya Sentosa, perjalanan dari manufaktur menuju digital ritel masih terus berlangsung.
Setelah lebih dari dua dekade menjalankan usaha, perusahaan kini berupaya membangun sistem yang dapat menghubungkan perjalanan produk dari proses produksi hingga sampai ke tangan pelanggan.
Perubahan tersebut menjadi gambaran bagaimana perusahaan manufaktur menghadapi era perdagangan digital.
Transformasi tidak sekadar memindahkan transaksi dari toko fisik ke internet, tetapi juga membangun kembali proses bisnis agar produksi, penjualan, distribusi, dan pelayanan dapat berjalan dalam satu ekosistem yang semakin terintegrasi.
Kunjungi laman ini untuk informasi selengkapnya mengenai Triguna Jaya Sentosa.