JAKARTA, KOMPAS.com – Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Bagi anak, pengalaman berada di lingkungan baru, bekerja bersama teman, hingga tampil di hadapan orang yang belum dikenal juga dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Pengalaman itu dirasakan siswa Grade 3 Global Sevilla Pulo Mas saat tampil dalam Festival Merah Putih 2026 di Bimasena The Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026).
Di tengah suasana festival yang dipenuhi nuansa merah-putih, para siswa berdiri berjajar di atas panggung. Mereka membawakan lagu-lagu Indonesia melalui pertunjukan paduan suara dalam rangkaian Raya - Celebrating Community & Culture.
Bagi Global Sevilla School, penampilan tersebut tidak semata-mata menjadi pertunjukan. Proses berlatih, bekerja dalam kelompok, hingga tampil di hadapan masyarakat umum menjadi bagian dari learning through experience.
Itu berarti, siswa mendapat ruang untuk belajar disiplin, berkolaborasi, sekaligus membangun kepercayaan diri.
Sebagai informasi, Festival Merah Putih 2026 menghadirkan tiga pengalaman utama, yakni Rasa, Raga, dan Raya. Ketiganya mempertemukan pengalaman kuliner, wellness and movement, serta budaya dan komunitas dalam satu ajang.
Festival tersebut turut dihadiri jajaran Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, yakni Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Sekretaris Kementerian Ekonomi Kreatif Dessy Ruhati, Staf Khusus Bidang Penguatan Ekosistem Ekonomi Jago Anggoro, serta Direktur Kuliner Kementerian Ekonomi Kreatif Romy Astuti.
Belajar di luar lingkungan yang familiar
Kepala Sekolah Global Sevilla Purborini Sulistiyo mengatakan, sekolah berupaya memberikan kesempatan belajar kepada anak tidak hanya melalui kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah.
Tampil di ruang publik, misalnya, memberikan pengalaman berbeda karena siswa harus berhadapan dengan audiens yang belum tentu mereka kenal.
“Ini salah satu kesempatan mereka untuk belajar tampil di muka umum. Meski orangtua mereka juga menonton, ada banyak orang lain yang mungkin asing bagi mereka. Jadi, mereka enggak hanya ‘jago kandang’ atau tampil di sekolah saja, (tapi) mereka juga berani tampil di luar,” ujar Purborini seusai penampilan siswa.
Lebih lanjut, Purborini menuturkan bahwa tahun ini menjadi kali pertama Global Sevilla mengikuti Festival Merah Putih.
Persiapannya sendiri dilakukan setelah tahun ajaran baru yang dimulai pada Rabu (22/7/2026). Sebelum tampil di festival, anak-anak juga telah membawakan penampilan ketika mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan Ke-81 Republik Indonesia di sekolah pada Senin (17/8/2026).
Momentum perayaan kemerdekaan dan keikutsertaan dalam Festival Merah Putih, kata Purborini, sekaligus menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenal dan membawakan lagu-lagu Indonesia.
“Meski sehari-hari banyak menggunakan Bahasa Inggris dalam pembelajaran, siswa tetap diperkenalkan dengan lagu-lagu Indonesia dan didorong untuk percaya diri membawakannya,” ucapnya.
Bagi Ketua Yayasan Budi Pekerti Luhur Andrew J Jules Soebali, makna kemerdekaan dalam pendidikan juga perlu hadir melalui pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh anak.
Menurut dia, kemerdekaan tersebut dapat diwujudkan dengan memberi ruang bagi anak untuk belajar, bertanya, menyampaikan gagasan, dan mengembangkan potensinya.
“Sekolah tidak hanya tempat mentransfer pengetahuan, tetapi juga ruang bagi anak untuk bertumbuh menjadi manusia yang sadar terhadap dirinya, orang lain, dan lingkungan di sekitarnya,” ujar Andrew.
(Dari kiri ke kanan) Foto bersama Counsellor Global Sevila Alva Paramitha, Counsellor Global Sevila Ervina Meitha, Kepala Sekola Global Sevila, Proborini Sulistyo, Ketua Yayasan Budi Pekerti Luhur Andrew J Soebali, Assistant Superintendent Global Sevila Lemuel Rivera, Primary Principal Global Sevilla Mahesh Gunawan, Music Teacher Global Sevill Agustian Wilman.Belajar tetap fokus saat merasa gugup
Pengalaman tampil di depan publik juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk menerapkan mindfulness yang selama ini menjadi bagian dari pembelajaran di Global Sevilla School. Di sekolah, para siswa mempraktikkan program tersebut dalam keseharian.
Purborini menjelaskan, mindfulness diajarkan melalui kegiatan formal yang terjadwal. Selain itu, siswa juga dibiasakan untuk be present atau hadir utuh pada aktivitas yang sedang dilakukan.
“Anak-anak memiliki karakter yang aktif dan dinamis. Ketika konsentrasi mereka teralihkan, guru dapat mengajak mereka kembali mengambil napas dan memusatkan perhatian pada aktivitas yang sedang dikerjakan,” jelasnya
Prinsip yang sama juga diterapkan ketika anak menghadapi rasa gugup saat tampil di depan publik. Mereka diajak menyadari perasaan tersebut, kembali fokus, sekaligus menikmati momen yang sedang dijalani.
Bagi Purborini, mindfulness tidak hanya diterapkan dalam kegiatan yang membutuhkan konsentrasi, tetapi juga dalam pengalaman yang menyenangkan seperti mengikuti festival. Dengan demikian, siswa belajar untuk tetap hadir dan menikmati pengalaman mereka ketika berada di atas panggung.
Melengkapi pembelajaran akademik
Pengalaman belajar di luar kelas tersebut juga mendapat respons positif dari orangtua siswa. Lorens, salah satunya, menilai kegiatan seperti Festival Merah Putih dapat melengkapi pembelajaran akademik sekaligus memberi ruang bagi anak untuk membangun kepercayaan diri.
“Selain fokus dari sisi akademik, sekolah juga memberi perhatian pada aspek di luar akademik. Kesempatan untuk berlatih lalu tampil di depan umum seperti ini tentunya bisa membantu anak-anak menumbuhkan kepercayaan diri,” ujarnya.
Menurut Lorens, siswa Global Sevilla sebenarnya cukup terbiasa mengikuti pertunjukan di lingkungan sekolah. Namun, pengalaman yang dirasakan berbeda ketika mereka harus tampil di tempat baru dan di hadapan orang-orang yang tidak ditemui sehari-hari.
Dalam situasi seperti itu, rasa gugup menjadi hal yang wajar. Lorens memilih mendorong anak untuk tetap fokus pada persiapan yang sudah dilakukan, alih-alih meminta anak menghilangkannya.
“Kalau nervous, saya bilang enggak apa-apa. Nervous itu wajar, yang penting sudah latihan, nanti berikan yang terbaik saja,” katanya.
Bagi Lorens, pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi anak untuk berani mencoba di luar lingkungan yang sudah familier, sekaligus belajar menghadapi rasa gugup yang muncul selama prosesnya.
Meski begitu, Andrew menekankan bahwa ruang untuk mencoba dan berekspresi tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan kesadaran dan tanggung jawab.
“Memberikan (kemerdekaan) atau ruang kepada anak bukan berarti membiarkan mereka berjalan tanpa arah. Kemerdekaan justru perlu menjadi kompas kesadaran dan tanggung jawab,” ujarnya.
Anak, lanjutnya, perlu mendapat kesempatan untuk menemukan pemikirannya sendiri, tetapi pada saat yang sama juga belajar memahami dampak dari tindakan dan pilihannya terhadap orang lain.
“Di sinilah pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam proses tumbuh anak,” ucap Andrew.