KOMPAS.com — Belasan tahun lalu, Sri Purwanti datang ke Taiwan sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah, ini menjalani kehidupan di perantauan sambil menyimpan satu demi satu hasil kerjanya.
Ketika itu, ada satu persoalan yang kerap ia hadapi, yakni sulit mencari makanan halal dengan cita rasa Indonesia. Ia pun meyakini bahwa para PMI lain juga mengalami hal yang sama.
“Waktu pertama kali jadi pekerja migran, mencari makanan halal itu luar biasa sulit. Dari situ, saya berpikir, teman-teman pekerja lain pasti merasakan kesulitan yang sama,” ucap Sri dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (24/8/2026).
Berangkat dari pengalaman tersebut, muncul sebuah gagasan untuk membangun usaha kuliner halal.
Agar bisa direalisasikan, Sri menyisihkan sebagian penghasilan sedikit demi sedikit. Ia belajar mengatur keuangan dan mengumpulkan modal bertahun-tahun dari hasil kerja selama di Taiwan. Sri memanfaatkan layanan perbankan BRI untuk menampung semua kebutuhan tersebut.
“Saya bertekad menyisihkan sebagian penghasilan, menabung sedikit demi sedikit, dan belajar mengelola keuangan,” lanjutnya.
Sri juga sering memanfaatkan layanan perbankan BRI ketika ada kebutuhan transaksi antara Taiwan dan Indonesia.
Dari kebutuhan pribadi menjadi peluang usaha
Usaha yang awalnya dibangun untuk menjawab kebutuhan makanan halal masyarakat Indonesia di Taiwan perlahan mendapatkan pelanggan.
Sri mempertahankan cita rasa Nusantara serta memastikan makanan yang disajikan memenuhi kebutuhan konsumen muslim.
Seiring waktu berjalan, usahanya berkembang menjadi Kedai Sri Rahayu yang berlokasi di Nomor 36, Aiguo E Rd, Zhongzheng District, Taipei, tidak jauh dari Taipei Grand Mosque.
Kedai tersebut kini menjadi salah satu tempat bagi diaspora Indonesia dan komunitas muslim di Taipei untuk menikmati makanan khas Nusantara.
Pilihan menunya beragam, mulai dari sate dengan bumbu kacang, ayam penyet sambal terasi, bakso urat, pempek Palembang, hingga aneka gorengan. Minuman khas Indonesia juga tersedia, seperti es cendol, es jeruk, dan es teh manis.
Namun, Kedai Sri Rahayu tak hanya berkembang sebagai restoran. Sri kemudian memperluas usahanya menjadi toko yang menyediakan beragam kebutuhan dan bahan pangan khas Indonesia. Rak-rak di dalam kedai diisi makanan kemasan, bumbu, hingga rempah Nusantara.
Perkembangan bisnis tersebut perlahan membawa Sri mewujudkan mimpi lain, yakni menciptakan lapangan pekerjaan. Usahanya kini turut membuka peluang kerja, tidak hanya di Taiwan, tetapi juga di Indonesia.
Kebutuhan transaksi ikut berkembang
Seiring usahanya berkembang, kebutuhan Sri terhadap layanan keuangan pun berubah.
Mobilitasnya sebagai pengusaha membuat akses perbankan yang praktis menjadi semakin penting. Kini, ia aktif menggunakan BRImo Taiwan untuk mendukung kebutuhan transaksi selama tinggal dan menjalankan usaha di Taiwan.
Layanan tersebut memungkinkan Sri mengakses layanan BRI secara digital melalui telepon genggam sehingga berbagai kebutuhan transaksi dapat dilakukan tanpa harus bergantung pada layanan tatap muka.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan finansial Sri, dari seorang pekerja migran yang menabung hasil kerja hingga menjadi pengusaha dengan aktivitas ekonomi yang lebih beragam.
Terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, perjalanan Sri menunjukkan bahwa PMI memiliki peluang untuk tumbuh dan naik kelas ketika mampu mengelola hasil kerja sekaligus menangkap peluang usaha.
“Bagi BRI, kisah Ibu Sri tidak hanya tentang keberhasilan membangun usaha kuliner Indonesia di Taiwan, tetapi juga cara seorang pekerja migran mampu mengelola hasil kerja kerasnya, menangkap peluang, dan kemudian tumbuh menjadi pengusaha yang kuat,” ujar Dhanny.
Menurut dia, aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia di luar negeri juga semakin beragam. Kebutuhan mereka tidak lagi sebatas menerima penghasilan atau mengirimkan uang kepada keluarga di Indonesia, tetapi juga mencakup menabung hingga mengembangkan usaha.
Oleh karena itu, BRI terus memperkuat layanan yang dapat menjaga konektivitas diaspora Indonesia dan PMI dengan ekosistem keuangan di Tanah Air. Salah satunya melalui BRImo Taiwan.
“Kami berharap, kehadiran BRImo Taiwan dapat semakin mendekatkan layanan perbankan BRI kepada masyarakat Indonesia di Taiwan,” kata Dhanny.
Layanan tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan transaksi sehari-hari dan mendukung perjalanan finansial masyarakat Indonesia di luar negeri, mulai dari bekerja, menabung, mengirim hasil jerih payah kepada keluarga, hingga mempersiapkan dan mengembangkan usaha.
“Kisah Ibu Sri menjadi contoh bahwa dengan kerja keras, pengelolaan keuangan yang baik, dan akses layanan keuangan yang semakin mudah, PMI memiliki peluang besar untuk maju,” tuturnya.