Advertorial

BRI JF3 Fashion Festival 2026 Angkat Craftsmanship sebagai Kekuatan Fashion Masa Depan

Kompas.com - 26/08/2026, 11:00 WIB

KOMPAS.com – Di balik sebuah busana yang tampil di atas runway, terdapat proses panjang yang kerap tidak terlihat. Ada tangan yang membatik, menyulam, membordir, menenun, memotong, menjahit, membentuk material, hingga menyempurnakan detail satu per satu.

Pengetahuan dan keterampilan tersebut tidak lahir dalam waktu singkat. Keduanya tumbuh melalui pengalaman, proses belajar, serta pengetahuan yang diwariskan dan terus dikembangkan dari generasi ke generasi.

Semangat itu menjadi salah satu benang merah dalam ajang BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang digelar di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Mengusung tema “Recrafted: Shaping the Future”, JF3 menempatkan craftsmanship bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, melainkan juga sebagai modal yang dapat terus diterjemahkan ke dalam bahasa fashion kontemporer.

Pendekatan tersebut terlihat dalam berbagai koleksi yang tampil selama gelaran JF3 Fashion Festival 2026. Mulai dari batik dan tenun dalam siluet modern, pengerjaan bordir dan detail secara manual, kolaborasi bersama artisan, hingga pertemuan teknik tradisional dengan perspektif desain dari negara lain.

LAKON Indonesia beri panggung bagi tangan di balik karya

Salah satu pendekatan terhadap craftsmanship hadir melalui LAKON Indonesia dalam koleksi HARSA.

Menandai delapan tahun perjalanan LAKON Indonesia, koleksi tersebut tidak hanya menempatkan batik dan bordir sebagai elemen visual, tetapi juga memberi perhatian kepada proses dan manusia yang memungkinkan sebuah karya tercipta.

HARSA menjadi bentuk penghormatan kepada para perajin, pembatik, pembordir, penjahit, dan seluruh pihak yang terlibat dalam produksi.

Melalui koleksi tersebut, LAKON memadukan batik dan bordir buatan tangan Indonesia dengan katun, satin, dan organza dalam siluet yang lebih ringan dan elegan, mulai dari daily wear hingga daily wear deluxe.

Melalui koleksi tersebut, LAKON menunjukkan bahwa nilai craftsmanship tidak hanya terletak pada kerumitan teknik, tetapi juga waktu, ketelitian, kesabaran, pengalaman, serta pengetahuan manusia yang terkandung dalam pengerjaannya.

Pada konteks industri, pendekatan tersebut menempatkan keterampilan artisan tidak sekadar sebagai pelengkap produk, tetapi bagian dari nilai yang membentuk identitas produk itu sendiri.

YASA tafsirkan tenun Sumba lewat bordir

Pendekatan berbeda dihadirkan YASA melalui koleksi NIHI Voyage. Terinspirasi dari lanskap dan kebudayaan Sumba, YASA tidak sekadar memindahkan motif tradisional ke atas pakaian.

Karakter visual tenun Sumba diterjemahkan kembali menggunakan teknik bordir dengan arsiran yang mengikuti garis dan tekstur wastra tersebut.

YASA membawakan koleksi "NIHI Voyage" pada BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang digelar di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (26/7/2026). dok. BRI JF3 Fashion Festival 2026 YASA membawakan koleksi "NIHI Voyage" pada BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang digelar di JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (26/7/2026).

Flora dan fauna Indonesia turut diterjemahkan menjadi motif bordir dengan detail yang berangkat dari karakter tekstur tenun tradisional Sumba.

Hasilnya, mempertemukan pengetahuan tekstil tradisional dengan teknik pengerjaan kontemporer.

Identitas Sumba tidak ditempatkan sebagai ornamen semata, tetapi menjadi referensi yang diterjemahkan ke dalam bahasa menswear yang lebih modern.

NIHI Voyage memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama untuk mempertahankan identitasnya. Pengetahuan mengenai motif, tekstur, dan karakter sebuah daerah dapat berkembang melalui medium dan teknik baru.

PINTU Incubator bawa craft ke desain kontemporer

Eksplorasi terhadap warisan keterampilan juga hadir melalui PINTU Incubator. Melalui dua label, yakni DACIA dan TOJA, mereka memperlihatkan pendekatan berbeda dalam membawa tekstil dan keterampilan Indonesia ke dalam konteks fashion masa kini.

Melalui koleksi ORIGO S/S27, DACIA berangkat dari akar budaya Bangka yang dimiliki sang desainer, Daciadhia Phoebehana, serta lanskap Pulau Bangka dan keindahan Kain Cual.

Alih-alih merekonstruksi busana tradisional, DACIA menafsirkan elemen tersebut melalui karakter streetwear kontemporer.

Kain Cual dipadukan dengan siluet oversized, tailoring yang lebih santai, konstruksi modular, dan detail fungsional untuk menghasilkan busana yang ekspresif namun tetap relevan bagi aktivitas sehari-hari.

Pada koleksi tersebut, Kain Cual bahkan dikembangkan sebagai elemen yang dapat dilepas-pasang sehingga satu busana dapat ditata dalam berbagai cara, mulai dari tampilan formal hingga lebih kasual.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa tekstil tradisional dapat memperoleh konteks baru tanpa kehilangan identitas asalnya.

Sementara itu, TOJA membawa craftsmanship lebih dekat pada proses pengerjaan melalui koleksi DVARA.

Rumah kerajinan kontemporer asal Yogyakarta tersebut bekerja di persimpangan arsitektur, tekstil, dan memori budaya dengan mempertemukan teknik leluhur serta bentuk kontemporer.

Setiap karya DVARA dibuat dengan tangan menggunakan sejumlah teknik, mulai dari rajutan permadani, tenun tablet dalam tradisi Palawa dari Mamasa, Sulawesi Barat, hingga jalinan Kumihimo.

Proses tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan para perajin Indonesia. Struktur persegi panjang, bentuk bahu memanjang, serta bentuk silinder kemudian digunakan untuk menerjemahkan bahasa arsitektur menjadi tekstil yang dapat dikenakan.

TOJA turut bekerja bersama penenun tablet Palawa dari Mamasa, perajin anyaman Kumihimo, spesialis rajutan permadani, tim atelier TOJA, serta Sejauh Mata Memandang dalam presentasi DVARA di JF3 2026.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa craftsmanship bukan hanya tentang mempertahankan teknik, melainkan juga menjaga keterampilan tetap hidup melalui pekerjaan, pertukaran pengetahuan, serta produk yang relevan dengan kebutuhan masa kini.

Melalui DACIA dan TOJA, PINTU Incubator memperlihatkan dua arah pengembangan craftsmanship. DACIA membawa tekstil tradisional ke dalam bahasa streetwear yang adaptif dan fungsional, sementara TOJA memperkuat teknik dan pengetahuan artisan melalui eksplorasi tekstil serta kolaborasi langsung dengan perajin.

Rengganis dan OPIE OVIE buka bahasa baru bagi wastra

Pada presentasi Indonesian Fashion Chamber (IFC) bertajuk Quiet Defiance, craftsmanship Indonesia juga hadir melalui dua pendekatan berbeda.

Pertama, ada Rengganis yang mempertemukan bordir tangan, batik, lurik, dan endek dalam satu koleksi. Berbagai keterampilan dan tekstil Nusantara ini tidak ditampilkan secara terpisah, tetapi dirangkai menjadi bahasa visual baru.

Kedua, ada OPIE OVIE yang bekerja dengan batik nitik dan membawanya melalui pendekatan yang lebih modern.

Batik nitik dengan karakter motif khasnya tidak hanya digunakan sebagai penanda unsur tradisional, tetapi juga ditempatkan dalam desain yang ditujukan kepada konsumen kontemporer.

Keduanya memperlihatkan bahwa keberlanjutan sebuah keterampilan juga membutuhkan kemampuan beradaptasi.

Mempertahankan craft tidak selalu berarti mempertahankan hasil akhirnya dalam bentuk yang sama. Pengetahuan di balik teknik tersebut dapat tetap dijaga sembari dikembangkan melalui cara penggunaan baru.

Craft Indonesia jadi bahasa pertukaran internasional

Pertemuan antara tradisi dan perspektif baru juga terlihat melalui PINTU Residency yang mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis.

Gabriel Marcella dan Lisa Rayar mengembangkan karya yang memadukan workwear pelaut Prancis dengan batik Mojokerto.

Koleksi busana yang ditampilkan PINTU Residency pada ajang BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang digelar di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (29/7/2026).dok. BRI JF3 Fashion Festival 2026 Koleksi busana yang ditampilkan PINTU Residency pada ajang BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang digelar di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Sementara itu, Beatrice Angelica dan Mickaël Nana mempertemukan pendekatan Western tailoring dengan tenun, songket Lombok, dan draperi Indonesia.

Proses tersebut tidak hanya mempertemukan material Indonesia dengan desainer dari dua negara, tetapi juga membuka pertukaran cara pandang terhadap craft.

Batik dan tenun ditempatkan dalam dialog dengan tradisi desain lain tanpa harus kehilangan karakter masing-masing.

Pendekatan itu menunjukkan potensi craftsmanship sebagai bahasa yang dapat melampaui batas geografis.

Ketika sebuah keterampilan memiliki karakter, kualitas, dan pengetahuan yang kuat, keterampilan tersebut tidak hanya relevan bagi pasar domestik, tetapi juga dapat menjadi titik awal untuk membangun kolaborasi kreatif di tingkat internasional.

Dari sisik ikan menjadi obyek bernilai

Tidak semua eksplorasi craftsmanship di JF3 2026 berangkat dari wastra. The Theme melalui koleksi The Life Journey memperlihatkan bahwa keterampilan tangan dapat mengubah persepsi terhadap sebuah material.

Mereka mengolah sisik ikan kakap dari nelayan Bintan menjadi aksesori. Material ini kemudian dijahit satu per satu menggunakan teknik payet hingga berubah menjadi elemen dekoratif dengan karakter visual baru.

Dalam pendekatan itu, craftsmanship menjadi proses penciptaan nilai. Sebuah material memperoleh arti baru bukan semata-mata karena bahan dasarnya, melainkan karena keterampilan, ide, waktu, serta proses pengerjaan manusia yang diberikan kepadanya.

KINNALY bawa perspektif Asia Tenggara

Perspektif mengenai craft juga datang dari kawasan Asia Tenggara melalui KINNALY by Thoulany Chanthalangsy asal Laos.

Dalam presentasi bersama ASEAN Fashion Designers Showcase, motif tradisional Laos diterjemahkan kembali melalui pendekatan couture kontemporer.

Kehadiran KINNALY pun memperluas konteks craftsmanship di JF3 bahwa tantangan dalam menjaga relevansi teknik, tekstil, dan identitas lokal tidak hanya dihadapi Indonesia.

Desainer di berbagai negara Asia Tenggara juga menghadapi pertanyaan serupa mengenai bagaimana warisan tersebut dapat terus hidup di tengah industri fashion yang semakin global.

Craftsmanship sebagai fondasi untuk bergerak ke depan

Selama lebih dari dua dekade, JF3 berkembang dari sebuah perhelatan fashion menjadi platform yang bergerak di berbagai lapisan industri.

Selain menghadirkan runway, JF3 juga menjalankan pengembangan talenta, inkubasi, forum industri, program ritel, serta membangun jejaring dan kerja sama internasional.

Chairman JF3 Soegianto Nagaria mengatakan bahwa yang terlihat di atas panggung merupakan hasil dari proses panjang yang berlangsung jauh sebelum sebuah koleksi ditampilkan.

“Apa yang hadir di atas panggung bukanlah hasil dari kerja sesaat, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang terus bergerak menemukan talenta, mengembangkan kapasitas, mempertemukan gagasan, membangun kolaborasi, serta membuka akses menuju pasar dan jejaring yang lebih luas,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (25/8/2026).

Melalui tema “Recrafted: Shaping the Future”, JF3 melihat craftsmanship tidak hanya sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan, tetapi juga kapabilitas yang perlu terus dikembangkan.

Masa depan fashion Indonesia tidak harus dibangun dengan meninggalkan apa yang telah dimiliki.

Batik, tenun, bordir, keterampilan artisan, pengetahuan material, hingga berbagai teknik yang berkembang lintas generasi justru dapat menjadi modal untuk menciptakan produk dengan karakter yang sulit digantikan.

Ketika pengetahuan tersebut dipertemukan dengan desain, inovasi, pengembangan talenta, kualitas produksi, dan akses pasar, craftsmanship dapat bergerak lebih jauh. Mulai dari warisan menjadi nilai, dari keterampilan menjadi daya saing, serta dari identitas lokal menjadi bagian dari percakapan fashion global.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau