Advertorial

Bangun Usaha dari Sisa Jamur yang Tak Terjual, Ibu Ini Dipercaya Pimpin Bank Sampah

Kompas.com - 30/08/2026, 19:47 WIB

KOMPAS.com — Dari dapur sederhana berukuran tiga kali tiga meter, Astuti belajar bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha. Justru dari ruang sempit itulah, ia menemukan cara untuk mengubah persoalan menjadi peluang dan perlahan membangun kemandirian ekonomi keluarganya.

Sebagai nasabah PNM Mekaar, Astuti merintis usaha olahan jamur tiram dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, memulai usaha tidak sekadar tentang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terus terpenuhi.

Bukan tanpa tantangan, salah satu persoalan yang kerap dihadapi Astuti adalah hasil panen jamur tiram yang tidak seluruhnya terserap pasar. Ketika tidak habis terjual, ada risiko jamur segar itu terbuang begitu saja.

Namun, Astuti memilih untuk mencari jalan keluar. Ia mulai memutar cara. Jamur sisa tersebut dapat diolah kembali menjadi jamur krispi dan stik jamur. Langkah sederhana itu membuat hasil panen memiliki umur simpan lebih panjang, sekaligus menciptakan produk dengan nilai jual baru.

“Dulu saya hanya berpikir bagaimana jamur yang tak habis terjual tidak terbuang. Sekarang saya tahu, dari sesuatu yang hampir terbuang itu, bisa tumbuh sebuah usaha, harapan untuk keluarga, bahkan manfaat untuk banyak orang,” ujar Ibu Astuti dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (30/8/2026).

Bagi Astuti, perubahan tersebut bukan hanya soal bertambahnya jenis produk, melainkan sebagai solusi yang inovatif.

Setelah melakukan inovasi untuk mengolah jamur yang tersisa, Astuti dipercaya menjadi Ketua Klasterisasi Bank Sampah di Kampung Madani, Waru, Penajam, Kalimantan Timur.Dok. PNM Setelah melakukan inovasi untuk mengolah jamur yang tersisa, Astuti dipercaya menjadi Ketua Klasterisasi Bank Sampah di Kampung Madani, Waru, Penajam, Kalimantan Timur.

Ia mulai melihat usahanya dengan cara yang berbeda. Masalah pasar yang sebelumnya menjadi tantangan justru mendorongnya untuk lebih kreatif dalam mengolah produk dan menelusuri nilai tambahnya.

Di titik inilah pemberdayaan menjadi penting. Pembiayaan memberikan ruang bagi pengusaha ultra mikro untuk bergerak dan pendampingan membantu mereka menemukan cara agar usahanya terus bertumbuh.

Kombinasi keduanya menjadi bagian dari pendekatan Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam mendampingi nasabah, agar tidak berhenti hanya pada akses modal.

Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan bahwa pembiayaan dan pemberdayaan perlu berjalan beriringan karena kebutuhan usaha ultra mikro. Tidak hanya modal, tetapi juga kemampuan untuk mengembangkan usaha dan menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Menurutnya, pembiayaan dapat memberikan kesempatan bagi nasabah untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Sementara, pemberdayaan juga membantu mereka menemukan cara untuk naik kelas. Keduanya perlu berjalan beriringan untuk memperkuat usaha yang berkelanjutan dan berdampak.

“Ketika keduanya berjalan bersama, modal tidak berhenti menjadi pinjaman, tetapi dapat berubah menjadi produk yang lebih bernilai, usaha yang lebih kuat, dan pada akhirnya

meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujar Kindaris.

Perjalanan Astuti menunjukkan bagaimana dampak sebuah usaha dapat berkembang melampaui urusan jual beli. Ketika usahanya semakin tumbuh, kepercayaan dirinya pun ikut berkembang.

Ia kemudian dipercaya memegang peran sebagai Ketua Klasterisasi Bank Sampah di Kampung Madani, Waru, Penajam, Kalimantan Timur. Peran tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan Ibu Astuti.

Jika sebelumnya ia sibuk memastikan jamur hasil panen tidak terbuang, kini ia berperan serta mengajak masyarakat di lingkungannya untuk melihat barang yang dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang dapat memberikan manfaat.

Dari seorang ibu rumah tangga yang berusaha menyelamatkan sisa panen, Astuti kini menjadi penggerak kepedulian lingkungan di kampungnya.

Perubahan itu memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat melahirkan dampak yang lebih luas ketika penerimanya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan kemudian memberi manfaat kembali kepada lingkungan sekitar.

Kisah Astuti menjadi gambaran bahwa perjalanan usaha ultra mikro tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah usaha berawal dari dapur kecil, hasil panen yang tidak laku, dan keberanian untuk mencoba suatu cara baru.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau