Refleksi kh imam jazuli

Ribuan Kiai Ikuti Workshop Strategi Merintis Pesantren dari Nol di Jombang

Kompas.com - 05/09/2026, 16:13 WIB

KOMPAS.com – Di tengah pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, perhatian ribuan kiai turut tertuju pada pengembangan pesantren rintisan.

Hal itu terlihat dari antusiasme para kiai dan bu nyai yang mengikuti workshop pesantren rintisan yang digelar Imam Jazuli Foundation di Hotel Azana Jombang, Jawa Timur.

Workshop di Jombang terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama, yakni workshop angkatan kedua, digelar pada pukul 14.00-17.30 WIB. Lokakarya ini dikhususkan bagi para pengasuh pesantren di Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).

Kemudian, sesi kedua atau angkatan ketiga berlangsung pada pukul 20.00-23.00 WIB bagi perintis pesantren dari luar Jawa yang hadir dalam Muktamar Ke-35 NU.

Adapun workshop angkatan pertama telah digelar di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat.

Lebih dari 1.000 peserta yang terdiri atas kiai dan bu nyai mengikuti kegiatan tersebut. Mereka merupakan perintis pesantren yang membangun lembaga pendidikan dari awal dengan jumlah santri kurang dari 50 orang.

Sebagian peserta juga telah memiliki modal untuk membangun pesantren, tetapi belum merealisasikan rencana tersebut. Melalui program ini, Imam Jazuli Foundation menargetkan 10.000 pesantren rintisan di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, Imam Jazuli Foundation juga telah menyelesaikan workshop untuk 5.000 pengasuh pesantren transformatif di Indonesia.

Untuk pesantren rintisan, jumlah peserta ditargetkan lebih banyak karena jumlah perintisnya juga lebih besar.

Seluruh fasilitas workshop, termasuk pendanaan untuk kebutuhan kegiatan dan peserta, disiapkan oleh panitia.

Workshop untuk angkatan berikutnya irencanakan berlangsung di sejumlah kota yang memiliki jaringan Hotel Aston di Indonesia.

Kiai Imam Jazuli soroti perubahan zaman

KH Imam Jazuli menyampaikan pandangan mengenai peluang pengembangan pesantren di tengah perubahan kebutuhan masyarakat. Dok. Imam Jazuli Foundation KH Imam Jazuli menyampaikan pandangan mengenai peluang pengembangan pesantren di tengah perubahan kebutuhan masyarakat.

Sebagai narasumber utama, KH Imam Jazuli, Lc, MA, menyoroti kesiapan para pengasuh pesantren dalam merespons perubahan zaman.

Menurut Imam, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu kunci agar pesantren tetap berkembang dan diminati masyarakat.

Imam mencontohkan sejumlah korporasi yang pernah berjaya, tetapi kini tinggal nama karena terlambat merespons perubahan.

“Hal sama juga terjadi di lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Banyak pesantren lama semakin kurang diminati, sebaliknya banyak pesantren baru yang banjir peminat,” ujar Imam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (5/9/2026).

Oleh karena itu, Imam mengajak para pengasuh pesantren rintisan untuk tetap optimistis dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Menurut Imam, peluang pengembangan pesantren masih terbuka lebar karena jumlah pelajar di Indonesia yang menjadi santri masih relatif kecil.

“Dari 54 juta lebih pelajar Indonesia usia SD sampai SLTA, baru sekitar 5 persen yang menjadi santri. Artinya, peluangnya masih sangat besar. Tinggal bagaimana kita merebut hati mereka,” ujarnya.

Bagi Imam, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan para pengasuh adalah membangun komunikasi, layanan, serta menunjukkan bukti kualitas pendidikan pesantren yang dapat dipahami, diterima, dan disukai anak-anak.

Terlebih, keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren saat ini tidak hanya ditentukan orangtua, tetapi juga oleh anak.

Terkait materi workshop, Imam menyampaikan sejumlah pilar utama yang perlu disiapkan sejak awal dalam membangun pesantren. Pilar tersebut meliputi pengasuh, kurikulum, masjid, asrama, dan legalitas.

Imam juga membagikan strategi merintis dan mengembangkan pesantren berdasarkan pengalamannya membangun Bina Insan Mulia 1, 2, 3, 4, dan 5 selama 13 tahun.

Bangun citra pesantren

Suasana kegiatan workshop pesantren rintisan yang diikuti para peserta di Jombang. Dok. Imam Jazuli Foundation Suasana kegiatan workshop pesantren rintisan yang diikuti para peserta di Jombang.

Untuk memperkaya strategi membangun citra pesantren baru, Imam Jazuli Foundation menghadirkan Gus Ipang Wahid yang dikenal sebagai pakar ekonomi kreatif dan branding di Indonesia.

Gus Ipang menyoroti perubahan cara masyarakat berkomunikasi di era teknologi. Hal ini, menurutnya, menjadi peluang serta tantangan bagi para pengasuh pesantren dalam memperkenalkan lembaganya kepada publik.

Komunikasi saat ini cenderung berlangsung secara langsung dan lebih mengutamakan keaslian sehingga penyampaian pesan melalui micro story dapat menjadi salah satu pendekatan yang relevan.

“Siapa saja bisa berkomunikasi dengan orang lain kapan saja melalui perangkat teknologi. Ini peluang dan tantangan sekaligus,” jelas Gus Ipang.

Utusan Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan pengasuh Pesantren Ora Aji Yogyakarta Gus Miftah juga turut hadir.

Gus Miftah mendorong para pengasuh untuk menemukan keunggulan dan membangun optimisme dalam melihat peluang pengembangan pesantren.

“Orang pesimistis melihat kesulitan di balik kemudahan, sebaliknya orang optimistis justru melihat peluang di balik kesulitan,” papar Gus Miftah.

Pada penghujung acara, peserta dikejutkan dengan kedatangan artis dan mantan gitaris grup musik Betrayer Ustaz Derry Sulaeman.

Ustaz Derry mengajak para peserta menyanyikan lagu religi dan merenungkan tentang kesementaraan hidup dan kematian.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau