KOMPAS.com — Ketua DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri mendorong proyek pelebaran Jalan Wiyung–Menganti dan pembangunan infrastruktur pendukung lainnya dapat dituntaskan pada masa pemerintahan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Menurut pria yang akrab disapa Kaji Ipuk itu, pembangunan infrastruktur jalan tidak hanya bertujuan mengurai kemacetan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat konektivitas antarkawasan.
“Ketika jalan memadai, jalan memenuhi syarat, maka gerakan ekonomi, pergerakan ekonomi akan terjadi percepatan,” kata Kaji Ipuk dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Minggu (13/9/2026).
Ia menjelaskan, konektivitas jalan yang baik dapat mempercepat mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Sebaliknya, kemacetan berpotensi meningkatkan waktu tempuh dan biaya distribusi sehingga dapat menghambat aktivitas ekonomi.
Kaji Ipuk menilai, koridor Wiyung–Menganti merupakan salah satu akses strategis karena menghubungkan Surabaya dengan wilayah Gresik dan kawasan sekitarnya.
Menurut dia, peningkatan kapasitas jalan di jalur tersebut akan memperlancar pertukaran aktivitas ekonomi antardaerah.
“Surabaya memungkinkan ke Gresik, pertukaran atas ekonomi dan lain sebagainya, maka jalan semakin kita prioritaskan. Ini sama dengan menyiapkan diri kita menuju kemampuan mandiri dalam bidang ekonomi, kekuatan ekonomi,” ujarnya.
Kaji Ipuk juga meminta pelebaran Jalan Wiyung-Menganti dikaitkan dengan pengembangan Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB).
Konektivitas kedua jalur tersebut dinilai dapat memperlancar pergerakan dari kawasan barat Surabaya menuju jaringan jalan strategis, termasuk akses ke Pelabuhan Teluk Lamong.
Ia mengatakan, masih terdapat sejumlah pekerjaan pembangunan infrastruktur yang perlu dituntaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Beberapa proyek sebelumnya sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 dan berbagai kendala pembangunan.
“Target untuk jalan Wiyung maupun JLLB ini kan dari dulu. Targetnya kan dulu, pada masa saya Ketua Komisi 2023 itu clear. Akan tetapi, (tak berlanjut) itu (karena) ada Covid dan lain hal,” katanya.
Karena itu, Kaji Ipuk berharap proyek yang sudah direncanakan dan dibutuhkan masyarakat tidak kembali terhenti.
“Di era Pak Eri harus selesai semua. Harus selesai,” tegas Kaji Ipuk.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya Hidayat Syah mengatakan, proyek pelebaran Jalan Wiyung–Menganti saat ini dikerjakan secara multiyears.
Pekerjaan dimulai dari perempatan Jalan Babatan Unesa ke arah barat hingga Wisma Lidah Kulon.
Menurut Hidayat, pelebaran jalan sepanjang 350 meter telah direalisasikan pada 2025. Adapun pekerjaan lanjutan pada 2026-2027 memiliki panjang 1.900 meter. Pemkot Surabaya menargetkan 950 meter di antaranya dapat diselesaikan pada 2026.
“Jadi, pelebaran Jalan Wiyung-Menganti dari perempatan Jalan Babatan Unesa kita ke arah barat sampai dengan Wisma Lidah Kulon,” ujar Hidayat.
Pekerjaan tersebut meliputi pembangunan saluran, badan jalan, dan trotoar pedestrian. Saluran menggunakan konstruksi corrugated concrete sheet pile (CCSP) dengan lebar 5,4 meter. Sementara itu, badan jalan memiliki lebar 10 meter dan trotoar di sisi selatan selebar 3 meter.
Hidayat mengatakan, pelebaran dilakukan karena Jalan Wiyung–Menganti merupakan jalur utama yang menghubungkan Surabaya dengan Gresik dan Sidoarjo.
“(Proyek) ini memang sudah lama menjadi mimpinya Surabaya untuk meningkatkan kapasitas jalan. Jadi, perjalanan antarkota akan lebih lancar dan logistik juga lebih lancar,” katanya.
Proyek yang dikontrak sejak April 2026 itu dijadwalkan berlangsung hingga Mei 2027.
Pemkot Surabaya meminta pengguna jalan, terutama masyarakat yang melintas di kawasan Lidah Wetan dan Lidah Kulon, memahami potensi gangguan lalu lintas selama proses pembangunan berlangsung.
“Jadi, kami memang memohon maaf atas ketidaknyamanan ketika pekerjaan ini berlangsung, terutama untuk pengguna Jalan Wiyung-Menganti di area Lidah Wetan dan Lidah Kulon. Karena ini untuk kebermanfaatan kita ke depannya,” tutur Hidayat.