Refleksi kh imam jazuli

700 Peserta Ikuti Workshop Bu Nyai Nusantara, Bahas Keharmonisan Rumah Tangga

Kompas.com - 16/09/2026, 07:14 WIB

KOMPAS.com – Sekitar 700 peserta dari Jawa Barat mengikuti “Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara” bertema “Edukasi Seks, Kesehatan Mental, dan Keharmonisan Rumah Tangga” di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (13/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30-12.00 WIB itu membahas hubungan antara komunikasi pasangan, kesehatan mental, serta edukasi seksual dalam menjaga keharmonisan rumah tangga para pengasuh pesantren.

Penyelenggara menilai persoalan domestik yang tidak terselesaikan dapat menguras energi para pengasuh pesantren dalam menjalankan peran pendidikan, dakwah, dan pelayanan kepada masyarakat.

Ketua Panitia Ubaydillah Anwar mengatakan, kegiatan serupa ditargetkan dapat menjangkau sekitar 5.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia melalui penyelenggaraan di sejumlah kota.

Seluruh pembiayaan workshop, termasuk rencana kegiatan lanjutan di kota-kota yang memiliki jaringan Hotel Aston, berasal dari kegiatan amal Imam Jazuli Foundation.

Berawal dari keluhan rumah tangga pengasuh pesantren

Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli mengatakan, gagasan menyelenggarakan workshop berangkat dari berbagai persoalan rumah tangga yang ia dengar selama membuka open house setiap Jumat.

Dalam forum tersebut, ia mengaku kerap menerima keluhan dari pasangan suami istri pengasuh pesantren mengenai hubungan rumah tangga yang kemudian berdampak pada aktivitas mereka di pesantren.

“Dalam beberapa kesempatan, saya menerima keluhan dan pengaduan terkait keharmonisan hubungan mereka yang kemudian berdampak pada kelangsungan pesantren,” ujar Imam dalam rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (15/9/2026).

Menurut dia, sebagian persoalan berkembang menjadi konflik pasangan, pisah ranjang, hingga perceraian.

Imam juga menyinggung kasus pelecehan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pesantren, panti asuhan, ataupun majelis taklim yang sempat menjadi perhatian publik.

Ia menilai persoalan semacam itu perlu dilihat secara lebih luas, termasuk dari kondisi rumah tangga dan relasi pasangan. Menurut Imam, ketidakharmonisan dalam keluarga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika membicarakan persoalan di lingkungan sosial ataupun pesantren.

“Setelah saya telaah, sumber masalahnya adalah hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Ketidakharmonisan memicu berbagai persoalan,” katanya.

Imam melanjutkan, seorang suami juga memiliki tanggung jawab sosial yang besar sehingga ruang kehidupan pribadinya tidak selalu sama dengan masyarakat pada umumnya.

Karena itu, menurut dia, persoalan rumah tangga, termasuk yang berkaitan dengan kehidupan seksual, perlu dikelola secara serius agar tidak berkembang dan mengganggu pengabdian di pesantren maupun masyarakat.

Meski demikian, Imam menegaskan workshop tersebut tidak dirancang untuk membahas teknik hubungan seksual secara sempit.

Workshop ini bukan soal teknis hubungan seksual. Itu terlalu sempit. Hal yang lebih penting adalah memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai berbagai faktor yang menentukan kualitas hubungan suami istri, terutama komunikasi, kesehatan mental, dan edukasi seks,” ujarnya.

Edukasi seks tak hanya soal biologis

Untuk membahas persoalan tersebut, penyelenggara menghadirkan dr Boyke Dian Nugraha sebagai pakar seksolog dan Hena Rustiana sebagai pakar kesehatan mental.

Boyke menekankan pentingnya edukasi seksual bagi pasangan suami istri agar pemahaman mengenai tubuh dan relasi tidak dibangun berdasarkan mitos atau miskonsepsi.

Pengetahuan tersebut mencakup fungsi seksual, perubahan hormonal, kesuburan, hingga variasi respons seksual.

Namun, menurut Boyke, edukasi seks dalam perkawinan tidak berhenti pada pemahaman biologis. Pasangan juga perlu mampu membicarakan kebutuhan, kenyamanan, preferensi, kekhawatiran, dan batasan secara terbuka.

Tujuannya adalah membangun kehidupan seksual yang sehat, aman, saling memuaskan, sekaligus mendukung kualitas hubungan pasangan.

Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi keluarga pengasuh pesantren karena persoalan yang selama ini dianggap tabu dapat dibicarakan secara bertanggung jawab sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

“Bagi para suami dan istri, hal itu menjadi semakin penting karena kehidupan keluarga berjalan beriringan dengan tanggung jawab mereka mendidik santri, membangun lembaga, berdakwah, dan melayani masyarakat,” ujar Boyke.

Kesehatan mental ikut memengaruhi relasi pasangan

Sementara itu, Hena menyoroti hubungan antara kondisi psikologis dan kualitas relasi suami dan istri.

Ketua Kesehatan Mental Indonesia tersebut mengatakan, kehidupan seksual yang sehat tidak hanya dipengaruhi kondisi fisik, tetapi juga ketenangan pikiran, kemampuan mengelola emosi, serta rasa aman secara psikologis.

Karena itu, persoalan yang tampak sebagai masalah seksual tidak selalu bersumber dari aspek biologis atau teknis.

Stres, konflik, kecemasan, kelelahan emosional, rendahnya rasa aman, hingga buruknya komunikasi dapat memengaruhi kualitas hubungan pasangan.

“Komunikasi yang baik dapat memperkuat keintiman emosional sekaligus membuat pasangan merasa dihargai, diterima, dan terhubung,” ujar Hena.

Menurut dia, kemampuan mengungkapkan kebutuhan, kekhawatiran, kenyamanan, serta batasan tanpa takut dihakimi dapat mengurangi kecemasan dalam hubungan.

Sebaliknya, konflik berkepanjangan dan permusuhan dapat meningkatkan tekanan psikologis yang pada akhirnya ikut memengaruhi gairah dan relasi seksual.

Melalui workshop tersebut, penyelenggara ingin menempatkan persoalan rumah tangga secara menyeluruh dengan melihat keterkaitan antara tubuh, kondisi psikologis, emosi, komunikasi, dan kualitas hubungan.

Pendekatan itu diharapkan dapat membantu para suami dan istri pengasuh pondok pesantren untuk menjaga keharmonisan keluarga. Dengan begitu, energi mereka dapat lebih banyak diarahkan untuk mendidik santri, membangun pesantren, berdakwah, dan melayani masyarakat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau