Advertorial

Dari Gadai Emas hingga KUR Mikro, Holding Ultra Mikro Bawa Mur Dwi Astuti Sukses Jadi Petani di Merauke

Kompas.com - 18/09/2026, 17:48 WIB

KOMPAS.com — Bagi Mur Dwi Astuti, mengembangkan usaha pertanian padi di Merauke, Papua, merupakan perjalanan yang tidak mudah.

Selain ketekunan dalam mengelola lahan, petani juga harus berhadapan dengan perubahan cuaca, keterbatasan air, hingga serangan hama yang dapat memengaruhi hasil panen.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, ketersediaan modal menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga usaha tetap berjalan dan berkembang.

Perjalanan Mur dalam memenuhi kebutuhan finansial berlangsung secara bertahap. Sebelum memanfaatkan fasilitas perbankan, perempuan asal Merauke tersebut lebih dulu mengenal layanan gadai emas di Pegadaian.

Pengalaman tersebut tidak hanya membantunya memenuhi kebutuhan keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar mengelola uang dan menjaga keberlangsungan usaha.

Seiring usahanya berkembang, kebutuhan modal Mur pun meningkat. Setelah menjalankan usaha selama lebih dari satu tahun dengan skala sebelumnya, ia kemudian memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional pertanian.

Akses pembiayaan tersebut turut membuka ruang bagi Mur untuk memperluas lahan garapan dari semula satu hektare menjadi tiga hektare.

Tantangan cuaca dan hama

Dengan luas lahan bertambah, tidak berarti tantangan menjadi lebih ringan. Menurut Mur, kondisi cuaca dan serangan hama masih menjadi persoalan yang kerap dihadapi.

Terlebih saat musim kemarau, ketersediaan air menjadi terbatas sehingga aktivitas pertanian tidak dapat berjalan secara optimal.

“Kami (petani) ini tergantung musim, biasanya ya padi kalau bagus ya kami dapat hasil bagus, kalau jelek ya jelek,” ujar Mur dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (18/9/2026).

Ketika kebutuhan modal semakin besar, Mur mencari alternatif pembiayaan yang dapat mendukung kegiatan pertaniannya secara produktif. Ia kemudian memilih KUR Mikro BRI salah satunya karena skema tersebut tidak mengharuskannya menyediakan jaminan lain.

Saat pengajuan, Mur juga memperoleh pendampingan dari petugas BRI. Ia mengatakan komunikasi dilakukan secara langsung dengan respons yang cukup cepat.

“Kami langsung menghubungi petugasnya, langsung ditanya-tanya, dilayani,” ujarnya.

Belajar mengelola keuangan usaha

KUR Mikro BRI selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan operasional pertanian, mulai dari proses budidaya, pembayaran tenaga kerja, hingga biaya penggunaan alat pertanian.

Dukungan modal tersebut membantu Mur meningkatkan skala usaha hingga lahan yang dikelolanya kini mencapai tiga hektare.

Hasil pengembangan usaha yang didukung KUR Mikro BRI. Mur Dwi Astuti di lokasi penunjang usaha pertaniannya di Merauke, Papua.Dok. BRI Hasil pengembangan usaha yang didukung KUR Mikro BRI. Mur Dwi Astuti di lokasi penunjang usaha pertaniannya di Merauke, Papua.

Seiring skala usaha bertambah, Mur juga merasakan perubahan dalam cara mengelola keuangan. Ia mengakui sebelumnya masih mengalami kesulitan mengatur keuangan usaha.

Melalui pendampingan dari BRI, ia mulai belajar menyisihkan sebagian uang untuk kembali digunakan sebagai modal pada siklus tanam berikutnya.

“Soalnya kan, kami ini belum bisa mengelola keuangannya. Nah, terus kami dibantu oleh BRI, jadi kami bisa simpan uangnya lebih mudah,” ujarnya.

Bagi Mur, kemampuan mengelola keuangan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha pertanian yang sangat bergantung pada musim.

Tambahan modal tidak hanya membantu operasional, tetapi juga memberinya ruang untuk mengembangkan lahan secara bertahap.

Pengalaman tersebut turut menjadi perjalanan kemandirian ekonomi bagi Mur sebagai perempuan yang menekuni sektor pertanian.

“Ya, yang penting kami tuh mau berusaha, pasti perempuan juga bisa,” ujarnya.

Dengan lahan yang telah berkembang dari satu menjadi tiga hektare, Mur memang masih dihadapkan pada tantangan perubahan musim dan ketersediaan air.

Namun, pengalaman memperoleh akses pembiayaan membuatnya lebih berani melihat peluang untuk mengembangkan usaha. Ia pun mengajak petani dan pelaku usaha kecil lain untuk tidak ragu mengambil langkah selama mampu memenuhi kewajibannya.

Peran ekosistem Holding Ultra Mikro

Secara terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan bahwa perjalanan Mur di Merauke menggambarkan bagaimana ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) yang terdiri dari BRI, Pegadaian, dan PNM dapat membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha secara bertahap sesuai kebutuhan dan perkembangan usahanya.

“Pengalaman Mur yang terlebih dahulu memanfaatkan gadai emas di Pegadaian, kemudian beralih memanfaatkan KUR Mikro BRI menunjukkan adanya ruang bagi pelaku usaha untuk tumbuh dan naik kelas seiring meningkatnya kebutuhan modal,” ujar Dhanny.

Melalui sinergi dalam Holding Ultra Mikro, BRI, Pegadaian, dan PNM terus memperkuat akses layanan keuangan bagi masyarakat ultra mikro, mikro, dan kecil.

Akses tersebut diharapkan tidak hanya membantu masyarakat memperoleh pembiayaan, tetapi juga mendorong mereka untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau