KOMPAS.com – Menjalankan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di era digital bukan lagi sekadar mencari konsumen. Pelaku UMKM harus memutar otak lebih keras agar usahanya dapat bertahan dan menjangkau pelanggan di tengah persaingan yang ketat.
Data yang dirilis Kementerian Koperasi dan UKM pada 2023 mencatat, sekitar 65,5 juta UMKM yang menggerakan roda perekonomian Tanah Air. Meskipun memberi kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tertinggi sebesar 60 persen, UMKM di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan di dunia digital.
Salah satu tantangannya adalah tekanan biaya. Berjualan secara daring bukan tanpa biaya. Pelaku UMKM harus mengeluarkan biaya saat bertransaksi ataupun melakukan aktivitas promosi untuk memperluas visibilitas produknya.
Di setiap transaksinya, pelaku UMKM harus merelakan margin keuntungannya terpotong karena biaya admin dan layanan. Jadi, meskipun jualan laku keras dan omzet yang diperoleh cukup besar, tetapi keuntungan bersihnya mengecil akibat biaya tambahan tersebut.
Diberitakan Kompas.id, Sabtu (18/4/2026), laporan riset Momentum Works yang berjudul “E-Commerce in Southeast Asia 2026” menyebutkan, komisi dan biaya (take rate) yang dibebankan platform lokapasar kepada penjual di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terus meningkat. Shopee, misalnya, tingkat rata-rata take rate-nya mencapai sekitar 13,5 persen pada triwulan IV 2025.
Take rate di platform lokapasar terdiri atas beberapa komponen utama, antara lain komisi platform atas setiap penjualan, biaya layanan untuk fitur tambahan seperti promo atau bebas ongkir, biaya transaksi dari metode pembayaran, serta biaya iklan untuk promosi produk. Selain itu, ada pula biaya operasional lain seperti pengembalian barang dan biaya admin tambahan sesuai kebijakan platform.
Adapun skema promosi gratis ongkir yang biasanya disediakan platform. Akan tetapi, jangan senang dulu. Meskipun menjadi strategi andalan yang dapat memikat pembeli, biaya promosi ini dibebankan kepada pelaku UMKM.
Melihat hal tersebut, pelaku usaha terus berhadapan dengan tantangan dari tekanan biaya yang tak kasat mata.
Jika tidak diperhitungkan secara matang, keuntungan bisa saja tergerus oleh biaya platform dan keuntungan bisa semakin menipis. Oleh karena itu, pelaku UMKM harus menyusun strategi agar promosi berjalan efektif, sementara keberlangsungan usaha tetap terjaga.
Ini berarti, pelaku UMKM bukan lagi menghadapi tantangan soal harga bahan baku atau kemasan yang bisa naik sewaktu-waktu, melainkan juga tantangan digital yang terkadang tidak terlihat di permukaan.
Memahami realita tantangan yang dihadapi pelaku UMKM di era digital, program NEO rheumacyl Peduli UMKM 2026 secara konsisten mendukung pemberdayaan UMKM melalui kontribusi nyata.
Sebagai brand yang mendukung masyarakat Indonesia selama puluhan tahun untuk tetap berjuang, NEO rheumacyl juga memiliki semangat yang sama untuk hadir di setiap langkah UMKM dalam mengejar rezeki.
Program tersebut terbuka lebar bagi pelaku UMKM yang ingin meningkatkan kapasitas usahanya di era digital. NEO rheumacyl memberikan total dukungan senilai Rp 1 miliar berupa modal usaha serta paket dukungan bisnis di Tempomart.com selama enam bulan.
Tempomart.com merupakan platform e-commerce milik Tempo Scan Group yang telah hadir sejak 2019 untuk memenuhi beragam kebutuhan masyarakat. Seiring perkembangannya, Tempomart juga membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk memperluas akses pasar melalui kanal digital.
Melalui ekosistem yang dibangun, Tempomart tidak hanya berperan sebagai kanal penjualan, tetapi juga sebagai mitra yang mendukung UMKM menjangkau lebih banyak konsumen dan mengembangkan usahanya dengan komisi penjualan yang lebih efisien dibandingkan e-commerce lainnya.
Sebanyak 20 UMKM terpilih akan mendapatkan modal usaha masing-masing Rp 50 juta dengan dana tunai Rp 40 juta untuk mengembangkan UMKM-nya agar semakin berdaya saing di dunia digital dan paket dukungan bisnis di Tempomart.com selama enam bulan.
Pelaku UMKM dapat mendaftarkan diri di laman www.neorheumacyl.com/PeduliUMKM, kesempatan terbuka mulai 28 Agustus hingga 28 Oktober 2026.