Advertorial

QRIS Lintas Negara, Cara Baru Bayar Saat Bepergian

Kompas.com - 20/09/2026, 22:27 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com – Saniah (54), perempuan asal Bengkalis, Riau, sudah beberapa kali bepergian ke luar negeri. Malaysia bukan negara baru baginya. Namun, ada satu hal yang berbeda dalam perjalanannya kali ini.

Saat hendak makan, belanja, atau melakukan transaksi lainnya selama hampir 10 hari di Malaysia, Saniah tidak lagi harus banyak membawa uang tunai dalam mata uang ringgit. Ia cukup mengandalkan ponsel yang dibawanya.

Ketika menemukan merchant yang menerima pembayaran QR, Saniah cukup membuka aplikasi pembayaran dari Indonesia dan melakukan pemindaian. Transaksi berlangsung tanpa harus terlebih dahulu mencari tempat penukaran uang.

“Pembayarannya pakai QRIS lebih mudah. Sekarang enggak butuh bawa duit (tunai) banyak-banyak,” ujar Saniah saat ditemui di kawasan Kampung Baru, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (16/9/2026).

Pengalaman tersebut sebenarnya bukan hal baru baginya. Sebelum bepergian ke Malaysia, Saniah juga telah menggunakan QRIS saat berkunjung ke China dan Jepang.

Pengalaman Saniah menunjukkan bahwa QRIS yang selama ini lekat dengan transaksi sehari-hari di Indonesia kini ikut digunakan ketika masyarakat bepergian ke luar negeri. Pembayaran digital tersebut telah terhubung dengan sistem pembayaran di sejumlah negara tujuan wisatawan Indonesia.

Mobilitas wisatawan dan pembayaran yang ikut melintasi batas

Kebutuhan tersebut muncul seiring tingginya mobilitas masyarakat Indonesia ke negara-negara di kawasan Asia.

Singapura, misalnya, menerima 1.339.607 pengunjung dari Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026. Menurut data dari Singapore Tourism Board dan Singapore Department of Statistics, jumlah itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar sumber utama Singapura.

Di Singapura, wisatawan Indonesia dapat melakukan pembayaran QRIS melalui merchant yang menerima NETS QR. Dok. KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Di Singapura, wisatawan Indonesia dapat melakukan pembayaran QRIS melalui merchant yang menerima NETS QR.

Sementara di Malaysia, Indonesia juga menjadi salah satu pasar pariwisata utama. Tourism Malaysia mencatat kunjungan wisatawan dari Indonesia mencapai 4,3 juta pada 2025 atau meningkat 2,9 persen dibandingkan 2024.

Besarnya mobilitas tersebut turut memperluas aktivitas ekonomi lintas negara. Wisatawan tidak hanya membeli tiket pesawat dan membayar hotel. Mereka makan di restoran, berbelanja di pasar, membeli oleh-oleh, juga bertransaksi di pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Sistem pembayaran pun menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Jika sebelumnya wisatawan perlu menyiapkan uang tunai dalam mata uang negara tujuan atau menggunakan instrumen pembayaran tertentu, konektivitas QRIS Antarnegara atau QRIS Cross Border membuat pembayaran dapat dilakukan melalui aplikasi pembayaran yang telah digunakan sehari-hari di Indonesia.

Bank Indonesia sendiri mengembangkan QRIS Antarnegara sebagai konektivitas pembayaran lintas negara yang memungkinkan wisatawan Indonesia membayar di merchant negara mitra dengan memindai kode QR yang berlaku di negara tersebut.

Sebaliknya, wisatawan asing juga dapat menggunakan aplikasi pembayaran dari negaranya untuk bertransaksi di merchant Indonesia yang menerima QRIS Antarnegara.

Di Malaysia, standar QR yang digunakan adalah DuitNow QR. Sementara di Singapura, wisatawan Indonesia dapat melakukan pembayaran melalui merchant yang menerima NETS QR. Transaksi diproses secara real-time setelah berhasil.

Dari satu pemindaian ke konektivitas dua sistem pembayaran

Bagi pengguna, proses pembayaran menggunakan QRIS terlihat sederhana. Mereka cukup membuka aplikasi pembayaran, memindai kode QR, memastikan nominal, lalu menyelesaikan transaksi.

Namun, kesederhanaan di sisi pengguna merupakan hasil dari konektivitas sistem pembayaran di belakangnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Singapura Widi Agustin S mengatakan, pengembangan QRIS Antarnegara merupakan bagian dari upaya BI yang konsisten dalam mengembangkan sistem pembayaran untuk menciptakan efisiensi transaksi keuangan.

“QRIS Antarnegara merupakan upaya BI yang konsisten melakukan pengembangan sistem pembayaran untuk menciptakan efisiensi transaksi keuangan,” ujar Widi di Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Singapura.

Dalam regulasi Bank Indonesia, pengembangan QRIS diarahkan untuk mendukung transaksi ritel yang cepat, mudah, murah, aman, andal, dan inklusif, termasuk bagi UMKM.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Singapura Widi Agustin S. Dok. KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Kepala Perwakilan Bank Indonesia Singapura Widi Agustin S.

Melalui QRIS Antarnegara, pengguna dapat melihat nilai transaksi dalam rupiah ketika melakukan pembayaran di negara mitra. Sementara itu, merchant di negara tujuan menerima pembayaran dalam mata uang lokal sesuai mekanisme yang berlaku.

Manfaat konektivitas tersebut juga dirasakan dari sisi merchant. Bank Indonesia menyebut, QRIS Antarnegara antara lain ditujukan untuk mempermudah transaksi perdagangan dan pariwisata serta mendukung UMKM agar dapat menerima pembayaran digital dari wisatawan mancanegara.

Di Singapura, pemilik toko Hypnovintage di kawasan Haji Lane, Dohartua Parlindungan Sihombing, merasakan manfaat tersebut dari sisi pelanggan. Menurut dia, transaksi digital membantu pelanggan melihat kembali catatan pembelian melalui akun mereka.

“Mereka bisa track apa yang mereka beli di account mereka. Jadi, enggak ada kebohongan. Jadi, mereka lebih senang dan trust ke merchant juga terbangun,” kata Dohartua, Jumat (18/9/2026).

Sementara itu, Nazri, Manajer Nasi Lemak Wanjo Malaysia, menilai pembayaran digital juga memudahkan proses transaksi bagi merchant dan pengunjung.

“(Pembayaran digital) memudahkan merchant sekaligus pelanggan karena mereka tidak perlu membawa uang tunai atau mencari tempat penukaran uang sebelum melakukan transaksi,” ucap Nazri.

Manfaat bagi merchant tersebut menjadi bagian penting dalam perluasan ekosistem QRIS. Basis merchant QRIS di Indonesia juga didominasi pelaku UMKM.

Bank Indonesia mencatat, hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant. Sebanyak 96,68 persen merchant tersebut merupakan UMKM.

Dengan basis pengguna dan merchant yang besar di dalam negeri, perluasan QRIS Antarnegara kemudian menghubungkan ekosistem pembayaran tersebut dengan aktivitas ekonomi lintas negara.

Transaksi lintas negara terus bertumbuh

Pengalaman yang dirasakan Saniah sebagai pengguna serta Nazri dan Dohartua sebagai merchant berlangsung di tengah meluasnya penggunaan QRIS Antarnegara.

Sejak diluncurkan pada Mei 2023 hingga Februari 2026, Bank Indonesia mencatat QRIS Antarnegara Indonesia-Malaysia telah mencapai 10,66 juta transaksi dengan nominal Rp 2,75 triliun.

Sementara di Singapura, sepanjang periode November 2023 hingga Februari 2026, transaksi QRIS mencapai 554.510 transaksi dengan nominal Rp 179,28 miliar. Adapun konektivitas dengan Thailand mencatat 1,64 juta transaksi senilai Rp 656,27 miliar selama periode Agustus 2022 hingga Februari 2026.

Konektivitas tersebut juga digunakan dalam dua arah. Sepanjang 2025, transaksi wisatawan asing yang menggunakan QRIS di Indonesia (inbound) mencapai 5.892.621 transaksi. Pada periode yang sama, transaksi masyarakat Indonesia di luar negeri (outbound) mencapai 1.681.112 transaksi.

Perluasan konektivitas itu menjadi bagian dari pengembangan sistem pembayaran Bank Indonesia untuk mendukung transaksi ekonomi dan keuangan yang lebih efisien.

Dalam Tinjauan Kebijakan Moneter, Bank Indonesia menyebut, penguatan akseptasi digital dilakukan antara lain melalui perluasan QRIS dan penguatan kerja sama QRIS Cross-Border pada koridor yang sudah terbentuk.

Bank Indonesia juga mendorong perluasan QRIS Cross-Border di berbagai destinasi pariwisata dan bagi wisatawan mancanegara.

Upaya memperluas akseptasi tersebut juga dilakukan Bank Indonesia Perwakilan Singapura. Widi merinci, pada Januari-Juli 2026, total transaksi QRIS Antarnegara dalam wilayah kerja KPw Bank Indonesia Singapura yang mencakup Singapura, Malaysia, dan Thailand telah mendekati 10 juta transaksi.

“Khusus Singapura sendiri, transaksinya sampai dengan Juli sudah mencapai 407.000 transaksi,” ujar Widi.

Untuk memperluas akseptasi tersebut, Bank Indonesia Perwakilan Singapura menjalankan inisiatif bernama Gerakan Akseptasi QRIS Antarnegara untuk Digitalisasi dan Akselerasi atau Garuda.

Wisatawan asal Indonesia berfoto di ikon Singapura, Merlion Park, pada Jumat (18/9/2026). Dok. KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Wisatawan asal Indonesia berfoto di ikon Singapura, Merlion Park, pada Jumat (18/9/2026).

Menurut Widi, salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng maskapai nasional yang melayani rute Jakarta-Singapura. Melalui kerja sama tersebut, penumpang mendapatkan edukasi mengenai penggunaan QRIS Antarnegara selama berada di Singapura.

Edukasi juga dilakukan melalui kerja sama dengan penyedia layanan yang beroperasi di Singapura dan Jakarta. Mekanismenya antara lain melalui notifikasi pesan singkat kepada wisatawan Indonesia ketika tiba di Singapura. Pesan tersebut menginformasikan bahwa QRIS Antarnegara dapat digunakan di negara tersebut.

Bank Indonesia juga bekerja sama dengan bank sentral di kawasan serta perusahaan penyedia infrastruktur pembayaran atau switcher untuk memperluas akseptasi QRIS di Singapura.

“Jadi, melalui Gerakan Garuda ini, kami melakukan berbagai strategi untuk melakukan perluasan QRIS yang ada di Singapura,” kata Widi.

Dari QR wisatawan menuju konektivitas sistem pembayaran kawasan

Pengembangan QRIS Antarnegara tidak berhenti pada kebutuhan wisatawan yang bertransaksi di negara mitra. Konektivitas tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia memperluas interkoneksi sistem pembayaran dengan berbagai negara.

Setelah terhubung dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura, konektivitas QRIS kemudian diperluas ke Jepang, Korea Selatan, hingga China.

Pada Mei 2026, Bank Indonesia menyebut konektivitas QRIS Indonesia-China sebagai bagian dari perluasan konektivitas pembayaran digital lintas negara.

Pengembangan serupa juga dilakukan dengan Korea Selatan. Bank Indonesia dan Bank of Korea berharap konektivitas QR Antarnegara kedua negara dapat meningkatkan efisiensi pembayaran, antara lain melalui pengurangan biaya konversi valuta asing dan biaya transaksi. Konektivitas tersebut juga diarahkan untuk mendukung aktivitas perdagangan, pariwisata, dan konsumsi di kedua negara.

Perluasan konektivitas tersebut memperlihatkan bahwa QRIS Antarnegara juga berkembang sebagai bagian dari kerja sama sistem pembayaran lintas negara.

Bagi Saniah, seluruh proses tersebut terasa sederhana. Ia hanya perlu membuka aplikasi pembayaran, memindai kode QR, lalu melanjutkan perjalanan.

Namun, pengalaman sederhana itu menjadi bagian dari konektivitas sistem pembayaran yang kini memungkinkan transaksi dilakukan lintas negara.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau