Advertorial

Modal Besar Bonus Demografi, Siapkah Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi?

Kompas.com - 25/09/2026, 13:33 WIB

KOMPAS.com - Di tengah riuh rendah pembahasan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan energi hijau, sebenarnya ada isu lain yang menggugah, yaitu demografi di Indonesia.

Dengan penduduk sekitar 290 juta jiwa pada 2026, Indonesia mempunyai tantangan serta peluang dalam memanfaatkannya.

Jumlah penduduk usia produktif yang melimpah dan digadang-gadang sebagai “bonus demografi” rupanya belum otomatis menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

Alih-alih menjadi garansi percepatan, dominasi populasi tersebut baru sekadar “modal” yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Data menunjukkan tren positif di pasar kerja Indonesia. Seperti dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang, naik sekitar 522.000 ketimbang Februari 2026. Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 4,65 persen, atau turun 0,03 persen.

Namun, di balik sinyal penguatan tersebut, ketersediaan lapangan pekerjaan masih menjadi tantangan. Masyarakat dari berbagai kelompok usia, baik produktif maupun nonproduktif, masih membutuhkan pekerjaan untuk menopang perekonomian rumah tangga.

Fenomena ketidaksesuaian atau mismatch antara jenjang pendidikan dan ketersediaan pekerjaan juga makin melebar.

Banyak tenaga kerja terdidik sulit terserap. Angka pengangguran usia produktif masih mendominasi keluhan pasar tenaga kerja dalam negeri.

Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia I Dewa Gede Karma Wisana mengingatkan, Indonesia menghadapi risiko besar karena produktivitas pekerja masih relatif tertinggal jika dibandingkan negara ASEAN lain.

Pekerjaan di sektor informal yang berupah rendah dan minim perlindungan juga masih sangat mendominasi.

Menurutnya, tanpa ada perluasan lapangan kerja formal, peningkatan keterampilan yang relevan dengan industri, serta jaminan tabungan hari tua, modal demografi tersebut justru berpotensi berbalik menjadi beban ketergantungan di masa depan.

“Struktur umur penduduk Indonesia yang saat ini didominasi oleh penduduk muda memberi kita modal. Akan tetapi, modal tersebut baru menghasilkan jika dipekerjakan secara produktif dan mampu menabung atau berinvestasi. Nah, kedua syarat tersebut yang belum terpenuhi,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (24/9/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa bonus demografi bukan sekadar tentang banyaknya usia produktif, melainkan cara memaksimalkan potensi tersebut dapat ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi.

Peningkatan lapangan pekerjaan yang diimbangi dengan penguatan kompetensi akan membuahkan generasi produktif yang adaptif dan sesuai dengan dinamika perubahan zaman.

Dinamika ekonomi dan perubahan demografi membawa tantangan serta peluang yang berbeda bagi setiap generasi.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan perspektif yang menyeluruh serta kolaborasi lintas generasi untuk membangun ketahanan ekonomi.

Sejalan dengan komitmen KONTAN selama tiga dekade menemani masyarakat Indonesia dalam memahami dan mengarungi dinamika ekonomi nasional, KONTAN menghadirkan ruang untuk mempertemukan pemikiran, pengalaman, serta perspektif dari berbagai kalangan dalam melihat arah ekonomi Indonesia ke depan.

KONTAN mempersembahkan Kontan Economic & Demographic Forum 2026 bertema “Navigating the Economy Across Generations”, yang akan berlangsung di Studio 1 Kompas TV, Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Forum ekonomi tersebut akan menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai bidang, yakni Menteri Keuangan Republik Indonesia Suahasil Nazara, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu, dan Co-Founder and Executive Director Synergy Policies Dinna Prapto Raharja.

Kemudian, Kepala Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia I Dewa Gede Karma Wisana, Komisaris Utama dan Group Chief Executive Officer Mayapada Healthcare Jonathan Tahir, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja, serta Co-Founder dan Chief Executive Officer Se’Indonesia Rinaldi Dharma Utama.

Forum tersebut digelar khusus dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-30 KONTAN dan menjadi wadah diskusi interaktif dan solutif untuk membahas tantangan dan peluang ekonomi lintas generasi.

Tantangan itu meliputi bagaimana menyelaraskan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri? Strategi apa yang paling tepat untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing tenaga kerja? Bagaimana memastikan bonus demografi benar-benar menjadi kekuatan bagi perekonomian Indonesia?

Sebab, demografi bukan hanya tentang berapa banyak penduduk usia produktif yang dimiliki Indonesia, melainkan tentang bagaimana potensi tersebut dapat ditransformasikan menjadi produktivitas, kesejahteraan, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Kini, saatnya melihat demografi tidak sekadar sebagai angka, tetapi kekuatan untuk menentukan arah ekonomi Indonesia di masa depan.

Ingin ikut menyimak dan berdiskusi langsung mengenai masa depan ekonomi Indonesia? Jadilah bagian dari Kontan Economic & Demographic Forum 2026. Daftar sebagai peserta melalui economicforum.kontan.co.id.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau