Advertorial

Antara Ibu, Kopi, dan Mimpi: Kisah Anak Rantau Mengejar Asa

Kompas.com - 25/09/2026, 17:10 WIB

KOMPAS.com – Di balik keputusan seseorang untuk merantau, sering kali ada mimpi yang ingin dibawa pulang. Bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan atau penghasilan yang lebih baik, melainkan juga keinginan untuk membahagiakan orang-orang terdekat.

Bagi sebagian orang, mimpi tersebut bahkan menjadi alasan untuk terus bertahan ketika perjalanan yang ditempuh tidak berjalan sesuai rencana.

Hal itulah yang tergambar dalam short movie Bank Syariah Indonesia (BSI) berjudul Antara Ibu, Kopi, dan Mimpi.

Film pendek tersebut mengangkat perjalanan Farhan, seorang anak yang meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di Jakarta. Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada sang ibu yang akrab disapa Amak.

Ada satu keinginan besar yang dibawa Farhan dalam perantauannya, yakni mencari rezeki dan membangun kehidupan yang lebih baik agar suatu hari dapat memberangkatkan Amak menunaikan ibadah haji.

Namun, sebagaimana perjalanan meraih mimpi pada umumnya, jalan yang harus ditempuh Farhan tidak selalu mudah.

Peluang yang berawal dari secangkir kopi

Dalam perjalanannya menuju Jakarta, Farhan bertemu dengan Raffi di atas kapal. Pertemuan yang awalnya sederhana itu kemudian berkembang setelah Farhan berbagi secangkir kopi buatannya.

Dari secangkir kopi tersebut, Raffi melihat potensi yang dimiliki Farhan. Raffi kemudian menjadi salah satu support system yang mendorong Farhan untuk berani melangkah lebih jauh dengan membuka usaha gerobak kopi.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa peluang terkadang hadir dari sesuatu yang tidak direncanakan. Kebaikan sederhana, pertemuan dengan orang yang tepat, keberanian menunjukkan kemampuan, serta relasi yang dibangun dengan baik dapat membuka jalan menuju kesempatan baru.

Bagi Farhan, kesempatan tersebut menjadi awal untuk membangun usaha sekaligus mendekatkannya pada mimpi yang sejak awal ia bawa dari kampung halaman.

Namun, memiliki kesempatan dan keberanian memulai usaha tidak serta-merta membuat perjalanan menjadi mudah.

Pelaku usaha juga harus berhadapan dengan berbagai ketidakpastian, termasuk menjaga keberlangsungan bisnis ketika kebutuhan finansial datang secara tiba-tiba.

Farhan pun mengalaminya. Di tengah perjuangannya membangun usaha, ia kehilangan uang tabungan yang dimilikinya. Kondisi tersebut membawa Farhan ke salah satu titik terendah dalam perjuangannya.

Uang yang seharusnya dapat menopang usaha raib begitu saja. Di sisi lain, bisnis yang telah ia bangun tetap membutuhkan biaya agar dapat terus berjalan. Situasi tersebut sempat membuat Farhan berada di ambang menyerah.

Di titik itulah daya juangnya diuji. Farhan harus menentukan apakah ia akan berhenti atau mencari jalan lain agar usahanya tetap dapat dipertahankan, alih-alih sekadar berhadapan dengan persoalan modal.

Ketika kebutuhan hari ini bertemu mimpi masa depan

Dalam kondisi terdesak, Farhan mulai mempertimbangkan pilihan yang berat.

Ia terpikir untuk mencairkan tabungan emas yang selama ini dipersiapkannya untuk mewujudkan mimpi memberangkatkan Amak berhaji. Dilema tersebut menjadi salah satu titik emosional dalam perjalanan Farhan.

Di satu sisi, ia membutuhkan dana untuk mempertahankan usahanya. Namun, di sisi lain, emas tersebut menjadi bagian dari tujuan jangka panjang yang sejak awal menjadi alasan dirinya berjuang.

Situasi tersebut sekaligus menggambarkan tantangan yang dapat dihadapi pelaku usaha ketika arus kas terganggu atau kebutuhan mendesak muncul.

Dalam kondisi semacam itu, pilihan finansial yang diambil dapat menentukan keberlangsungan usaha sekaligus memengaruhi rencana yang telah disiapkan untuk masa depan.

Di tengah kebimbangannya, Raffi kembali hadir sebagai support system. Raff pun menyarankan Farhan memanfaatkan layanan Gadai Emas BSI, alih-alih langsung menjual emas yang dimiliki.

Melalui pilihan tersebut, emas dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh dana yang dibutuhkan tanpa harus langsung dilepas. Bagi Farhan, langkah ini memberinya ruang untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan aset yang telah dipersiapkan untuk mewujudkan mimpi ibunya berhaji.

Bagian cerita tersebut juga menunjukkan pentingnya memahami pilihan finansial ketika menghadapi situasi mendesak.

Gadai Emas BSI dihadirkan sebagai salah satu alternatif pembiayaan bagi masyarakat yang membutuhkan dana dengan memanfaatkan emas yang dimiliki sebagai jaminan. Dengan begitu, aset tidak harus langsung dijual ketika kebutuhan likuiditas muncul.

Bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pilihan semacam itu dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga kebutuhan arus kas ketika usaha menghadapi situasi tak terduga.

Menemani perjalanan dari titik terendah hingga meraih mimpi

Perjalanan Farhan pada akhirnya tidak semata berbicara tentang membangun usaha kopi.

Di baliknya, terdapat cerita mengenai seorang anak yang berusaha menjaga tujuan awalnya, menghadapi ujian, mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, serta mencari jalan keluar ketika berada dalam kondisi sulit.

Kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa kegigihan tidak selalu harus dijalani seorang diri. Dukungan lingkungan yang positif, keberanian melihat peluang, serta kemampuan memilih solusi finansial yang sesuai dapat membantu seseorang terus melangkah ketika menghadapi tantangan.

Melalui Antara Ibu, Kopi, dan Mimpi, BSI membawa semangat “Melayani Sepenuh Hati” dengan menempatkan diri sebagai sahabat finansial yang hadir dalam berbagai fase perjalanan nasabah.

Tidak hanya menyediakan layanan transaksi, BSI juga ingin menjadi mitra bagi pelaku UMKM dalam menghadapi kebutuhan finansial, mempertahankan usaha, hingga kembali melanjutkan langkah untuk berkembang.

Pada akhirnya, perjalanan Farhan mengingatkan bahwa sebuah mimpi tidak selalu dicapai melalui jalan yang lurus.

Ada peluang yang datang tanpa direncanakan, ujian yang mengharuskan seseorang mencari jalan lain, serta orang-orang yang hadir memberikan dukungan pada saat yang tepat.

Di tengah semuanya, ikhtiar, doa ibu, lingkungan pertemanan yang positif, serta pilihan finansial yang tepat menjadi bagian dari perjalanan Farhan untuk tetap menjaga mimpi yang sejak awal ia perjuangkan.

Bagi Farhan, mimpi tersebut bukan hanya tentang keberhasilan usaha, melainkan tentang Amak dan harapan untuk suatu hari mengantarkannya menuju Tanah Suci.

Melalui kisah Farhan, BSI ingin menyampaikan bahwa perjalanan menuju sebuah impian dapat dipenuhi berbagai tantangan. Namun, dengan kegigihan, dukungan orang-orang terdekat, serta solusi finansial yang sesuai, tantangan tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju hasil yang lebih baik dan penuh berkah.

Untuk menyaksikan short movie BSI Antara Ibu, Kopi, dan Mimpi, silakan kunjungi tautan ini.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau