Advertorial

Dari Beasiswa Kampus Dunia, Pimpinan Konsultan Global, hingga Resep Beradaptasi di Era AI

Kompas.com - 28/09/2026, 16:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Seorang konsultan dituntut memahami persoalan dari berbagai sudut pandang ketika diminta untuk membantu perusahaan membuat keputusan bisnis dalam waktu singkat.

Tidak hanya melihat angka, konsultan juga perlu membaca perilaku manusia, memahami kepentingan berbagai pihak, serta melihat keterkaitan antara satu persoalan dengan persoalan lain.

Kemampuan tersebut tidak terbentuk dalam semalam. Bagi Managing Director & Senior Partner Boston Consulting Group (BCG) Edwin Utama, cara berpikir itu ditempa melalui perjalanan panjang yang bermula ketika ia meninggalkan industri perbankan untuk menempuh pendidikan Master of Business Administration (MBA) di Amerika Serikat.

Lebih dari dua dekade kemudian, pengalaman tersebut membawanya bekerja menangani beragam tantangan kompleks, mulai dari sektor keuangan hingga kebijakan publik.

Perjalanan itu tidak berawal dari perencanaan karier yang panjang. Salah satu titik baliknya justru datang dari keputusan memberanikan diri mengambil peluang pendidikan ke luar negeri.

Memilih untuk terus belajar

Keputusan untuk menempuh pendidikan di luar negeri tidak diambil tanpa pertimbangan. Ia menyadari bahwa masih banyak hal yang mesti ia pelajari.

Sebelum melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat, misalnya, Edwin telah bekerja sebagai manajer operasional di sebuah bank multinasional dan menangani berbagai special projects.

Edwin Utama bersama dua pewawancara.Dok. Istimewa Edwin Utama bersama dua pewawancara.

Edwin sendiri bukanlah berlatar belakang dari keilmuan ekonomi dan bisnis. Berbekal ilmu Teknik Industri, ia pun terbiasa memecahkan persoalan secara teknis dan spesifik. Pada saat bersamaan, ia dituntut untuk mempelajari seluk-beluk industri perbankan agar dapat mengefisienkan operasional bisnis.

Berada di lingkungan kerja tersebut pun membuatnya melihat bahwa persoalan bisnis tidak selalu dapat dipahami dari satu sudut pandang.

Kesempatan untuk memperluas cara berpikir itu kemudian datang ketika Edwin menemukan informasi mengenai program beasiswa Putera Sampoerna Foundation (PSF) di surat kabar Harian Kompas. Pada masa itu, beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terutama Amerika Serikat, masih relatif jarang.

"Beasiswa (pendidikan) ke luar negeri yang dibayarkan penuh saat itu masih jarang" ujar Edwin saat berbincang dengan Kompas.com, Kamis (3/9/2026).

Bagi Edwin, kesempatan tersebut terasa sesuai dengan kebutuhannya saat itu. Selain membuka jalan untuk belajar di Kellogg School of Management, Northwestern University, program tersebut juga memiliki ketentuan untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan.

"Saya memang berencana untuk berkarir di Indonesia. Jadi, (beasiswa dari PSF) benar-benar pas untuk saya," katanya.

Alih-alih hanya menambah pengetahuan bisnis, pengalaman MBA justru mempertemukan Edwin dengan cara berpikir yang sebelumnya tidak banyak ia temui. Ia berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang, mulai dari sektor swasta dan pemerintahan hingga kesehatan dan olahraga.

"Dulu, cara berpikir saya lebih banyak dari teknik industri, kemudian kerja di bank. Nah, pada saat saya ke MBA ini, banyak cara pandang berbeda yang saya lihat," ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Edwin memahami bahwa satu persoalan dapat dilihat dari banyak sisi. Kesadaran ini kemudian menjadi bekal yang terus ia bawa ketika memasuki dunia konsultasi.

Belajar dari persoalan-persoalan baru

Dunia konsultasi mempertemukan Edwin dengan tantangan yang berbeda. Ketika masih menjalani pendidikan MBA, ia mendapat kesempatan magang di Boston Consulting Group (BCG). Di sana, ia harus mengerjakan proyek di sektor yang sudah dikenalnya, yaitu perbankan, namun terkait persoalan baru yang belum pernah ia tangani.

"Hal yang menarik dari konsultan adalah kesempatan belajar banyak dalam waktu singkat," kata Edwin.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya kembali bergabung dengan Boston Consulting Group (BCG) setelah menyelesaikan MBA. Selama lebih dari dua dekade, pekerjaan itu membuatnya terus berpindah dari satu persoalan ke persoalan lain, mulai dari strategi bisnis, penjualan, produktivitas, organisasi dan institusi, baik untuk sektor swasta maupun pemerintah

Menurut Edwin, ketidakberulangan itu justru membuat dunia konsultasi menarik.

"(Di dunia konsultasi) kami (dituntut) tidak boleh mengandalkan pengetahuan masa lalu dan di tempat lain untuk membuat solusi. Kami dituntut untuk selalu unlearn dan relearn" tuturnya.

Bagi Edwin, setiap tahap dalam perjalanan kariernya menjadi kesempatan untuk menemukan hal yang belum ia pahami, kemudian mencari cara untuk menghadapinya.

Teknologi dorong manusia beradaptasi

Pola belajar tersebut kembali diuji ketika teknologi berkembang semakin cepat. Setelah lebih dari dua dekade berada di dunia konsultasi, Edwin melihat kemunculan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai salah satu perubahan besar yang akan memengaruhi cara manusia bekerja.

Menurut Edwin, AI akan mengubah dunia kerja sebagaimana komputer pribadi dahulu mengubah cara manusia bekerja. Namun, ia tidak melihatnya sebagai pertarungan antara manusia dan mesin.

Sebaliknya, teknologi dapat mengambil alih pekerjaan yang lebih efisien dilakukan oleh mesin, sementara manusia perlu semakin mengasah kemampuan yang tidak mudah digantikan teknologi.

"Manusia harus menjadi lebih manusia," ujarnya.

Menurutnya, kemampuan seperti empati, membangun cerita (storyline), membangun kepercayaan, berpikir secara sistemis, dan kreativitas justru semakin penting di era sekarang.

Kemampuan empati, misalnya, seseorang dituntut untuk tidak sekadar mendengarkan, tetapi benar-benar memahami apa yang tersirat. Kepercayaan dibangun melalui empati itu, komitmen, konsistensi, dan kemampuan menjaga hubungan.

Pemahaman tersebut juga ia temukan ketika mengembangkan Fotogrit. Platform yang awalnya digunakan untuk mendokumentasikan pertandingan basket anak-nya, yang kemudian berkembang menjadi platform kompetisi olahraga tingkat daerah dan nasional.

Di sana, Edwin kembali berhadapan dengan persoalan yang berbeda dari pekerjaannya sebagai konsultan. Ia melihat bahwa AI dapat mempercepat pengembangan teknologi secara signifikan.

Edwin Utama bersama dua temannya dalam sebuah foto lawas.Dok. Istimewa Edwin Utama bersama dua temannya dalam sebuah foto lawas.

Sistem yang dahulu mungkin membutuhkan waktu hingga dua tahun, menurutnya, kini dapat dikembangkan dalam waktu sekitar satu bulan dengan bantuan AI. Namun, teknologi bukan satu-satunya hal yang menentukan.

"Teknologi itu mudah ditiru, yang sulit ditiru adalah bagaimana kita membuat solusi inovatif, memberikan pelayanan yang lebih dari harapan, menciptakan kepercayaan dari pelanggan, dan membangun ekosistem," katanya.

Ekosistem Fotogrit melibatkan pemain, orangtua, pelatih, pemilik turnamen, hingga pemilik klub. Pengalaman tersebut kembali memperlihatkan kepada Edwin bahwa membuat solusi inovatif, memahami manusia, memberikan pelayanan yang lebih dari harapan, dan membangun kepercayaan tetap menjadi bagian penting, bahkan ketika teknologi berkembang semakin cepat.

Bawa pulang perspektif dari kampus dunia

Perjalanan Edwin menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti saat seseorang memperoleh gelar. Pengalaman belajar bersama orang-orang dari berbagai latar belakang menjadi bekal yang terus ia gunakan ketika berpindah dari satu persoalan ke persoalan lain di dunia konsultasi.

Kini, ketika teknologi berkembang semakin cepat, kemampuan untuk terus belajar dan memahami manusia justru menjadi semakin penting. Bagi Edwin, generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis untuk menghadapi perubahan.

"Jangan berhenti pada kemampuan teknis. Bangun juga empati, jaga kepercayaan, bangun hubungan, latih cara berpikir yang sistematis, dan kembangkan kreativitas," pesannya.

Bagi Edwin, nilai sebuah pendidikan tidak hanya terletak pada gelar yang diperoleh, tetapi pada apa yang dilakukan seseorang dengan pengetahuan dan pengalaman yang dibawanya setelah kembali ke dunia nyata.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau