KOMPAS.com – Caping Kalo, penutup kepala perempuan yang menjadi bagian dari busana adat Kudus, kini semakin jarang ditemui dalam keseharian masyarakat. Penutup kepala ini justru hanya hadir dalam kegiatan budaya maupun seremonial.
Kondisi ini disebabkan oleh penurunan jumlah perajin yang masih menekuni keterampilan menganyam bambu.
Caping Kalo sebenarnya tak hanya menjadi pelengkap busana. Di balik bentuknya itu, terdapat keterampilan mengolah bambu serta cerita dan nilai budaya yang tumbuh di tengah masyarakat Kudus.
Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk kembali mengenalkan Caping Kalo kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui Tari Lajur Caping Kalo yang mengangkat perjalanan bambu hingga menjadi caping ke dalam sebuah pertunjukan tari.
Tari Lajur Caping Kalo dipentaskan secara kolosal di Pendopo Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 670 penari tampil serentak dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-477 Kota Kudus.
Dengan jumlah penari sebanyak itu, pementasan tersebut pun tercatat di rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori pagelaran Tari Lajur Caping Kalo dengan Jumlah Penari Terbanyak.
CSR Department Head PT Nojorono Tobacco International Dimas Handoko mengatakan, pelestarian budaya membutuhkan ruang agar warisan yang lahir pada masa lalu tetap dapat dikenali dan dirasakan relevansinya oleh generasi saat ini.
"Warisan budaya selalu memiliki nilai yang patut dijaga. Tantangannya bagi kita adalah bagaimana caranya agar warisan tersebut tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat," ujar Dimas melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (29/9/2026).
Dimas melanjutkan, pementasan Tari Lajur Caping Kalo menjadi salah satu cara Nojorono untuk merawat nilai yang diwariskan dari masa lalu serta mengenalkannya kepada generasi saat ini.
"Ketika keduanya dapat berjalan beriringan, budaya bukan hanya terjaga, tetapi juga terus bertumbuh seiring waktu," katanya.
Penyerahan piagam rekor MURI selepas pertunjukan dari 670 penari Caping Kalo di Kudus, Jawa Tengah.Dokumentasi yang menjadi pertunjukan
Upaya tersebut bermula dari kerja bersama antara Yayasan Karya Bakti Nojorono (YKBN) dan Nojorono Kudus sejak 2022. Keduanya menggali dan mendokumentasikan kembali sejarah serta nilai budaya Caping Kalo melalui observasi dan penelaahan terhadap nilai historisnya.
Dari proses tersebut, muncul gagasan untuk membawa cerita Caping Kalo keluar dari dokumentasi dan mengenalkannya kembali melalui bentuk yang dapat dinikmati masyarakat.
Tari Lajur Caping Kalo kemudian dikembangkan dari gagasan tersebut. Tari ini terinspirasi dari perjalanan bambu yang diolah hingga menjadi caping dengan keterampilan menganyam diterjemahkan ke dalam bahasa gerak.
Melalui pementasan Tari Lajur, cerita yang selama ini hidup di balik kerajinan khas Kudus dapat disampaikan. Caping Kalo pun diperkenalkan tidak hanya sebagai bagian dari busana adat, tetapi juga sebagai hasil keterampilan mengolah bambu yang memiliki cerita di balik prosesnya.
Tari Lajur kemudian dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi YKBN dan Nojorono Kudus bersama Pemerintah Kabupaten Kudus. Pagelaran dengan 670 penari menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-477 Kota Kudus.
Para penari dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu panggung untuk membawakan Tari Lajur Caping Kalo. Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha Djumaryo turut hadir bersama Bupati Kudus Sam'ani Intakoris dan jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus.
Dimas mengatakan, pagelaran tersebut menjadi kesempatan untuk membuat lebih banyak orang mengenal Caping Kalo dan cerita yang menyertainya.
"Caping Kalo tidak sekadar lahir dari keseharian masyarakat Kudus, tetapi juga menyimpan cerita, keterampilan, dan nilai budaya yang jauh lebih besar dari fungsi awalnya. Tari Lajur menjadi salah satu cara untuk menghadirkan kembali cerita tersebut dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini," kata Dimas.
Ia menambahkan, dengan semakin banyak masyarakat mengenal Caping Kalo, kian terbuka pula peluang bagi warisan budaya tersebut untuk terus berkembang dan menginspirasi generasi berikutnya.