Advertorial

Tari Lajur Caping Kalo, Cara Kenalkan Kembali Kerajinan Tradisional Kudus

Kompas.com - 30/09/2026, 13:22 WIB

KOMPAS.com – Caping Kalo, penutup kepala perempuan yang menjadi bagian dari busana adat Kudus, kini semakin jarang ditemui dalam keseharian masyarakat. Penutup kepala ini justru hanya hadir dalam kegiatan budaya maupun seremonial.

Kondisi ini disebabkan oleh penurunan jumlah perajin yang masih menekuni keterampilan menganyam bambu.

Caping Kalo sebenarnya tak hanya menjadi pelengkap busana. Di balik bentuknya itu, terdapat keterampilan mengolah bambu serta cerita dan nilai budaya yang tumbuh di tengah masyarakat Kudus.

Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk kembali mengenalkan Caping Kalo kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui Tari Lajur Caping Kalo yang mengangkat perjalanan bambu hingga menjadi caping ke dalam sebuah pertunjukan tari.

Tari Lajur Caping Kalo dipentaskan secara kolosal di Pendopo Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026). Sebanyak 670 penari tampil serentak dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-477 Kota Kudus.

Dengan jumlah penari sebanyak itu, pementasan tersebut pun tercatat di rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori pagelaran Tari Lajur Caping Kalo dengan Jumlah Penari Terbanyak.

CSR Department Head PT Nojorono Tobacco International Dimas Handoko mengatakan, pelestarian budaya membutuhkan ruang agar warisan yang lahir pada masa lalu tetap dapat dikenali dan dirasakan relevansinya oleh generasi saat ini.

"Warisan budaya selalu memiliki nilai yang patut dijaga. Tantangannya bagi kita adalah bagaimana caranya agar warisan tersebut tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat," ujar Dimas melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (29/9/2026).

Dimas melanjutkan, pementasan Tari Lajur Caping Kalo menjadi salah satu cara Nojorono untuk merawat nilai yang diwariskan dari masa lalu serta mengenalkannya kepada generasi saat ini.

"Ketika keduanya dapat berjalan beriringan, budaya bukan hanya terjaga, tetapi juga terus bertumbuh seiring waktu," katanya.

Penyerahan piagam rekor MURI selepas pertunjukan dari 670 penari Caping Kalo di Kudus, Jawa Tengah.Dok. Nojorono Penyerahan piagam rekor MURI selepas pertunjukan dari 670 penari Caping Kalo di Kudus, Jawa Tengah.

Dokumentasi yang menjadi pertunjukan

Upaya tersebut bermula dari kerja bersama antara Yayasan Karya Bakti Nojorono (YKBN) dan Nojorono Kudus sejak 2022. Keduanya menggali dan mendokumentasikan kembali sejarah serta nilai budaya Caping Kalo melalui observasi dan penelaahan terhadap nilai historisnya.

Dari proses tersebut, muncul gagasan untuk membawa cerita Caping Kalo keluar dari dokumentasi dan mengenalkannya kembali melalui bentuk yang dapat dinikmati masyarakat.

Tari Lajur Caping Kalo kemudian dikembangkan dari gagasan tersebut. Tari ini terinspirasi dari perjalanan bambu yang diolah hingga menjadi caping dengan keterampilan menganyam diterjemahkan ke dalam bahasa gerak.

Melalui pementasan Tari Lajur, cerita yang selama ini hidup di balik kerajinan khas Kudus dapat disampaikan. Caping Kalo pun diperkenalkan tidak hanya sebagai bagian dari busana adat, tetapi juga sebagai hasil keterampilan mengolah bambu yang memiliki cerita di balik prosesnya.

Tari Lajur kemudian dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi YKBN dan Nojorono Kudus bersama Pemerintah Kabupaten Kudus. Pagelaran dengan 670 penari menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-477 Kota Kudus.

Para penari dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu panggung untuk membawakan Tari Lajur Caping Kalo. Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha Djumaryo turut hadir bersama Bupati Kudus Sam'ani Intakoris dan jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus.

Dimas mengatakan, pagelaran tersebut menjadi kesempatan untuk membuat lebih banyak orang mengenal Caping Kalo dan cerita yang menyertainya.

"Caping Kalo tidak sekadar lahir dari keseharian masyarakat Kudus, tetapi juga menyimpan cerita, keterampilan, dan nilai budaya yang jauh lebih besar dari fungsi awalnya. Tari Lajur menjadi salah satu cara untuk menghadirkan kembali cerita tersebut dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini," kata Dimas.

Ia menambahkan, dengan semakin banyak masyarakat mengenal Caping Kalo, kian terbuka pula peluang bagi warisan budaya tersebut untuk terus berkembang dan menginspirasi generasi berikutnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau