KOMPAS.com - Gelak tawa dan keriuhan para siswa yang bermain di halaman sekolah menjadi ucapan selamat datang yang diterima tim Jagat Literasi Kompas.com setibanya di SD Negeri Muktiharjo Kidul 01 pada Kamis (17/9/2026) pagi.
Sekolah yang berada di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang itu menjadi salah satu tujuan program Jagat Literasi di Jawa Tengah pada 16-19 September 2026.
Saat tim Jagat Literasi sedang bersiap untuk berkoordinasi dengan para guru, seorang siswa mendekat dan menanyakan mengenai kegiatan yang akan dilakukan di sekolahnya.
Ketika diberitahu bahwa akan ada kegiatan literasi, mata anak itu berbinar dan dengan antusias menanyakan apakah akan ada buku tentang astronomi.
Sambutan antusias itu menjadi energi bagi tim Jagat Literasi yang memfasilitasi pembelajaran literasi di SDN Muktiharjo Kidul 01 dengan menghadirkan sejumlah bahan ajar.
Bersama fasilitator dari tim Jagat Literasi Kompas.com, siswa SDN Muktiharjo Kidul 01 diajak belajar dengan aktif dan ceria.
-Kegiatan dimulai pada pagi hari dengan pembagian cerita bergambar oleh fasilitator. Para siswa yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok diminta untuk menelaah cerita.
Mereka dengan antusias membaca cerita "Si Pejuang Air", kisah perjuangan seorang anak di Sumba Timur untuk mendapatkan air.
Masing-masing anggota kelompok saling memberikan pendapat tentang cerita.
Ada yang mengidentifikasi tokohnya, ada yang menggambarkan alurnya, dan ada yang menarik kesimpulan dari keseluruhan cerita.
Satu perwakilan kelompok diminta menyampaikan hasil pembacaan dari cerita tersebut.
Sementara, siswa yang lain menyimak dengan penuh perhatian ketika ada temannya yang sedang bercerita.
-Selain belajar memahami teks dengan media cerita, para siswa juga diajak untuk mengenal STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Pada sesi ini, setiap siswa diminta merakit kipas angin mini dari kit yang sudah disediakan. Antusiasme mereka terlihat saat kit mulai dibagikan.
Mereka bergegas membuka dan mengeluarkan isinya. Bahkan, sebagian sudah langsung mempraktikkan instruksi perakitan yang disertakan.
Ruangan berubah menjadi riuh ketika salah seorang dari mereka menjadi yang pertama berhasil merakit dan menyalakan kipas anginnya.
Siswa yang lain tidak mau ketinggalan. Mereka berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, dan turut mengulurkan tangan ketika ada rekannya yang kesulitan.
Guru pengampu kelas VI, Riyanto mengatakan, kegiatan Jagat Literasi yang berlangsung dari pagi hingga hampir tengah hari itu sangat bermanfaat bagi siswa.
Bukan hanya menambah pengetahuan, mereka juga belajar untuk saling membantu dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah.
"Anak-anak kerja sama dengan adik kelasnya. Kan jarang seperti tadi, biasanya ego. Nah, kan tadi bisa saling kompak," ungkap Riyanto, yang mendampingi para siswa selama kegiatan Jagat Literasi berlangsung.
Ia pun berharap agar program Jagat Literasi dapat terus dilanjutkan.
"Apa yang sudah menjadi program ini dapat ditindaklanjuti. Kami senang juga ada hal-hal seperti ini. Anak-anak ternyata juga bisa betul-betul tambah pengetahuan," tuturnya.
-Adapun, kegiatan Jagat Literasi: Ekspedisi Kata ke Nyata di SDN Muktiharjo Kidul 01 terselenggara berkat dukungan Tanoto Foundation.
Ancilla Irwan, Education Development Lead Tanoto Foundation mengatakan bahwa peningkatan kemampuan literasi generasi muda sejalan dengan upaya Tanoto Foundation dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
“Upaya peningkatan literasi tidak berhenti pada penyediaan buku atau kemampuan membaca. Namun harus berfokus pada siswa untuk terlibat aktif dalam diskusi, bekerja sama, dan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan Jagat Literasi bersama siswa SDN Muktiharjo Kidul 01 serta selaras dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang dicanangkan oleh Kemendikdasmen,” ujar Ancilla.
Evaluasi Program PINTAR Tanoto Foundation tahun 2023 turut membuktikan bahwa praktik pembelajaran aktif di kelas menjadi salah satu faktor yang meningkatkan hasil belajar siswa (termasuk kompetensi literasi) hingga 38,8%.
Empat tahun lalu, ruang perpustakaan dan sebagian besar koleksi buku di SDN Muktiharjo Kidul 01 rusak terkena banjir besar yang melanda Semarang.
Upaya memperbaiki perpustakaan bukannya tidak dilakukan. Namun, banjir terjadi nyaris setiap tahun sehingga sekolah terpaksa memprioritaskan meninggikan ruang kelas dan ruang guru agar selamat seandainya banjir kembali melanda.
-Saat ini perpustakaan masih belum aktif. Meski demikian, para guru tidak berpangku tangan dan terus berupaya menjaga kesadaran literasi melalui pojok literasi di setiap kelas.
"Kami upayakan pojok literasi itu tetap ada. Terkadang, kami meminta orang tua siswa untuk menyumbangkan buku tidak terpakai di rumah agar bisa dimanfaatkan sebagai bahan bacaan di pojok literasi di kelas," kata Riyanto.
Sartri, salah satu siswa yang mengikuti kegiatan Jagat Literasi, berharap agar kualitas pojok literasi di kelas dapat ditingkatkan.
"Kalau bisa literasi di kelas diperbanyak supaya kita rajin membaca," kata Sartri, yang mengaku suka membaca komik dan dongeng.
Harapan serupa juga disampaikan oleh Alesya, siswa yang mengaku cita-citanya adalah menjadi dokter.
"Pojok literasinya ditambahin banyak buku yang beragam jenis. Biar kita bisa sama-sama baca dan menambah informasi bersama," tuturnya.
Alesya mengaku sedih karena perpustakaan sekolah rusak. Ia pun berharap agar renovasinya bisa segera dirampungkan.
"Semoga saja renovasinya bisa dipercepat. Biar kita semua bisa baca buku bareng-bareng di perpustakaan," ujar Alesya.
Alvaro, siswa yang bertanya tentang buku astronomi ketika tim Jagat Literasi tiba di sekolah, turut mengungkapkan harapannya tentang pojok literasi.
Anak laki-laki yang bercita-cita menjadi astronot itu tidak ragu menyebutkan bahwa topik bacaan yang kini diminatinya adalah filsafat dan astronomi.
Kepada tim Jagat Literasi, ia menyampaikan harapannya agar pojok literasi yang sudah ada di setiap kelas dapat diperbesar dan diperbanyak koleksi bukunya.
"(Harapannya) pojok literasinya diperbesar. Soalnya, biar bisa baca bareng-bareng karena pojok literasi itu tergolong kecil ukurannya," kata Alvaro.