KOMPAS.com – Kebakaran yang terjadi di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Agustus 2026, tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat, tetapi juga aktivitas usaha yang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Bagi sebagian warga, kebakaran turut menghanguskan alat kerja dan ruang untuk mencari nafkah. Di tengah masa pemulihan, warga pun perlu memiliki alat untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan kembali.
Hal tersebut dikemukakan Heppy Susanti, salah satu korban di Desa Sade yang kehilangan sumber penghasilannya.
“Yang paling berat bukan hanya kehilangan tempat tinggal atau tempat berjualan. Kami kehilangan tempat untuk bekerja. Padahal, dari menenun dan menjual kain inilah kebutuhan keluarga sehari-hari dipenuhi,” ujar Heppy dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (1/9/2026).
Heppy merupakan nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM) Membina Ekonomi Sejahtera (Mekaar) dan telah bergabung sejak lima tahun lalu. Ia sempat merasa kehilangan harapan setelah rumahnya hangus menjadi abu.
Di tengah suasana duka itu, dukungan yang diterima warga turut membantu mereka menata kembali kehidupan dan usaha.
“Saya terharu saat PNM datang dua hari setelah kebakaran dan langsung kasih bantuan. Sekarang, PNM datang kembali dengan bantuan yang lebih bermakna. Terima kasih karena sudah merangkul kami sejak awal sampai sekarang,” ujar Heppy.
PNM bersama BRI Insurance (BRINS) melanjutkan pendampingan bagi nasabah terdampak melalui program Madani Tanggap Desa Adat Sade.
Sebelumnya, PNM telah memberikan bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Kini, dukungan diarahkan pada pemulihan usaha nasabah.
Pada tahap awal, PNM telah menyalurkan peralatan dapur dan kebutuhan keluarga. Dukungan kemudian dilanjutkan dengan pemberian alat tenun, mesin jahit industrial, serta gawangan untuk mendukung kegiatan produksi masyarakat.
Pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga dan anak-anak juga diberikan sebagai bagian dari pemulihan. Dengan demikian, dukungan tidak hanya menyasar kebutuhan usaha, tetapi juga kondisi keluarga.
Bagi para pengrajin, alat tenun dan mesin jahit merupakan bagian penting dari aktivitas sehari-hari. Peralatan tersebut membantu mereka memulai kembali kegiatan produksi setelah kebakaran.
Direktur Utama Permodalan Nasional Madani (PNM) Kindaris (tengah) berfoto bersama warga Desa Sade dan juga perwakilan PNM yang mendampinginya setelah menyalurkan bantuan alat tenun.“Alat tenun ini sangat berarti bagi kami. Mudah-mudahan, setelah ini, kami bisa mulai menenun lagi, punya penghasilan lagi, dan perlahan mengembalikan kehidupan seperti sebelumnya. Bantuan dari asuransi juga sudah saya terima dan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambah Heppy.
Di Desa Sade terdapat 56 nasabah binaan PNM Mekaar yang selama ini mengandalkan usaha tenun, kerajinan, hingga penjualan kain khas Sade sebagai sumber penghasilan keluarga.
Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, pemulihan tidak cukup hanya dengan membantu memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga perlu memberikan dukungan agar masyarakat dapat membangun kembali sumber penghidupannya.
Selain pendampingan dari PNM, perlindungan dari BRINS turut menjadi bagian dari pemulihan nasabah melalui pembayaran klaim asuransi. Dukungan tersebut membantu nasabah memenuhi kebutuhan keluarga serta menata aktivitas usaha setelah kebakaran.
“PNM berharap, bantuan ini menjadi langkah awal agar ibu-ibu di Desa Adat Sade dapat kembali menjalankan usahanya. Ketika alat kerja kembali tersedia, harapan untuk menghidupkan kembali ekonomi keluarga juga ikut tumbuh. Dalam kesempatan ini, kami menggandeng BRI Insurance untuk menyalakan harapan itu,” ujar Kindaris.
Sade sendiri bukan sekadar destinasi wisata. Desa adat yang dikenal dengan rumah tradisional dan kerajinan tenunnya itu merupakan ruang hidup bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun menjaga tradisi serta menggantungkan ekonomi dari aktivitas pariwisata dan kerajinan.
Oleh karena itu, upaya pemulihan usaha warga juga berkaitan dengan keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan antargenerasi.
Ketika seorang ibu kembali menenun, kegiatan tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga menjaga keterampilan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sade.
PNM juga tengah menyiapkan pendampingan lanjutan bagi para nasabah melalui berbagai program pemberdayaan. Pendampingan ini meliputi penguatan usaha melalui klasterisasi, pengembangan Ruang Pintar untuk pendidikan anak-anak, serta membuka akses pasar yang lebih luas agar produk warga tidak berhenti pada pasar lokal.
“Ini bagian dari misi pemberdayaan PNM, membuka akses dan kesempatan agar nasabah mampu untuk kembali berdiri setelah bencana, mengembangkan usaha, dan melihat pasar yang lebih luas,” tutur Kindaris.