Advertorial

Konsisten Tegakkan Aturan, Pemprov Jabar Hentikan Pembangunan Pusat Data AI

Kompas.com - 02/10/2026, 20:33 WIB

KOMPAS.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan penghentian pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Jawa Barat, merupakan upaya pemerintah dalam menegakkan aturan sekaligus melindungi kepentingan masyarakat.

Pria yang akrab disapa KDM itu sempat mempertanyakan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yang belum keluar, sementara pembangunannya tetap dilaksanakan.

“Kesalahannya (pelaksanaan pembangunan) di mana? Di Pemda Purwakarta? Bukan. Kesalahannya ada di konsultannya, sampai ketika saya datang belum memasukkan data," ujarnya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (2/10/2026).

KDM menuturkan, kebijakan telah diambil secara baik sesuai kewenangan provinsi atau kabupaten. Adapun izin AMDAL merupakan kewenangan Dinas Lingkungan setempat.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa pemerintah selalu bersikap adil dan obyektif dalam membuat kebijakan. Salah satunya, dengan melibatkan akademisi Universitas Indonesia, yang akan mewakili Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, untuk memberikan tanggapan dan masukan terkait pembangunan pusat data AI.

Menurut KDM, pembangunan tersebut tidak masalah dilaksanakan dengan syarat memiliki izin AMDAL. Ia juga mengingatkan agar pembangunan tidak mengganggu kebutuhan air warga setempat.

“Akan tetapi, (ada) satu catatan, warga Purwakarta yang berkorban untuk kepentingan Jatiluhur harus mendapat akses air. Tidak boleh terganggu," tegasnya.

Kebutuhan air untuk pusat data

KDM menyampaikan, kebutuhan air BDx Data Center saat beroperasi nantinya dapat dipenuhi dari Waduk Jatiluhur dengan menggunakan jatah dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Purwakarta.

Adapun PDAM Purwakarta memiliki alokasi air dari Waduk Jatiluhur sebesar 3.000 liter per detik.

KDM menjelaskan, selama puluhan tahun, PDAM hanya menggunakan sekitar 380 liter per detik atau setara 11 persen dari alokasi tersebut. Dengan demikian, sisa alokasi air dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pusat data.

"Kalau dari jatah yang diberikan dari 100 persen baru dipakai 11 persen, berarti ada 89 persen air yang tidak dimanfaatkan oleh PDAM. Sekarang dipakai lagi sebanyak 14 persen oleh perusahaan. Masih kurang apa nyisa? Nyisa. Sederhana," tegasnya.

Sebelumnya, KDM telah mengunjungi pusat data AI di kawasan Jatiluhur pada Selasa (28/7/2026). Kedatangannya bertujuan untuk memastikan investasi senilai Rp 3,5 triliun itu dibangun di lahan yang aman dari bencana banjir, gempa, serta erupsi gunung berapi.

Selain itu, KDM juga memastikan kebutuhan air dan listrik untuk operasional pusat data AI tercukupi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau