JAKARTA, KOMPAS.com – Lokasi kerap menjadi salah satu pertimbangan awal ketika mencari tempat tinggal untuk keluarga. Namun, di tengah pola aktivitas masyarakat perkotaan yang semakin beragam, definisi lokasi strategis tidak selalu sama bagi setiap keluarga.
Tempat kerja orangtua, sekolah anak, fasilitas kesehatan, pusat perbelanjaan, hingga aktivitas sehari-hari dapat tersebar di wilayah berbeda. Karena itu, memilih hunian juga perlu mempertimbangkan pola perjalanan, kebutuhan ruang, serta lingkungan tempat keluarga menjalani keseharian.
Berdasarkan laporan Wilayah Statistik Metropolitan Indonesia 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabekpunjur) memiliki karakter metropolitan polisentris. Dengan demikian, terdapat sejumlah pusat pertumbuhan yang saling terhubung dengan pola komuter multiarah dan kompleks.
BPS juga mencatat bahwa pola mobilitas di wilayah penyangga menunjukkan adanya pergerakan harian yang tinggi sehingga mengakibatkan tekanan pada sistem transportasi, terutama pada jam sibuk. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas penduduk Jabodetabek tidak lagi hanya bertumpu pada satu pusat kegiatan.
Pertimbangan konsumen terhadap hunian pun semakin multidimensional. Dikutip dari Rumah123, pencari properti di Jabodetabek pada September 2026 semakin selektif. Pertimbangannya meliputi harga, luas bangunan, dan lokasi.
Head of Market Research Rumah123 Marisa Jaya mengatakan, konsumen juga semakin memperhitungkan “nilai waktu” dalam memilih hunian. Waktu tempuh, akses ke tempat kerja dan fasilitas keluarga, serta biaya mobilitas menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.
Hal serupa terlihat dalam interaksi Astra Property dengan calon pembeli sepanjang 2026. Presiden Direktur Astra Land Indonesia Selvi Xu mengatakan, kebutuhan hunian setiap keluarga dapat berbeda mengikuti fase kehidupan dan aktivitas sehari-hari.
“Perbedaan kebutuhan keluarga yang mempertimbangkan Altéa BLVD, Arumaya Residences, dan Asya sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu fase kehidupan (life stage), pola mobilitas harian, dan orientasi ruang hidup (spatial preference),” ujar Selvi dalam wawancara tertulis dengan Kompas.com, Kamis (1/10/2026).
Dengan demikian, satu jenis hunian belum tentu sesuai bagi semua keluarga. Ada yang membutuhkan rumah tapak dengan ruang yang dapat berkembang, ada yang mengutamakan efisiensi perjalanan, dan ada pula yang mencari lingkungan lebih luas untuk menjalani aktivitas bersama keluarga.
Altéa BLVD di Cibubur menawarkan hunian rumah tapak dengan konsep ruang yang fleksibel serta didukung konektivitas transportasi menuju pusat aktivitas.Rumah tapak dengan ruang yang mengikuti kebutuhan keluarga
Bagi keluarga muda yang menginginkan rumah tapak, kebutuhan ruang sering kali perlu diseimbangkan dengan akses menuju berbagai pusat aktivitas. Karakter tersebut menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan Altéa BLVD di Cibubur.
Altéa BLVD merupakan properti hasil pengembangan Astra Land Indonesia bersama Sinar Mas Land. Hunian ini memiliki akses melalui Tol Jatikarya dan terhubung dengan area sekitar LRT Harjamukti.
Konektivitas transportasi turut membentuk daya tarik sebuah kawasan hunian. Dikutip dari Rumah123, permintaan properti di kawasan sekitar jaringan LRT Jabodebek masih tumbuh pada kuartal I 2025.
Pertumbuhan permintaan secara kuartalan juga mengalami peningkatan sebesar 31,1 persen di area yang mencakup Ciracas, Cipayung, dan Cimanggis, termasuk kawasan sekitar Stasiun Harjamukti. Sementara itu, secara umum area di sekitar stasiun MRT yang sudah beroperasi mencatat pertumbuhan permintaan properti 57,2 persen secara tahunan.
Meski demikian, nilai Altéa BLVD tidak hanya terletak pada konektivitas. Pilihan ruang tinggalnya juga dirancang untuk menjawab kebutuhan keluarga yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
Salah satunya adalah Cluster Rivara yang menawarkan beberapa pilihan rumah tiga lantai dengan tiga hingga empat kamar tidur. Setiap tipe juga menyediakan family atau study room yang dapat digunakan sebagai ruang belajar, ruang kerja, ataupun area aktivitas keluarga.
Rivara 6, misalnya, memiliki luas tanah 72 meter persegi dan luas bangunan sekitar 123 meter persegi. Tipe ini dilengkapi tiga kamar tidur, tiga kamar mandi, family atau study room, serta dua carport.
Untuk keluarga yang membutuhkan ruang lebih besar, Rivara 8 memiliki empat kamar tidur dengan luas bangunan sekitar 192 meter persegi. Hunian ini tersedia dalam dua opsi, yakni lahan 112 meter persegi dan 170 meter persegi.
Variasi tersebut memberi ruang bagi keluarga untuk menyesuaikan hunian dengan jumlah anggota ataupun aktivitas di dalam rumah. Ruang tambahan, misalnya, dapat berubah fungsi mengikuti kebutuhan keluarga pada fase kehidupan berikutnya.
Kualitas kehidupan di luar rumah turut menjadi bagian dari pengembangan kawasan. Altéa BLVD mengembangkan fasilitas komunitas yang mencakup clubhouse, area komersial, dan kawasan mixed-use.
Pendekatan terhadap lingkungan juga diperkuat melalui sertifikasi Greenship Platinum dengan acuan Greenship Neighborhood dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Salah satu penerapannya adalah jalur pedestrian khusus yang dilengkapi pohon peneduh.
Selain itu, air hujan dan air kotor diolah untuk dapat dimanfaatkan kembali sebagai air penyiraman tanaman. Sementara itu, mixed-use area, area komersial, dan clubhouse masih dikembangkan sebagai bagian dari Community Well Being Strategy.
Untuk klaster Rivara, jalan boulevard dan river promenade dijadwalkan beroperasi pada November 2026. Serah terima unit juga direncanakan berlangsung pada bulan yang sama, sedangkan sales book telah mencapai sekitar 90 persen.
Arumaya Residences di koridor TB Simatupang mengintegrasikan hunian vertikal dengan akses transportasi publik untuk mendukung efisiensi mobilitas masyarakat perkotaan.Efisiensi mobilitas untuk keluarga dengan aktivitas tinggi
Kebutuhan berbeda dapat muncul pada pasangan bekerja atau keluarga kecil dengan mobilitas tinggi. Dalam situasi tersebut, kemudahan mobilitas antara rumah, tempat kerja, dan fasilitas sehari-hari dapat memengaruhi alokasi waktu untuk keluarga.
Karakter ini menjadi salah satu pembeda Arumaya Residences di koridor TB Simatupang, Jakarta Selatan. Hunian tersebut menjadi bagian dari kawasan The Arumaya yang mengintegrasikan residensial, perkantoran, retail, dan area komersial.
Lokasinya juga memiliki keterhubungan dengan Tol JORR serta koridor MRT Jakarta. Stasiun MRT Lebak Bulus dan Fatmawati berjarak sekitar satu kilometer dari kawasan dan dapat dijangkau menggunakan transportasi publik ataupun transportasi daring.
Integrasi kawasan membuat sejumlah kebutuhan dapat dijangkau tanpa harus selalu melakukan perjalanan keluar kompleks. Penghuni Arumaya Residences, misalnya, dapat menuju area retail Menara FIF melalui connecting bridge dari Lobby Timur.
Akses tersebut menggunakan sistem khusus bagi penghuni Arumaya Residences. Kontrol akses juga diterapkan pada lift dan area publik hunian yang dilengkapi sistem keamanan selama 24 jam.
Konsep kepraktisan tersebut juga diterapkan pada pilihan ruang tinggal. Arumaya menyediakan unit satu kamar tidur sekitar 55 meter persegi, one-bedroom deluxe sekitar 61 meter persegi, serta unit dua kamar tidur sekitar 82 meter persegi.
Pilihan unit lainnya menyediakan ruang tambahan yang dapat digunakan untuk belajar atau bekerja dari rumah. Dengan begitu, penghuni tetap memiliki ruang khusus untuk beraktivitas tanpa harus mengubah fungsi kamar tidur atau area utama.
Kebutuhan di luar unit didukung fasilitas bersama, baik untuk aktivitas individu maupun keluarga. Arumaya menyediakan sky pool, sky gym, yoga room, kids playground, dan taman yang saat ini telah beroperasi.
Fasilitas lain meliputi kids pool, multifunction room, barbecue pit, hingga area lounge. Kombinasi tersebut memberi penghuni pilihan untuk berolahraga, bersantai, ataupun melakukan aktivitas keluarga tanpa harus selalu meninggalkan kawasan hunian.
Selvi menuturkan bahwa saat ini, sekitar 70 persen unit Arumaya Residences telah terjual.
Dengan karakter tersebut, Arumaya menawarkan nilai pada efisiensi keseharian. Konektivitas, integrasi kawasan, pilihan unit, fasilitas, dan privasi dirancang untuk mendukung keluarga yang menjalani ritme aktivitas perkotaan yang padat.
Kawasan Asya di Jakarta Garden City menyediakan ruang hidup yang luas dilengkapi fasilitas RTH dan danau untuk mendukung aktivitas keluarga multigenerasi.Ruang hidup lebih luas untuk keluarga yang terus berkembang
Pada fase kehidupan lain, prioritas keluarga umumnya mulai bergeser. Ruang yang lebih luas, lingkungan untuk beraktivitas bersama, serta ketersediaan fasilitas di sekitar rumah bisa mendapat porsi pertimbangan yang lebih besar.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu karakter yang ditawarkan Asya di Jakarta Garden City, Jakarta Timur. Kawasan ini ditujukan bagi keluarga mapan, upgrader, ataupun keluarga multigenerasi yang membutuhkan ruang tinggal dan lingkungan yang dapat digunakan bersama.
Karakter kawasan dibentuk oleh keberadaan danau, ruang terbuka hijau, serta jalur pedestrian. Elemen tersebut memberi ruang untuk berjalan kaki, beraktivitas di luar rumah, ataupun menghabiskan waktu bersama keluarga.
Kebutuhan sehari-hari juga didukung oleh fasilitas di sekitar kawasan. Di kawasan ini terdapat fasilitas pendidikan dan komersial seperti Global Mandiri School, AEON Mall, IKEA, serta Food Garden.
Kedekatan berbagai fasilitas tersebut memberi keluarga lebih banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Artinya, nilai kawasan tidak hanya terletak pada ukuran rumah, tetapi juga pada aktivitas yang dapat dilakukan di lingkungan sekitarnya.
Kualitas ruang luar kemudian dijaga melalui pengelolaan kawasan. Linear park dan taman dirawat setiap hari melalui penyapuan, penyiraman, pemangkasan, dan pemupukan.
Aspek keselamatan juga menjadi bagian dari pengelolaan tersebut. Kawasan menyediakan signage batas kecepatan, titik kumpul, serta rambu lalu lintas. Sementara tim operasional, mendapatkan pelatihan berkala untuk memberikan pertolongan pertama dalam kondisi darurat.
Clubhouse dan linear park saat ini telah beroperasi. Pilihan ready unit juga tersedia di Cluster Maninjau, Sentarum, dan Kelimutu.
Dengan demikian, nilai Asya tidak hanya berada pada unit rumah tapak, tetapi juga pada ruang hidup di tingkat kawasan. Rumah, area terbuka, fasilitas pendidikan, komersial, dan ruang bersama menjadi bagian dari lingkungan yang digunakan keluarga dalam keseharian.
Pertimbangkan biaya dan layanan setelah membeli properti
Perbedaan karakter Altéa BLVD, Arumaya Residences, dan Asya menunjukkan bahwa memilih hunian sebaiknya tidak hanya berpatokan pada lokasi atau luas unit. Pengelolaan kawasan dan layanan setelah pembelian juga perlu dipahami sejak awal.
Sebelum serah terima, unit melalui proses internal checklist dan pre-handover checklist. Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk memastikan fungsi mekanikal, elektrikal, dan perpipaan serta kualitas detail finishing memenuhi standar yang ditentukan.
Setelah unit ditempati, penghuni dapat menyampaikan keluhan atau temuan melalui kanal layanan yang tersedia. Mekanismenya menyesuaikan masing-masing proyek, termasuk melalui Resident Relations serta aplikasi My Astra Property.
Untuk laporan defect melalui aplikasi, waktu penyelesaian dibagi berdasarkan tingkat pekerjaan. Kategori light ditargetkan selesai dalam tujuh hari, medium 14 hari, dan heavy 30 hari.
Biaya setelah menempati hunian juga perlu diperhitungkan. Komponennya dapat berupa iuran pengelolaan lingkungan (IPL), service charge, sinking fund, utilitas, hingga biaya pemeliharaan atau perbaikan di dalam unit sesuai karakter masing-masing properti.
Karena itu, kunjungan ke rumah atau unit contoh sebaiknya digunakan untuk melihat lebih dari desain dan kondisi bangunan. Calon pembeli dapat mencoba rute menuju tempat kerja, memeriksa pilihan moda transportasi, serta melihat jarak menuju sekolah, rumah sakit, pusat belanja, dan fasilitas olahraga.
Kondisi drainase, kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, ruang hijau, serta sistem keamanan juga patut diperhatikan. Hal-hal tersebut akan lebih terasa pengaruhnya setelah hunian digunakan sebagai tempat menjalani rutinitas sehari-hari.
Pada akhirnya, hunian yang sesuai bukan selalu yang memiliki fasilitas paling banyak atau berada paling dekat dengan pusat kota. Pilihannya perlu kembali pada fase kehidupan keluarga, pola mobilitas, kebutuhan ruang saat ini dan beberapa tahun mendatang, serta lingkungan yang ingin dinikmati setiap hari.