Advertorial

Dari Ikigai hingga Kintsugi, Rio Christiawan Ajak Pembaca Memaknai Proses Hidup

Kompas.com - 08/10/2026, 10:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Di ruang digital, cerita tentang keberhasilan mudah ditemukan. Promosi jabatan, kelulusan, penghargaan, pencapaian karier, hingga berbagai momen terbaik dalam hidup lebih sering mendapat ruang untuk ditampilkan.

Sementara kegagalan tidak selalu mendapatkan tempat yang sama. Padahal, bagi penulis Rio Christiawan, justru pada saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, seseorang punya kesempatan untuk memahami dirinya lebih jauh.

Rio menyebut kecenderungan masyarakat yang terlalu terpikat pada keberhasilan itu sebagai “hero syndrome”. Menurut dia, perhatian lebih sering tertuju pada orang yang berhasil mendapatkan sesuatu, sementara kegagalan cenderung dilewati tanpa banyak refleksi.

“Masyarakat kita sekarang paling senang hero syndrome. Paling senang kalau si A sukses jadi apa, dilantik jadi apa, mendapatkan apa. Namun, orang tidak pernah mempunyai waktu untuk merenung ketika gagal,” ujar Rio seusai memperkenalkan buku terbarunya, “Labirin Cromboloni”, di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Baginya, kegagalan tidak selalu perlu buru-buru ditutup dengan pencapaian berikutnya. Ada kalanya seseorang perlu berhenti dan memahami mengapa sesuatu tidak berhasil, apa yang bisa dipelajari, atau apakah memang waktunya belum tepat.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu benang merah “Labirin Cromboloni”. Rio menggambarkan buku tersebut sebagai karya filosofis-kontemplatif yang mengajak pembaca melakukan refleksi tanpa merasa sedang diajari atau digurui.

Ketika hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana

Inspirasi “Labirin Cromboloni” bermula pada 2023. Saat itu, Rio mengamati cromboloni yang tengah populer dan melihat makanan tersebut bukan sekadar sebagai kudapan, melainkan juga sebagai “teman bercerita”.

Ia melihat satu potong cromboloni tidak selalu menawarkan rasa yang sama pada setiap gigitan. Ada bagian yang tawar, ada pula yang terasa lebih manis.

Dari sana, Rio menemukan gambaran sederhana tentang kehidupan. Sesuatu yang dari luar terlihat manis belum tentu selalu demikian ketika dijalani. Sebaliknya, bagian yang awalnya tidak menyenangkan juga dapat memiliki makna berbeda ketika dilihat kembali.

“Persepsi orang selalu mengatakan bahwa cromboloni itu manis. Padahal belum tentu juga, tergantung kena bagian yang mana. Sama seperti hidup ini,” katanya.

Sementara itu, kata “labirin” digunakan untuk menggambarkan perjalanan hidup yang tidak selalu bergerak lurus menuju tujuan.

Menurut Rio, setiap orang memiliki “labirin” masing-masing. Ada persoalan yang sudah menemukan jawaban, ada pula yang baru dapat dipahami setelah seseorang melewati proses yang cukup panjang.

Dalam perjalanan tersebut, kegagalan tidak selalu berarti jalan buntu. Pengalaman yang pada hari ini terasa buruk, kata dia, bisa saja kemudian menjadi bagian dari proses yang membentuk ketahanan dan membawa seseorang ke arah yang berbeda dan tidak direncanakan.

Karena itu, Rio menekankan pentingnya menikmati perjalanan, bukan hanya menunggu hasil akhirnya.

Buku Labirin Cromboloni karya Rio Christiawan yang mengusung narasi filosofis-kontemplatif mengenai perjalanan hidup, kegagalan, dan refleksi diri dipajang dalam ajang IIBF 2026. Dok. KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Buku Labirin Cromboloni karya Rio Christiawan yang mengusung narasi filosofis-kontemplatif mengenai perjalanan hidup, kegagalan, dan refleksi diri dipajang dalam ajang IIBF 2026.

Ikigai, egoguy, dan cara merespons kegagalan

Namun, menikmati proses bukan berarti pasrah terhadap keadaan. Rio justru menilai proses perlu diikuti keinginan untuk terus melakukan perbaikan.

Untuk menjelaskan hal itu, ia mempertemukan konsep ikigai dengan istilah yang ia gunakan dalam bukunya, Egoguy.

Menurut Rio, perbedaan keduanya bisa terlihat dari bagaimana seseorang merespons kegagalan.

Orang yang berangkat dari ikigai, menurut dia, akan mencoba memahami penyebab kegagalannya dan mencari apa yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, dalam kondisi “egoguy”, seseorang lebih sibuk mencari alasan untuk mempertahankan ego.

“Kalau ikigai, ketika gagal pertanyaan berikutnya adalah, apa yang bisa membuat saya berhasil? Kalau egoguy, dia sibuk untuk melindungi egonya sendiri,” jelasnya.

Rio memberi contoh seseorang yang gagal dalam sebuah seleksi. Alih-alih mengevaluasi kemampuan, orang tersebut bisa saja langsung menyalahkan juri, sistem penilaian, atau faktor lain di luar dirinya.

Sebaliknya, sikap yang berorientasi pada perbaikan mendorong seseorang mencoba mencari tahu bagian mana yang perlu diperbaiki dan dapat dikembangkan.

Dalam sesi diskusi IIBF 2026, Rio menegaskan bahwa proses tetap perlu membawa seseorang menuju perkembangan. Menikmati kegagalan, dalam konteks tersebut, bukan berarti berhenti, melainkan menggunakan pengalaman itu untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya.

Dari ikigai menuju kintsugi

Cara memandang kegagalan tersebut kemudian membawa Rio pada konsep kintsugi. Dalam tradisi Jepang, konsep ini dikenal sebagai seni memperbaiki benda pecah sehingga bekas retakannya justru menjadi bagian dari keindahan baru.

Rio menggunakan gagasan tersebut untuk melihat pengalaman hidup yang tidak berjalan sesuai rencana. Ia menilai ikigai perlu berjalan berdampingan dengan kintsugi. Memiliki tujuan tetap penting, tetapi seseorang juga perlu menerima kemungkinan bahwa jalan menuju tujuan tersebut bisa berubah.

Kegagalan, dengan demikian, tidak selalu harus dikembalikan menjadi rencana yang sama. Ia juga bisa membuka kemungkinan lain yang sebelumnya tidak terlihat.

Pandangan tersebut tidak hanya muncul sebagai konsep yang ingin disampaikan Rio kepada pembaca. Ia mengaku proses menulis “Labirin Cromboloni” turut mengubah cara dirinya sendiri melihat kegagalan.

Rio mengatakan dirinya dahulu juga termasuk orang yang mudah terjebak dalam hero syndrome. Setelah banyak merenung dan membaca mengenai kintsugi, ia mulai melihat bahwa tidak berhasil hari ini tidak otomatis berarti seseorang akan terus gagal.

Beberapa pengalaman pribadi ikut membentuk pemikiran tersebut. Salah satunya ketika tulisan Rio pernah ditolak untuk dimuat sebagai kolom.

Kini, ia melihat pengalaman itu bukan hanya sebagai penolakan, tetapi bagian dari proses belajar yang akhirnya ikut membawanya sampai pada kemampuan menulis sebuah buku.

“Yang paling penting itu ada pada sikap kita ketika sesuatu di luar ekspektasi kita,” ujarnya.

Menikmati proses bukan berarti berhenti bergerak

Persoalannya, memberi ruang bagi proses tidak selalu mudah di tengah kehidupan yang serbacepat. Rio mengibaratkannya dengan makanan. Jika hanya ingin cepat menghilangkan lapar, makanan instan mungkin sudah cukup, tetapi hasil yang berbeda membutuhkan proses yang berbeda pula.

Analogi tersebut kembali pada pertanyaan sederhana, “apa sebenarnya yang ingin dicapai seseorang?”.

Bagi Rio, proses tetap perlu dinikmati, tetapi bukan sebagai alasan untuk berhenti bergerak. Selama masih ada usaha untuk memperbaiki diri, kegagalan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju tujuan, bahkan ketika akhirnya tujuan tersebut ikut berubah.

Pandangan tersebut juga yang membuat Rio berharap, pembaca tidak hanya mengukur hidup dari hasil akhir.

“Masyarakat bisa menghargai proses, bukan hasil akhirnya,” katanya.

Ia melihat masyarakat mulai menunjukkan ketertarikan lebih besar pada cerita yang terasa lebih genuine, tidak selalu berupa citra kehidupan yang sempurna atau serangkaian pencapaian.

Penulis Rio Christiawan menandatangani buku Labirin Cromboloni untuk pembaca seusai sesi diskusi di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026. Dok. KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Penulis Rio Christiawan menandatangani buku Labirin Cromboloni untuk pembaca seusai sesi diskusi di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026.

Kedalaman koneksi di tengah komunikasi digital

Refleksi mengenai ego dan kegagalan dalam “Labirin Cromboloni” kemudian berkembang pada hubungan manusia dengan orang lain.

Menurut Rio, persoalan komunikasi hari ini tidak semata-mata terletak pada apakah percakapan dilakukan melalui layar atau secara langsung. Hal yang lebih menentukan justru kedalaman koneksi antara orang-orang yang berkomunikasi.

Ia memberi contoh kata “hati-hati”. Dua kata sederhana tersebut bisa berarti perhatian ketika diucapkan oleh orang yang memiliki kedekatan emosional, tetapi bisa menimbulkan makna berbeda ketika datang dari orang lain dalam konteks tertentu.

“Yang paling penting adalah membangun koneksi interpersonal itu sendiri. Persoalan dia melalui emoticon, melalui media sosial, atau bertemu langsung, itu kemudian menjadi tidak penting ketika koneksi sudah terbangun,” kata Rio.

Media sosial, di sisi lain, memberi manusia kemampuan untuk mengatur interaksi dengan lebih mudah. Seseorang dapat memblokir akun, berhenti mengikuti orang lain, atau menentukan siapa yang dapat melihat bagian tertentu dari kehidupannya.

Situasinya berbeda dengan hubungan di dunia nyata, ketika seseorang tidak selalu bisa menghindari orang atau percakapan yang membuatnya tidak nyaman. Dari situ, Rio melihat komunikasi bukan sekadar persoalan medium, melainkan tentang hubungan yang sudah terbentuk di antara manusia.

Memahami alasan di balik perbedaan

Kedalaman hubungan tersebut, menurut Rio, juga menentukan cara seseorang menghadapi perbedaan.

Rio menilai manusia sering merasa gelisah ketika berhadapan dengan pilihan atau pandangan yang tidak sama dengan dirinya. Padahal, hidup tidak harus selalu berada dalam keadaan homogen. Ada perbedaan yang cukup diterima keberadaannya. Namun, pada situasi lain, seseorang juga dapat mencoba memahami alasan mengapa orang lain memiliki pilihan yang berbeda.

“Pluralisme itu bukan meyakinkan orang untuk ikut pada pilihan kita, tetapi kita memahami kenapa orang itu berbeda dengan kita,” ujarnya.

Karenanya, menerima perbedaan tidak selalu berarti sepakat.

Sebaliknya, kemampuan memahami alasan di balik perbedaan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi dorongan mempertahankan ego sekaligus membuka ruang bagi hubungan yang lebih sehat.

Setiap orang punya labirinnya sendiri

Pada akhirnya, “Labirin Cromboloni” tidak menawarkan satu formula tunggal untuk menjalani kehidupan. Rio justru berangkat dari gagasan bahwa setiap orang memiliki labirin berbeda, lengkap dengan kegagalan, hubungan, pilihan, dan pertanyaan yang belum tentu langsung mendapatkan jawaban.

Karena itu, “cromboloni” dalam buku tersebut kemudian berkembang menjadi metafora tentang sesuatu atau seseorang yang dapat menemani manusia mengurai labirinnya sendiri.

“Setiap orang itu punya labirinnya masing-masing. Dalam perjalanan tersebut, seseorang kadang membutuhkan teman untuk membantu mengurai berbagai persoalan dengan tulus,” ucap Rio.

Bagi Rio, hidup pada akhirnya tidak harus terus-menerus menjadi cerita tentang seseorang yang bergerak dari nol menjadi pahlawan.

Ada bagian tawar, jalan yang keliru, rencana yang gagal, hingga arah yang berubah. Justru dari bagian-bagian itulah seseorang dapat belajar memahami proses, memperbaiki diri, dan menemukan makna baru dari perjalanan yang dijalani.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau