Advertorial

KHI 2026 di Surakarta, Teguhkan Humas sebagai Daya Bangsa

Kompas.com - 16/10/2026, 10:24 WIB

KOMPAS.com – Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan meningkatnya disinformasi, profesi hubungan masyarakat (humas) menghadapi tuntutan yang besar.

Humas tidak cukup hanya menjadi penyampai pesan saja. Profesi ini juga dituntut untuk menjaga kredibilitas informasi, membangun hubungan dengan publik, serta menggerakkan kepercayaan yang menopang kolaborasi serta kemajuan bangsa.

Tantangan itu menjadi salah satu landasan penyelenggaraan Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 di Surakarta, Jawa Tengah, pada Sabtu (17/10/2026). Rangkaian acara berlanjut dengan Pertemuan Humas Muda (Pemuda) 2026 pada Minggu (18/10/2026).

Mengusung tema "Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia", kegiatan ini mengajak insan humas dan komunikasi untuk memperkuat kontribusi profesinya dalam membangun kepercayaan publik, mempererat kolaborasi lintas sektor, serta mendorong kemajuan Indonesia.

KHI 2026 diselenggarakan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) bersama Katadata, serta didukung oleh Global Alliance for Public Relations and Communication Management.

Forum tersebut menjadi ruang temu bagi praktisi humas, akademisi, pemerintah, media, dunia usaha, komunitas, dan pemimpin komunikasi untuk bertukar perspektif serta merumuskan pendekatan komunikasi yang relevan dengan tantangan zaman.

Penyelenggara menargetkan lebih dari 450 peserta dan menghadirkan lebih dari 35 pembicara dari beragam latar belakang.

Kepercayaan sebagai fondasi daya bangsa

Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto menegaskan bahwa perubahan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat membawa tantangan besar bagi profesi humas, terutama dalam menjaga reputasi dan kepercayaan publik.

"Di era sekarang, perubahan terjadi lebih cepat daripada kemampuan kami untuk memahaminya. Artificial intelligence berkembang sangat pesat. Informasi bergerak tanpa batas. Disinformasi menyebar semakin masif,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, reputasi yang dibangun bertahun-tahun dapat berubah hanya dalam hitungan menit. Tantangan terbesar yang dihadapi sesungguhnya adalah krisis kepercayaan.

Boy menambahkan, kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan menyampaikan pesan secara cepat atau menjangkau audiens yang luas.

Kepercayaan tumbuh dari kredibilitas informasi, konsistensi antara ucapan dan tindakan, keterbukaan dalam berkomunikasi, serta kemampuan organisasi untuk memahami kebutuhan masyarakat.

Karena itu, praktisi humas dituntut untuk menempatkan teknologi sebagai alat pendukung tanpa mengesampingkan etika, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan.

Gagasan tersebut tecermin dalam tema KHI 2026. Filosofi weave (menenun), knot (mengikat), dan movement (menggerakkan) menggambarkan proses membangun kepercayaan secara bertahap.

Humas menenun beragam perspektif menjadi pemahaman bersama, mengikat hubungan antarpemangku kepentingan, lalu menggerakkan kolaborasi menjadi tindakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, kepercayaan merupakan modal sosial yang membantu masyarakat dan berbagai institusi bekerja sama menghadapi persoalan bersama.

Bangsa dengan kepercayaan yang kuat memiliki landasan yang lebih baik untuk membangun kolaborasi, mendorong inovasi, dan menghadapi krisis.

Di titik inilah peran strategis humas menjadi relevan, tidak hanya bagi reputasi organisasi, tetapi juga bagi daya bangsa.

Surakarta, ruang pertemuan budaya dan gagasan

Pemilihan Surakarta sebagai tuan rumah tidak semata-mata karena kekayaan budayanya. Nilai kepercayaan, harmoni, dan kolaborasi yang hidup dalam identitas kota itu juga selaras dengan semangat membangun hubungan dan memperkuat kepercayaan publik.

Kekayaan budaya Surakarta memberi konteks yang relevan untuk memahami bagaimana nilai, makna, dan hubungan diwariskan serta dipelihara dari generasi ke generasi.

Semangat itu sejalan dengan profesi humas yang perlu menjembatani institusi dengan masyarakat, kebijakan dengan pemahaman publik, serta perkembangan teknologi dengan nilai kemanusiaan.

Pertemuan lintas sektor di kota tersebut diharapkan menjadikan KHI 2026 ruang untuk mempertemukan beragam pengalaman dan perspektif.

Forum tersebut tidak hanya penting untuk membahas tantangan profesi, tetapi juga untuk memperkuat jejaring dan membuka peluang kolaborasi yang dapat diterapkan dalam praktik kehumasan.

Membahas tantangan humas dan arah masa depan

Pada Sabtu (17/10/2026), KHI 2026 akan membahas sejumlah isu strategis yang dihadapi profesi humas. Forum ini juga akan membahas arah serta rekomendasi strategis Perhumas untuk 2027.

Topiknya meliputi narasi kebangsaan di era polarisasi, keberlanjutan sebagai fondasi kepercayaan, kolaborasi lintas ruang profesi, integritas humas di era Generative AI, penanganan krisis disinformasi, hingga posisi humas Indonesia dalam dinamika global.

Rangkaian tersebut mencerminkan kebutuhan akan praktisi humas yang tidak hanya terampil mengelola komunikasi, tetapi juga mampu membaca konteks, menilai kredibilitas informasi, memahami dinamika pemangku kepentingan, dan mengambil keputusan secara etis.

Kemampuan itu semakin penting ketika organisasi menghadapi perubahan cepat dan persoalan komunikasi yang bisa memengaruhi reputasi maupun kepercayaan masyarakat.

Pada Minggu (18/10/2026), acara dilanjutkan dengan Pemuda 2026, forum kolaboratif bagi mahasiswa dan praktisi muda.

Topik yang diangkat mencakup pengelolaan click rage menjadi aksi berdampak, pemulihan kepercayaan setelah kesalahan komunikasi, kepemimpinan humas masa depan, serta pengolahan data menjadi narasi yang bermakna.

Kehadiran Pemuda mempertegas pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam membangun masa depan profesi.

Pengalaman praktisi senior dan gagasan generasi muda diharapkan saling melengkapi, sehingga lahir pendekatan komunikasi yang adaptif, kritis, beretika, dan berdampak.

Dari forum diskusi menuju dampak nyata

Penguatan profesi humas tidak berhenti pada pertukaran wawasan di ruang diskusi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana pengetahuan dan gagasan yang diperoleh diterapkan dalam praktik, baik untuk memperbaiki kualitas komunikasi organisasi, menjaga kredibilitas informasi, maupun membangun hubungan jangka panjang dengan masyarakat.

Melalui KHI 2026 dan Pemuda 2026, Perhumas berharap para peserta memperoleh wawasan baru, memperluas jejaring profesional, dan menghasilkan gagasan yang berkontribusi bagi perkembangan kehumasan Indonesia.

Kedua forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan sebagai modal sosial bangsa sekaligus mendorong kontribusi profesi humas bagi pembangunan Indonesia yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan.

KHI 2026 dan Pemuda 2026 berlangsung di Sumaryo Grand Ballroom, The Sunan Hotel Solo, Surakarta, Jawa Tengah mulai Sabtu (17/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026).

Insan humas, praktisi komunikasi, akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan terkait dapat memperoleh informasi lebih lanjut serta mendaftar melalui khi-perhumas.id.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau