KOMPAS.com – Di tengah derasnya arus informasi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan meningkatnya disinformasi, profesi hubungan masyarakat (humas) menghadapi tuntutan yang besar.
Humas tidak cukup hanya menjadi penyampai pesan saja. Profesi ini juga dituntut untuk menjaga kredibilitas informasi, membangun hubungan dengan publik, serta menggerakkan kepercayaan yang menopang kolaborasi serta kemajuan bangsa.
Tantangan itu menjadi salah satu landasan penyelenggaraan Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 di Surakarta, Jawa Tengah, pada Sabtu (17/10/2026). Rangkaian acara berlanjut dengan Pertemuan Humas Muda (Pemuda) 2026 pada Minggu (18/10/2026).
Mengusung tema "Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia", kegiatan ini mengajak insan humas dan komunikasi untuk memperkuat kontribusi profesinya dalam membangun kepercayaan publik, mempererat kolaborasi lintas sektor, serta mendorong kemajuan Indonesia.
KHI 2026 diselenggarakan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) bersama Katadata, serta didukung oleh Global Alliance for Public Relations and Communication Management.
Forum tersebut menjadi ruang temu bagi praktisi humas, akademisi, pemerintah, media, dunia usaha, komunitas, dan pemimpin komunikasi untuk bertukar perspektif serta merumuskan pendekatan komunikasi yang relevan dengan tantangan zaman.
Penyelenggara menargetkan lebih dari 450 peserta dan menghadirkan lebih dari 35 pembicara dari beragam latar belakang.
Kepercayaan sebagai fondasi daya bangsa
Ketua Umum Perhumas Boy Kelana Soebroto menegaskan bahwa perubahan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat membawa tantangan besar bagi profesi humas, terutama dalam menjaga reputasi dan kepercayaan publik.
"Di era sekarang, perubahan terjadi lebih cepat daripada kemampuan kami untuk memahaminya. Artificial intelligence berkembang sangat pesat. Informasi bergerak tanpa batas. Disinformasi menyebar semakin masif,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, reputasi yang dibangun bertahun-tahun dapat berubah hanya dalam hitungan menit. Tantangan terbesar yang dihadapi sesungguhnya adalah krisis kepercayaan.
Boy menambahkan, kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan menyampaikan pesan secara cepat atau menjangkau audiens yang luas.
Kepercayaan tumbuh dari kredibilitas informasi, konsistensi antara ucapan dan tindakan, keterbukaan dalam berkomunikasi, serta kemampuan organisasi untuk memahami kebutuhan masyarakat.
Karena itu, praktisi humas dituntut untuk menempatkan teknologi sebagai alat pendukung tanpa mengesampingkan etika, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan.
Gagasan tersebut tecermin dalam tema KHI 2026. Filosofi weave (menenun), knot (mengikat), dan movement (menggerakkan) menggambarkan proses membangun kepercayaan secara bertahap.
Humas menenun beragam perspektif menjadi pemahaman bersama, mengikat hubungan antarpemangku kepentingan, lalu menggerakkan kolaborasi menjadi tindakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, kepercayaan merupakan modal sosial yang membantu masyarakat dan berbagai institusi bekerja sama menghadapi persoalan bersama.
Bangsa dengan kepercayaan yang kuat memiliki landasan yang lebih baik untuk membangun kolaborasi, mendorong inovasi, dan menghadapi krisis.
Di titik inilah peran strategis humas menjadi relevan, tidak hanya bagi reputasi organisasi, tetapi juga bagi daya bangsa.
Surakarta, ruang pertemuan budaya dan gagasan
Pemilihan Surakarta sebagai tuan rumah tidak semata-mata karena kekayaan budayanya. Nilai kepercayaan, harmoni, dan kolaborasi yang hidup dalam identitas kota itu juga selaras dengan semangat membangun hubungan dan memperkuat kepercayaan publik.
Kekayaan budaya Surakarta memberi konteks yang relevan untuk memahami bagaimana nilai, makna, dan hubungan diwariskan serta dipelihara dari generasi ke generasi.
Semangat itu sejalan dengan profesi humas yang perlu menjembatani institusi dengan masyarakat, kebijakan dengan pemahaman publik, serta perkembangan teknologi dengan nilai kemanusiaan.
Pertemuan lintas sektor di kota tersebut diharapkan menjadikan KHI 2026 ruang untuk mempertemukan beragam pengalaman dan perspektif.
Forum tersebut tidak hanya penting untuk membahas tantangan profesi, tetapi juga untuk memperkuat jejaring dan membuka peluang kolaborasi yang dapat diterapkan dalam praktik kehumasan.
Membahas tantangan humas dan arah masa depan
Pada Sabtu (17/10/2026), KHI 2026 akan membahas sejumlah isu strategis yang dihadapi profesi humas. Forum ini juga akan membahas arah serta rekomendasi strategis Perhumas untuk 2027.
Topiknya meliputi narasi kebangsaan di era polarisasi, keberlanjutan sebagai fondasi kepercayaan, kolaborasi lintas ruang profesi, integritas humas di era Generative AI, penanganan krisis disinformasi, hingga posisi humas Indonesia dalam dinamika global.
Rangkaian tersebut mencerminkan kebutuhan akan praktisi humas yang tidak hanya terampil mengelola komunikasi, tetapi juga mampu membaca konteks, menilai kredibilitas informasi, memahami dinamika pemangku kepentingan, dan mengambil keputusan secara etis.
Kemampuan itu semakin penting ketika organisasi menghadapi perubahan cepat dan persoalan komunikasi yang bisa memengaruhi reputasi maupun kepercayaan masyarakat.
Pada Minggu (18/10/2026), acara dilanjutkan dengan Pemuda 2026, forum kolaboratif bagi mahasiswa dan praktisi muda.
Topik yang diangkat mencakup pengelolaan click rage menjadi aksi berdampak, pemulihan kepercayaan setelah kesalahan komunikasi, kepemimpinan humas masa depan, serta pengolahan data menjadi narasi yang bermakna.
Kehadiran Pemuda mempertegas pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam membangun masa depan profesi.
Pengalaman praktisi senior dan gagasan generasi muda diharapkan saling melengkapi, sehingga lahir pendekatan komunikasi yang adaptif, kritis, beretika, dan berdampak.
Dari forum diskusi menuju dampak nyata
Penguatan profesi humas tidak berhenti pada pertukaran wawasan di ruang diskusi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana pengetahuan dan gagasan yang diperoleh diterapkan dalam praktik, baik untuk memperbaiki kualitas komunikasi organisasi, menjaga kredibilitas informasi, maupun membangun hubungan jangka panjang dengan masyarakat.
Melalui KHI 2026 dan Pemuda 2026, Perhumas berharap para peserta memperoleh wawasan baru, memperluas jejaring profesional, dan menghasilkan gagasan yang berkontribusi bagi perkembangan kehumasan Indonesia.
Kedua forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan sebagai modal sosial bangsa sekaligus mendorong kontribusi profesi humas bagi pembangunan Indonesia yang inklusif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
KHI 2026 dan Pemuda 2026 berlangsung di Sumaryo Grand Ballroom, The Sunan Hotel Solo, Surakarta, Jawa Tengah mulai Sabtu (17/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026).
Insan humas, praktisi komunikasi, akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan terkait dapat memperoleh informasi lebih lanjut serta mendaftar melalui khi-perhumas.id.