KOMPAS.com – AIESEC in Universitas Sriwijaya (Unsri) mengirim delegasinya ke Polandia untuk menjalani program Global Volunteer selama enam minggu. Program ini menjadi bagian dari upaya organisasi untuk mengembangkan kepemimpinan pemuda dan pemahaman lintas budaya.
Bagi para relawan, perjalanan tersebut bukan sekadar kontribusi sosial, melainkan juga proses yang mengubah cara mereka memandang diri sendiri.
Salah satu delegasi Global Volunteer AIESEC in Unsri, Afifah Kamilah, pada awalnya mengaku gugup. Ia sempat cemas akan kendala komunikasi dan kemampuannya memenuhi ekspektasi program.
Kekhawatiran itu perlahan sirna seiring berbagai pengalaman tak terduga yang ia temui di sana. Selama di Polandia, para relawan berkesempatan benar-benar berbaur dengan warga setempat.
"Kami benar-benar hidup melokal, bahkan dalam seminggu kami bisa tiga hingga empat kali berbelanja kebutuhan sehari-hari, sudah persis seperti warga lokal," ujar Afifah dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (16/10/2026).
Waktu libur dimanfaatkan para relawan untuk menjelajahi sejumlah kota di Polandia sekaligus mempelajari sejarahnya secara langsung. Mereka juga berinteraksi dengan masyarakat yang menyambut dengan ramah dan penuh pengertian.
Pertukaran budaya terasa semakin hidup ketika anak-anak di sana antusias ikut menarikan tarian asal Spanyol yang diajarkan salah satu relawan.
Afifah Kamilah (tengah) bersama dua relawan dari negara lain yang ia temui selama program Global Volunteer di Polandia.Menurut Afifah, program tersebut tidak berhenti pada pertukaran budaya. Lingkungan yang budayanya terkadang berbeda menuntut fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga program ini menjadi pemicu pengembangan diri para relawan.
"Tinggal di negara orang menyadarkan saya bahwa jika kita tidak mengambil langkah, maka tidak akan ada pergerakan. Di sanalah saya belajar untuk berani keluar dari zona nyaman, lebih mandiri, dan berani bepergian sendiri," tuturnya.
Kondisi di lapangan juga menuntutnya untuk berpikir cepat. Afifah belajar banyak tentang bagaimana mengambil inisiatif dan bekerja sama dalam tim untuk memecahkan masalah.
“Pengalaman itu membuat saya jauh lebih mengenal diri saya sendiri," ujarnya.
Nilai tambah lain yang disorot Afifah adalah persahabatan yang terjalin dengan sesama peserta dari berbagai negara serta dengan penyelenggara lokal (OP Taker).
Afifah Kamilah (kanan) bersama sesama relawan dalam sebuah kegiatan di taman selama program Global Volunteer di Polandia.Meski hanya berlangsung enam minggu, intensitas kebersamaan menciptakan ikatan emosional yang kuat.
"Awalnya saya mengira hubungan kami hanya akan sebatas formalitas rekan kerja saja. Namun, ternyata mereka sangat bersahabat. Kami menjadi sangat dekat, sering melakukan deep talk, berbagi cerita masa lalu, hingga berdiskusi tentang masa depan.” tutur Afifah.
Menurut Afifah, karena sering mengobrol dan mengeksplorasi kota bersama, waktu enam minggu itu terasa seperti sudah saling kenal selama sepuluh tahun. Sampai sekarang pun masih sering bertukar kabar.
Melalui pengiriman delegasi tersebut, AIESEC in Unsri berharap dapat terus menginspirasi lebih banyak pemuda untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman.
Pengalaman tersebut dinilai membuktikan bahwa interaksi global tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga membentuk generasi muda yang mandiri, adaptif, dan siap membangun koneksi positif di kancah internasional.