Advertorial

Dari Serabi hingga Omikuji, Wisatawan Indonesia Kini Bisa Bayar Pakai QRIS di Jepang

Kompas.com - 22/10/2026, 05:46 WIB

TOKYO, KOMPAS.com – Saat berlibur ke Jepang, wisatawan Indonesia biasanya perlu menyiapkan uang tunai yen atau menggunakan pembayaran berbasis kartu untuk berbelanja, menikmati kuliner, atau membeli suvenir.

Namun, kini ada pilihan pembayaran lain yang lebih praktis, melengkapi opsi pembayaran uang tunai ataupun kartu.

Melalui layanan QRIS Antarnegara, wisatawan Indonesia dapat melakukan pembayaran di sejumlah merchant di Jepang, dengan memindai kode QR menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung layanan tersebut.

Adapun layanan QRIS Antarnegara di Jepang resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Pada tahap awal, layanan tersebut saat ini tersedia di puluhan merchant melalui pemindaian JPQR Global. Cakupan penggunaannya kemudian diperluas secara bertahap.

Kemudahan transaksi dengan QRIS Antarnegara pun turut dirasakan tim Kompas.com saat mengunjungi sejumlah merchant di Jepang pada 12–15 Oktober 2026, mulai dari kedai surabi di Tokyo hingga tempat mengambil kertas peruntungan atau omikuji di Kuil Sensoji.

Tim Kompas.com mencoba penggunaan QRIS di Kuil Sensoji Dok. KOMPAS.com/Siti Annisa Tim Kompas.com mencoba penggunaan QRIS di Kuil Sensoji

Menikmati serabi Indonesia di Tokyo

Suasana Surabi Tokyo di Jepang ramai dipenuhi para pembeli, baik oleh turis Indonesia maupun wisatawan mancanegara Dok. KOMPAS.com/Siti Annisa Suasana Surabi Tokyo di Jepang ramai dipenuhi para pembeli, baik oleh turis Indonesia maupun wisatawan mancanegara

Salah satu merchant yang sudah menerima pembayaran QRIS adalah Surabi Tokyo. Kedai ini menyajikan jajanan khas Indonesia dengan pilihan rasa modern.

Pengunjung dapat menemukan serabi bercita rasa manis, seperti varian custard yang dijual sekitar 300 yen. Ada pula varian gurih dengan isian rendang wagyu.

Pemilik Surabi Tokyo, Adi, merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang telah menetap di Jepang selama 15 tahun. Usaha serabi yang dirintisnya kini memasuki tahun kedua.

Adi mengatakan, keinginannya membuka kedai tersebut berawal dari upaya memperkenalkan kuliner Indonesia kepada masyarakat Jepang.

Ia juga melihat peluang memadukan makanan tradisional Indonesia dengan bahan pangan lokal Jepang.

“Alasan saya buka ini, pertama saya ingin bawa budaya Indonesia. Kebetulan istri saya juga dari Niigata yang produksi tepung beras. Karena produksi tepung beras menurun di Jepang, saya melihat potensi ini untuk dikolaborasikan,” kata Adi saat ditemui Kompas.com, Senin (12/10/2026).

Untuk memudahkan pelanggan, Surabi Tokyo menerima berbagai metode pembayaran, mulai dari kartu hingga QRIS.

Adi mengaku langsung mendaftarkan usahanya begitu layanan QRIS tersedia di Jepang.

Menurut dia, pembayaran QRIS paling banyak digunakan wisatawan dan warga Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari lokasi kedainya yang banyak dikunjungi wisatawan asal Tanah Air.

Pelanggan Indonesia terkejut bisa pakai QRIS di Kopi Kalyan Tokyo

Suasana Kopi Kalyan di Tokyo, Jepang Dok. KOMPAS.com/Siti Annisa Suasana Kopi Kalyan di Tokyo, Jepang

Pengalaman serupa ditemukan di Kopi Kalyan Tokyo, gerai pertama Kopi Kalyan di luar Indonesia.

Saat dikunjungi tim Kompas.com pada Selasa (13/10/2026), kedai kopi tersebut sudah ramai oleh pengunjung sejak pagi.

Director Kopi Kalyan Jepang Kenny Tjahyadi mengatakan, gerainya telah menerima pembayaran QRIS sejak 2025. Sebagian besar pengguna layanan tersebut merupakan wisatawan dan diaspora Indonesia.

Menurut Kenny, tidak sedikit pengunjung asal Indonesia yang awalnya terkejut mengetahui bahwa mereka dapat membayar menggunakan QRIS di Jepang.

“Awalnya teman-teman dari Indonesia terkejut, ternyata di sini bisa scan QRIS. Kebanyakan sudah menukar valuta asing, tapi ternyata cepat habis, dan mereka bisa bayar pakai QRIS,” ujar Kenny.

Selain memberi pilihan pembayaran bagi pelanggan, Kenny menilai proses pendaftaran layanan tersebut relatif sederhana bagi pelaku usaha.

“Pengajuan QRIS cepat, cukup satu minggu saja. Tinggal daftar, kemudian ke pihak QRIS Jepang dan kasih rekening kita, selesai,” ucapnya.

Sementara itu, Pemilik Euki Nusantara, Yuki Onishi, turut berperan aktif dalam mendorong perluasan akseptasi QRIS Antarnegara di Jepang.

Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan fasilitas pembayaran JPQR di kedai kopi miliknya yang berada di Osaka, serta pengenalan secara proaktif mengenai pemanfaatan QRIS Antarnegara kepada pelaku usaha coffee shop lainnya di wilayah Kansai.

Mengambil omikuji di Sensoji tanpa koin

Penggunaan QRIS di Jepang tidak hanya ditemukan di restoran atau kedai kopi, tetapi juga di kawasan wisata.

Salah satunya di Kuil Sensoji, Tokyo, yang dikenal sebagai destinasi wisata populer.

Di kuil tersebut, pengunjung dapat mencoba tradisi omikuji, yakni mengambil kertas berisi ramalan peruntungan. Biasanya, pengunjung perlu menyiapkan koin 100 yen untuk mengikuti tradisi ini.

Kini, di dekat area omikuji sudah tersedia kode pembayaran dengan logo JPQR. Wisatawan Indonesia yang menggunakan aplikasi pendukung QRIS Antarnegara pun memiliki pilihan untuk membayar secara nontunai.

Saat dicoba langsung oleh Kompas.com, proses pembayaran berlangsung sederhana. Pengguna cukup memindai kode QR, memeriksa nominal transaksi, lalu melakukan konfirmasi pembayaran melalui aplikasi.

Nilai transaksi dalam yen juga dikonversi ke rupiah sesuai kurs yang berlaku pada aplikasi.

Tidak hanya di area omikuji, sejumlah toko suvenir di sekitar Kuil Sensoji juga telah menerima pembayaran QRIS.

Pengunjung dapat menggunakannya untuk membeli berbagai oleh-oleh, seperti gantungan kunci, kaus kaki, hingga magnet.

Perhatikan hal ini sebelum membayar dengan QRIS di Jepang

Meski penggunaannya cukup praktis, wisatawan Indonesia tetap perlu memperhatikan beberapa hal sebelum melakukan pembayaran QRIS di Jepang.

  1. Periksa logo JPQR Global di merchant. Logo tersebut menjadi salah satu penanda bahwa merchant telah mendukung pembayaran QRIS Antarnegara. Jika belum tersedia, tanyakan terlebih dahulu metode pembayaran yang diterima.
  2. Pastikan aplikasi mendukung QRIS Antarnegara. Tidak semua aplikasi pembayaran memiliki dukungan yang sama. Karena itu, periksa terlebih dahulu layanan yang tersedia pada aplikasi bank atau dompet digital yang digunakan.
  3. Cek nominal dan kurs sebelum konfirmasi. Pastikan nilai transaksi dalam yen dan jumlah rupiah yang ditampilkan sudah sesuai sebelum menyelesaikan pembayaran.

Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut, wisatawan dapat memanfaatkan QRIS sebagai alternatif pembayaran tanpa harus selalu menyiapkan uang tunai untuk setiap transaksi.

Dorong penggunaan QRIS di Jepang

Perluasan layanan QRIS di Jepang juga didukung meningkatnya penggunaan pembayaran digital lintas negara.

Dalam pernyataan pers yang diterima Kompas.com, Rabu (14/10/2026), Bank Indonesia memaparkan bahwa transaksi QRIS oleh pengguna Indonesia di Jepang pada triwulan II 2026 meningkat 95 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Sementara itu, data Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang pada Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar 451.200 orang, naik 11,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P Gozali berharap perkembangan QRIS di Jepang dapat mengikuti negara mitra lainnya yang telah lebih dahulu menerapkan layanan tersebut.

“QRIS ini akan membantu transaksi cross-border payment antara kedua negara, sehingga ada perbaikan dari sisi efisiensi, keamanan, dan kecepatan,” ujar Ricky.

Ke depan, Bank Indonesia berupaya memperluas jaringan merchant yang menerima QRIS di Jepang, terutama di lokasi strategis dan destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan Indonesia.

Upaya tersebut dilakukan bersama Payments Japan Association (PJA), penyedia jasa pembayaran, mitra industri Jepang, serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo.

Bagi wisatawan Indonesia, perluasan QRIS memberikan pilihan pembayaran tambahan saat menjelajahi Jepang. Mulai dari menikmati surabi buatan warga Indonesia hingga mencoba tradisi omikuji di Kuil Sensoji, berbagai transaksi kini dapat dilakukan lewat ponsel.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau