KOMPAS.com – Ada banyak cara untuk bercerita tentang perjalanan panjang. Sebagian orang memilih kata-kata, sedangkan yang lain menangkapnya lewat satu bingkai foto.
Cara kedua itulah yang dilakukan lebih dari 1.700 jurnalis foto dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Sejak Agustus hingga Oktober 2026, mereka mengirimkan karya dalam kompetisi fotografi “Berkarya Lewat Lensa” yang digelar PT Nojorono Tobacco International (Nojorono Kudus).
Lewat karya-karya tersebut, para peserta menerjemahkan perjalanan Nojorono Kudus yang tahun ini memasuki usia ke-94. Setiap foto membawa sudut pandang berbeda tentang bagaimana nilai, perubahan zaman, dan upaya menjaga keberlanjutan dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetisi tersebut menjadi bagian dari tema “Mawa Daya: Merajut Karsa Selaras Dengan Waktu” yang diusung Nojorono Kudus dalam momentum ulang tahunnya. Tema ini menjadi refleksi atas perjalanan perusahaan dalam menjaga warisan serta terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Corporate Communication Head PT Nojorono Tobacco International Eliza Susanto mengatakan, karya-karya yang terkumpul tidak sekadar merekam objek visual. Foto-foto tersebut juga menghadirkan beragam cara masyarakat memaknai perjalanan panjang sebuah perusahaan.
“Selamat kepada para pemenang Berkarya Lewat Lensa. Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berbagi perspektif melalui karyanya. Beragam submisi yang kami terima menunjukkan bahwa sebuah perjalanan dapat dimaknai dengan banyak cara,” ujar Eliza dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (22/10/2026).
“Melalui karya para peserta, kami melihat bagaimana nilai-nilai luhur diterjemahkan sesuai konteks zamannya. Bagi kami, inilah makna sesungguhnya dari ‘Menjaga Warisan, Selaras dengan Waktu’, yakni ketika nilai yang diwariskan tetap hidup, relevan, dan bertumbuh adaptif bersama generasi yang terus bergerak maju,” lanjutnya.
Ketika nilai diterjemahkan lewat gambar
Menerjemahkan nilai dan perjalanan panjang sebuah institusi agar tetap relevan bagi masyarakat bukan perkara sederhana. Fotografi menjadi salah satu medium yang dapat menjembatani pesan tersebut melalui cerita visual.
Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo menilai, fotografi memungkinkan sebuah gagasan disampaikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami serta mampu membangun keterhubungan emosional dengan khalayak.
Menurut Dwi, hal tersebut turut tecermin dalam kolaborasi Nojorono Kudus bersama PFI sepanjang 2026.
“Lewat karya-karya yang masuk, saya melihat bahwa semangat Menjaga Warisan Selaras dengan Waktu sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari,” kata Dwi.
Menurutnya, banyak peserta mampu menunjukkan bahwa merawat nilai yang diwariskan sambil menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman bukan hanya dilakukan perusahaan. Hal serupa juga berlangsung di tengah masyarakat dalam berbagai sisi kehidupan.
“Ini yang membuat pesan Nojorono Kudus terasa relevan dan mudah dipahami,” tuturnya.
Memilih cerita terkuat dari ribuan karya
Di balik lebih dari 1.700 foto yang masuk, proses kurasi dilakukan secara independen oleh dewan juri.
Penjurian melibatkan Eva Agriana Ali sebagai perwakilan PFI serta Pewarta Foto Harian Kompas Agus Susanto.
Setiap karya dinilai berdasarkan orisinalitas gagasan, kekuatan visual, serta kesesuaiannya dengan tema kompetisi. Dari proses tersebut, terpilih 12 pemenang yang terdiri dari enam peserta kategori wartawan dan enam peserta kategori umum.
Dwi mengatakan, karya pemenang dipilih melalui pertimbangan yang cermat untuk melihat kemampuan sebuah foto menerjemahkan tema ke dalam visual yang kuat, autentik, dan bermakna.
“Matriks penilaian karya-karya pemenang memiliki kekuatan narasi visual yang selaras dengan tema dari ‘Berkarya Lewat Lensa’,” ujar Dwi.
Selain kekuatan cerita, aspek teknis fotografi juga menjadi bagian dari penilaian. Karya-karya terpilih dinilai memiliki penguasaan teknis yang matang berdasarkan penilaian profesional dari para juri.
Ribuan foto yang terkumpul dalam Berkarya Lewat Lensa memperlihatkan satu hal yang sama melalui beragam sudut pandang. Sebuah warisan dapat terus hidup ketika nilai di dalamnya tidak berhenti pada masa lalu, tetapi menemukan cara baru untuk berbicara kepada generasi dan zaman yang berbeda.