KOMPAS.com – Tiga peneliti R&D ParagonCorp meraih tiga penghargaan dalam kompetisi saintifik SICS Summit 2026 melalui penelitian tentang jerawat pada punggung (back-acne), ketombe pada kondisi berhijab, dan pemulihan kulit setelah prosedur dermatologis.
Nur Huda Arif Indiarto meraih Juara 1 Poster Presentation, Nurani Istiqomah meraih Juara 1 Oral Presentation, sedangkan Shania Rizki Ivany meraih Juara 2 Oral Presentation.
Ketiganya merupakan bagian dari 13 peneliti R&D ParagonCorp yang berpartisipasi dalam SICS Summit 2026. Ajang ini digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten pada Jumat (2/10/2026) dan Sabtu (3/10/2026).
Ketiga penelitian tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kebutuhan konsumen dan dikaji melalui pendekatan klinis serta metodologi ilmiah yang terukur. Proses ini menjadi bagian dari upaya memahami kebutuhan perawatan kulit dan rambut, sekaligus mendukung pengembangan inovasi ParagonCorp.
Nur Huda Arif Indiarto meraih Juara 1 Poster Presentation melalui penelitian berjudul “Clinical Evaluation of a Multi-Active Body Cleanser with Bamboo, Peppermint, PHA, and Niacinamide for Back-Acne Reduction and Sensory Relaxation”.
Penelitian tersebut mengevaluasi penggunaan pembersih tubuh dengan kombinasi bahan aktif untuk membantu mengurangi jerawat punggung, sekaligus memberikan pengalaman sensoris yang menenangkan.
Fokus penelitian itu sejalan dengan pengembangan inovasi ParagonCorp pada kategori perawatan tubuh, termasuk melalui Earth Love Life Body Wash yang menghadirkan pendekatan perawatan sesuai kebutuhan konsumen.
Pada kategori Oral Presentation, Nurani Istiqomah meraih Juara 1 melalui penelitian berjudul “Clinical Evaluation of a Post-Procedural Soothing Moisturizer in Supporting Skin Recovery Following Picosecond Laser and Chemical Peeling Treatments”.
Penelitian tersebut mengevaluasi penggunaan pelembap soothing untuk mendukung pemulihan kulit setelah tindakan dermatologis, seperti picosecond laser dan chemical peeling.
Fokus itu juga berkaitan dengan kebutuhan perawatan kulit sensitif dan pemulihan kulit yang dikembangkan melalui Wardah Derma Sensitive Skin Rescue Moisturizer.
Sementara itu, Shania Rizki Ivany meraih Juara 2 Oral Presentation melalui penelitian berjudul “Managing Dandruff Under Hijab-Wearing Conditions: Clinical and Antimicrobial Evaluation of a Piroctone Olamine–Botanical Amino Acid-Based Shampoo”.
Riset tersebut mengkaji pengelolaan ketombe pada kondisi berhijab melalui evaluasi klinis dan antimikroba terhadap formula sampo berbasis piroctone olamine dan botanical amino acid.
Kebutuhan itu juga menjadi bagian dari pengembangan inovasi ParagonCorp pada kategori perawatan rambut, salah satunya melalui DSE Dermascalp Expert Anti-Dandruff Shampoo.
Deputy Chief Executive Officer and Chief R&D Officer ParagonCorp dr Sari Chairunnisa, SpDVE, FINSDV, mengatakan penghargaan tersebut merupakan apresiasi terhadap proses penelitian yang dilakukan para peneliti, mulai dari merumuskan pertanyaan hingga menguji temuan secara ilmiah.
“Bagi ParagonCorp, yang penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga bagaimana proses penelitian terus mendorong kami untuk memahami kebutuhan konsumen dengan lebih baik dan mengembangkan pengetahuan bersama komunitas scientific,” ujar Sari dalam siaran pers yang diterima Kompas.com pada Jumat (23/10/2026).
Ia juga berharap, capaian tersebut dapat memotivasi lebih banyak peneliti ParagonCorp yang berani mengeksplorasi pertanyaan baru, terbuka terhadap kolaborasi, dan membawa perspektif berbeda ke dalam perkembangan ilmu kosmetik global.
Bagi ParagonCorp, penelitian juga berperan dalam memperdalam pemahaman mengenai kebutuhan konsumen dan menjadi landasan untuk mengembangkan solusi yang relevan.
Karena itu, keikutsertaan 13 peneliti R&D dalam SICS Summit 2026 menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat jejaring ilmiah sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan di bidang ilmu kosmetik.
Sebagai informasi, SICS Summit 2026 diselenggarakan oleh Society of Indonesian Cosmetic Scientists (SICS)—asosiasi ilmuwan kosmetik Indonesia yang terhubung dengan International Federation of Societies of Cosmetic Chemists (IFSCC).
Forum tersebut mempertemukan ilmuwan dan profesional di bidang kosmetik dari Indonesia serta berbagai negara, termasuk Jepang dan Korea. Para peserta berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian, bertukar pengetahuan, serta mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi kosmetik.
Bagi Nur Huda Arif Indiarto, keikutsertaan dalam forum tersebut juga memberikan kesempatan untuk memperoleh perspektif baru melalui diskusi dengan peneliti lain.
Ia mengatakan bahwa penghargaan tersebut membuatnya mendapatkan perspektif baru dari para peneliti lain, terutama ketika berdiskusi dan menerima berbagai pertanyaan tentang penelitian yang ia lakukan.
“Kami mendapat kesempatan untuk melihat kembali penelitian dari sudut pandang yang berbeda. Penghargaan ini tentu menjadi apresiasi yang berarti, sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan penelitian yang relevan dengan kebutuhan konsumen,” ujar Nur Huda.
Partisipasi dan pencapaian para peneliti tersebut menjadi bagian dari upaya ParagonCorp membangun budaya riset yang mendorong rasa ingin tahu, pembelajaran, dan kolaborasi.
Melalui penelitian yang berangkat dari kebutuhan nyata dan diuji dengan pendekatan ilmiah, ParagonCorp terus membuka ruang bagi para peneliti untuk berkontribusi pada perkembangan ilmu kosmetik sekaligus menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi inovasi yang relevan bagi konsumen dan masyarakat.