KOMPAS.com – Penggunaan artificial intelligence (AI) di perusahaan mulai bergerak dari sebatas asisten menuju sistem yang dapat diberi tanggung jawab untuk menjalankan sejumlah proses secara langsung.
Perubahan tersebut membuat perusahaan tidak hanya perlu memikirkan kemampuan model AI, tetapi juga bagaimana setiap tugas dijalankan, diawasi, dicatat, dan tetap dapat dikendalikan ketika terjadi kegagalan.
Di tengah perkembangan tersebut, Orkes menunjuk PT Deltadata Mandiri sebagai mitra untuk wilayah Asia Tenggara. Perusahaan yang didirikan oleh para pencipta Netflix Conductor pada 2021 itu mengembangkan platform orkestrasi untuk kebutuhan enterprise.
Sebagai informasi, Orkes merupakan perusahaan orkestrasi alur kerja enterprise yang didirikan pada 2021 oleh para insinyur pencipta Netflix Conductor.
Berbasis di Santa Clara, California, Orkes menyediakan platform untuk mengelola eksekusi, state, dan observability pada proses yang melibatkan microservices, API, hingga AI agent, serta telah digunakan oleh sejumlah organisasi, seperti JPMorgan Chase, Tesla, American Express, dan LinkedIn.
Melalui kemitraan tersebut, Deltadata akan menangani aktivitas pra-penjualan, implementasi, serta dukungan berkelanjutan untuk Orkes Conductor di kawasan Asia Tenggara.
Kolaborasi itu menyasar kebutuhan perusahaan, termasuk perbankan, sektor energi, dan lembaga pemerintah, yang mulai membawa alur kerja berbasis agentic dan AI agent dari tahap uji coba menuju penggunaan dalam operasional.
Ketika AI mulai menjalankan pekerjaan nyata
Dalam tahap awal adopsinya, AI pada banyak organisasi umumnya digunakan sebagai asisten dan tidak berhubungan langsung dengan sistem inti perusahaan.
Kini, autonomous agent mulai diarahkan untuk menjalankan sejumlah tugas, seperti membuka akun, merekonsiliasi pembayaran, melakukan triase insiden, hingga mengarahkan permintaan pengadaan.
Ketika AI agent mulai memiliki akses ke system of record perusahaan, kebutuhan terhadap tata kelola, visibilitas, dan auditabilitas pun menjadi semakin penting.
Perusahaan perlu menentukan apa saja yang boleh dilakukan agent, kapan keterlibatan manusia tetap dibutuhkan, bagaimana sistem merespons ketika satu tahapan gagal, hingga bagaimana seluruh proses dapat ditelusuri setelah pekerjaan selesai.
Chief Executive Officer Orkes Jeu George mengatakan, tantangan yang dihadapi perusahaan bukan hanya soal memilih model AI.
“Hampir setiap enterprise yang kami temui memiliki agent yang berfungsi dalam demo. Sangat sedikit yang memiliki agent yang mereka percayai untuk menangani pelanggan nyata, pembayaran nyata, atau persetujuan nyata,” ujar Jeu.
Menurutnya, hal yang kerap belum tersedia justru berada di sekitar penggunaan AI tersebut, seperti mekanisme saat sebuah proses gagal, pihak yang memberikan persetujuan, serta kemampuan menunjukkan kepada regulator apa yang telah dilakukan agent.
“Kami membangun Conductor di Netflix untuk menjaga sistem kompleks tetap andal pada skala yang sangat besar, dan agents membutuhkan disiplin yang sama,” katanya.
Menjaga alur kerja tetap dapat dikendalikan
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Orkes dirancang untuk menghubungkan AI agent, manusia, antarmuka pemrograman aplikasi (API), dan sistem yang telah digunakan perusahaan ke dalam satu alur kerja yang berkelanjutan atau durable.
PT Deltadata Mandiri menjalin kemitraan strategis dengan Orkes untuk mendukung penerapan dan tata kelola AI agent di perusahaan-perusahaan Asia Tenggara melalui platform Orkes Conductor.Platform itu menyimpan catatan lengkap setiap tahapan sekaligus mempertahankan state, baik ketika terjadi kegagalan maupun saat proses harus menunggu persetujuan manusia dalam waktu lama.
Dengan mekanisme tersebut, pekerjaan dapat dilanjutkan dari titik terakhir ketika proses kembali berjalan. Perusahaan pun dapat memberikan tugas kepada AI agent tanpa kehilangan kontrol terhadap rangkaian prosesnya.
Jeu melihat Asia Tenggara sebagai kawasan yang bergerak cepat dalam penerapan AI, termasuk pada industri dengan regulasi ketat dan perusahaan yang beroperasi melalui banyak entitas ataupun pasar.
Menurutnya, pemahaman Deltadata terhadap lingkungan bisnis tersebut menjadi salah satu pertimbangan Orkes dalam menunjuk perusahaan itu sebagai mitra di kawasan.
Dari tahap demo menuju produksi
Chief Executive Officer PT Deltadata Mandiri Steven Law melihat perubahan kebutuhan perusahaan terhadap AI agent dalam dua tahun terakhir.
“Dua tahun lalu, klien kami bertanya apakah AI agents sudah siap. Sekarang mereka bertanya bagaimana cara memasukkannya ke produksi tanpa kehilangan kendali,” kata Steven.
Ia mencontohkan proses di sebuah bank di Jakarta ketika AI agent dapat menyiapkan berkas pinjaman, kemudian credit officer melakukan peninjauan, sementara tiga anak perusahaan memberikan persetujuan secara paralel.
Seluruh tahapan tersebut dapat tercatat dalam satu alur kerja. Menurut Steven, pendekatan tersebut telah digunakan untuk menangani volume yang setara dengan jutaan transaksi pada klien Deltadata.
“Orkestrasi dengan cepat menjadi salah satu keputusan arsitektur terpenting yang dibuat oleh enterprise, dan kami ingin klien mendapatkannya dengan benar sejak pertama kali,” ujarnya.
Steven menambahkan bagian penting dari inovasi pada AI agent ini adalah bahwa teknologi Netflix saat ini telah tersedia untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Melalui kemitraan tersebut, Deltadata akan membawa dukungan Orkes lebih dekat dengan perusahaan di Asia Tenggara yang mulai mengoperasikan AI agent dalam proses bisnis nyata, sekaligus membutuhkan sistem untuk menjaga setiap tahapan tetap terukur, tercatat, dan dapat dikendalikan.