Advertorial

Perkuat Kapasitas Koperasi, LPDB Koperasi Lakukan Monitoring Program Inkubasi 2026

Kompas.com - 31/10/2026, 19:21 WIB

KOMPAS.com – Program Inkubasi Bisnis Koperasi Tahun 2026 yang dijalankan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi bersama Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan IKOPIN University (PIBI IKOPIN) menunjukkan perkembangan positif.

Melalui pendampingan terstruktur, sejumlah koperasi peserta program mengalami kemajuan dalam penguatan kelembagaan, pengelolaan keuangan, pengembangan usaha, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Perkembangan tersebut ditinjau langsung oleh Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi Deva Rachman saat mengunjungi PIBI IKOPIN dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Ganjarsabar bersama perwakilan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program Inkubasi Bisnis Koperasi Tahun 2026 yang dijalankan melalui kemitraan LPDB Koperasi dan PIBI IKOPIN.

Dalam kesempatan itu, Deva menegaskan bahwa keberhasilan program inkubasi tidak cukup diukur dari penyelesaian kegiatan secara administratif. Pendampingan juga harus menghasilkan peningkatan kapasitas dan kemandirian koperasi agar mampu tumbuh secara berkelanjutan serta siap mengakses pembiayaan.

Menurut Deva, pendampingan perlu disesuaikan dengan potensi dan karakteristik masing-masing koperasi. Setiap daerah memiliki peluang usaha berbeda sehingga pengembangan koperasi harus bertumpu pada potensi ekonomi lokal, bukan sekadar mengikuti pola usaha yang seragam.

"Program inkubasi ini harus mampu menangkap potensi lokal dari masing-masing koperasi. Kita ingin koperasi tidak hanya mendapatkan pendampingan, tetapi benar-benar berkembang, memiliki usaha yang berjalan, tata kelola yang baik, dan pada akhirnya siap mengakses pembiayaan LPDB Koperasi untuk memperbesar skala usahanya," ujar Deva dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (31/10/2026).

Perwakilan LPDB Koperasi bersama pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Ganjarsabar meninjau kegiatan operasional dan pengelolaan gerai di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kunjungan ini merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi Program Inkubasi Bisnis Koperasi Tahun 2026 bersama PIBI IKOPIN.Dok. LPDB Perwakilan LPDB Koperasi bersama pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Ganjarsabar meninjau kegiatan operasional dan pengelolaan gerai di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kunjungan ini merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi Program Inkubasi Bisnis Koperasi Tahun 2026 bersama PIBI IKOPIN.

Ia menambahkan, pemantauan dan evaluasi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan begitu, perkembangan koperasi dapat diukur dan berbagai tantangan selama proses pendampingan bisa segera ditindaklanjuti.

Capaian 16 koperasi meningkat

Program Inkubasi Bisnis Koperasi Tahun 2026 melalui kemitraan dengan PIBI IKOPIN melibatkan 16 koperasi di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Peserta terdiri atas 14 KDMP dan dua koperasi reguler.

Berdasarkan bidang usahanya, sebanyak 12 koperasi bergerak di sektor perdagangan dan sembako, tiga koperasi di bidang pertanian dan agribisnis, serta satu koperasi di sektor peternakan.

Dimulai pada Mei 2026, program tersebut mencakup penguatan kelembagaan dan legalitas, tata kelola usaha, pengelolaan keuangan, digitalisasi, serta fasilitasi akses pembiayaan dan kemitraan. Pendampingan dilakukan melalui kegiatan coaching, mentoring, asistensi, monitoring, dan evaluasi sesuai kebutuhan setiap koperasi.

Hasil monitoring pada Minggu (18/10/2026) menunjukkan, rata-rata capaian Objective and Key Results (OKR) dari 16 koperasi meningkat menjadi 84,81 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian pada Jumat (18/09/2026) yang sebesar 78,94 persen.

Dari total peserta, delapan koperasi telah mencapai OKR minimal 90 persen, dua koperasi berada pada rentang 85–89 persen, empat koperasi mencapai 70–84 persen, dan dua koperasi lainnya masih berada di bawah 70 persen.

Secara keseluruhan, sembilan koperasi mengalami peningkatan capaian, sedangkan tujuh koperasi lainnya belum menunjukkan perubahan.

Salah satu perkembangan terlihat pada KDMP Ganjarsabar. Ketua KDMP Ganjarsabar, Purnama, mengatakan bahwa pendampingan PIBI IKOPIN membantu memperbaiki administrasi dan tata kelola koperasi yang sebelumnya belum tertata dengan baik.

"Setelah mendapatkan inkubasi dari PIBI IKOPIN, administrasi koperasi kami sekarang jauh lebih rapi. Kami juga sudah menggunakan aplikasi untuk membantu pengelolaan komoditas dan pencatatan keuangan, mulai dari arus kas, jurnal, neraca, hingga perhitungan hasil usaha. Ini sangat membantu kami dalam mengelola koperasi," ungkap Purnama.

Selain memperbaiki administrasi dan pengelolaan keuangan, pendampingan juga membantu KDMP Ganjarsabar memperkuat manajemen serta menjalin kemitraan dengan distributor.

Ke depan, koperasi tersebut berharap dapat memperluas skala usahanya melalui dukungan akses pembiayaan dari LPDB Koperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Koperasi didorong kembangkan usaha produktif

Direktur Koperasi dan UMKM Kementerian PPN/Bappenas, Mahatmi Parwitasari Saronto, mengapresiasi kolaborasi LPDB Koperasi dan PIBI IKOPIN dalam memperkuat kapasitas koperasi melalui pendampingan langsung di lapangan.

Menurutnya, pengembangan koperasi perlu diarahkan agar mampu mengoptimalkan potensi ekonomi daerah dan memperkuat aktivitas produksi. Koperasi diharapkan tidak hanya berperan sebagai distributor atau penyalur barang, tetapi juga mengembangkan usaha produktif yang dapat mendorong perputaran ekonomi lokal.

"Kami mendorong agar koperasi dapat mengembangkan usaha berdasarkan potensi yang ada di daerahnya. Tidak hanya menjadi distributor atau penyalur, tetapi juga bagaimana koperasi bisa bergerak di sektor produksi sehingga memberikan nilai tambah dan mendorong berkembangnya ekonomi lokal," jelas Mahatmi.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap hasil program, termasuk dampaknya terhadap perkembangan usaha dan peningkatan omzet koperasi. Hasil pendampingan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama untuk menyempurnakan program pada masa mendatang.

Dokumentasi laporan progres Program Inkubasi Bisnis Koperasi Tahun 2026 yang dijalankan melalui kemitraan LPDB Koperasi dan PIBI IKOPIN. Laporan tersebut menjadi bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi perkembangan koperasi peserta program.Dok. LPDB Dokumentasi laporan progres Program Inkubasi Bisnis Koperasi Tahun 2026 yang dijalankan melalui kemitraan LPDB Koperasi dan PIBI IKOPIN. Laporan tersebut menjadi bagian dari kegiatan monitoring dan evaluasi perkembangan koperasi peserta program.

Direktur PIBI IKOPIN Deddy Supriyadi menjelaskan, pengembangan koperasi yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan membutuhkan proses pendampingan menyeluruh.

Menurutnya, penguatan koperasi tidak cukup hanya melalui pemenuhan dokumen kelembagaan. Pendampingan juga perlu menyentuh aspek sumber daya manusia, tata kelola, manajemen usaha, serta kemampuan menangkap peluang pasar.

"Keberhasilan inkubasi bukan hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi sejauh mana koperasi mengalami peningkatan, menjadi lebih baik, lebih sehat, dan mampu memberikan manfaat bagi anggota maupun masyarakat. Karena itu, pendampingan harus berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing koperasi," ujar Deddy.

Rektor Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN) Profesor Yudi Azis turut menyambut baik kolaborasi tersebut.

Menurutnya, sinergi antara LPDB Koperasi, perguruan tinggi, dan pemerintah menjadi ruang penting untuk memperkuat koperasi melalui pendekatan berbasis data dan kondisi nyata di lapangan.

Yudi berharap, hasil evaluasi program dapat menghasilkan pembelajaran dan rekomendasi untuk mendukung pengembangan koperasi secara lebih luas.

Melalui kemitraan tersebut, LPDB Koperasi berharap, program inkubasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kapasitas koperasi sebelum memasuki tahap pengembangan usaha dan mengakses pembiayaan. Koperasi dengan kelembagaan yang tertata, pencatatan keuangan akuntabel, serta model bisnis yang jelas diharapkan memiliki fondasi lebih kuat untuk berkembang.

Sebagai satuan kerja di bawah Kementerian Koperasi, LPDB Koperasi terus mendorong penguatan ekosistem koperasi melalui penyaluran dana bergulir, baik secara konvensional maupun syariah. Upaya tersebut juga didukung dengan peningkatan kapasitas dan kesiapan usaha koperasi.

Dengan demikian, keberhasilan inkubasi tidak berhenti pada berakhirnya masa pendampingan. Program ini diharapkan menjadi titik awal bagi koperasi untuk tumbuh lebih mandiri, memperluas kegiatan usaha, meningkatkan manfaat ekonomi bagi anggota, serta berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat di daerah.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau