kabar mpr

Turut Peringati Pekan Pancasila, MPR RI Gelar Konferensi

Kompas.com - 31/05/2017, 16:56 WIB

MPR RI mengadakan Konferensi Nasional Etika Berkehidupan Berbangsa (Arah Kebijakan, Kaidah Pelaksanaan, dan Upaya Penegakan) pada Rabu (31/5/2017) siang di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan. Konferensi yang yang menghadirkan berbagai elemen bangsa ini merupakan program hasil kerja sama antara MPR RI, Komisi Yudisial, dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Konferensi tersebut merupakan bagian dari Pekan Pancasila yang digelar selama tujuh hari, yaitu pada 29 Mei – 4 Juni 2017.  Pekan Pancasila sendiri merupakan rangkaian acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni.

Selain Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, ada sejumlah tokoh terkemuka yang turut hadir dalam acara ini. Adapun dua di antaranya adalah Ketua DKPP Jimly Asshidqie dan Ketua Komisi Yudisial Aidul Fitriciada Azhari. Tujuan dari konferensi ini adalah untuk merumuskan arah kebijakan dalam implementasi, menyusun tata cara internalisasi dan sosialisasi, serta menentukan langkah-langkah yang harus diambil dalam menegakkan etika kehidupan berbangsa.

Selaku tuan rumah, Zulkifli menyambut baik dan mengapresiasi kerja sama ketiga instansi dalam menyelenggarakan konferensi ini. Sebab, kegiatan ini merupakan puncak rangkaian acara. Sebelumnya, telah dilaksanakan dua pra-konvensi di DKPP dan Komisi Yudisial.

"Forum ini diselenggarakan dalam rangka mencari permulaan kebijakan agar etika kehidupan berbangsa dan bernegara dapat diimplementasikan dalam praktek ketatanegaraan kita," kata Zulkifli saat menyampaikan kata sambutan.

Dalam sambutannya Zulkifli kembali mengingatkan bahwa Pancasila bukan hanya sekadar dasar ideologi dan pedoman hidup bangsa Indonesia. Ia menyatakan, Pancasila harus juga diterjemahkan menjadi sistem etika dan panduan berperilaku.

"Untuk mencapai cita-cita bangsa, diperlukan pengamalan etika kehidupan berbangsa." lanjut Zulkifli.

Menurutnya, selama 19 tahun reformasi terjadi, nilai-nilai luhur kebangsaan mulai pudar. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk menghidupkan dan menguatkan kembali etika maupun moral masyarakat Indonesia. (TF)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau