Kilas

Revitalisasi Kota Lama Semarang Hambat Mobilitas Warga

Kompas.com - 24/04/2018, 19:24 WIB


KOMPAS.com - Pemerintah Kota Semarang membahas pembangunan infrastruktur Kota Lama Semarang sebagai respon atas keluhan para pemilik gedung di Kota Lama Semarang.

Hendrar mengundang kontraktor pelaksana revitalisasi Kota Lama dan komunitas penggiat Kota Lama Semarang dalam pertemuan di Cafe Tekodeko, Semarang, Selasa (24/4/2018).

Proyek pembangunan yang dilakukan selama ini ternyata menghambat akses masyarakat untuk masuk ke sebagian gedung terdampak revitalisasi Kota Lama Semarang.

(Baca: Hendrar Bahas Pariwisata Kota Lama dengan Uni Eropa)

Pendeta Helen yang mewakili umat Gereja Blenduk mengatakan, akses umat untuk beribadah pada hari Minggu terkendala karena jalan utama ditutup.

Kebijakan menutup akses jalan utama, kata dia, sebaiknya diinformasikan jauh-jauh hari kepada masyarakat.

"Kami sangat senang dengan perhatian pemerintah kepada Kota Lama. Kami pada dasarnya sangat mendukung, tapi harap kami diberi tahu dulu," ujarnya.

Ketua Rukun Warga (RW) 1 Tanjung Mas, Bagyo, mengatakan masyarakat tidak mempersoalkan upaya revitalisasi Kota Lama Semarang.

(Baca: Kota Lama Semarang Dipersiapkan Jadi Kota Pusaka Dunia)

Meski begitu, masyarakat perlu mendapat informasi agar dapat mempersiapkan resiko atas penutupan jalan utama.

"Tidak masalah mengganggu karena ini demi kebaikan bersama, tapi mohon disinkronkan dengan stakeholder," katanya.

Perubahan cara kerja

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, meminta kontrakor revitalisasi Kota Lama Semarang untuk membagikan surat edaran resmi yang mencantumkan jadwal rencana kerja.

Ia mengatakan, revitalisasi mesti dilakukan secara bertahap sehingga tidak menutup seluruh akses jalan utama.

(Baca: Hendrar Turun Tangan Awasi Pembangunan Kota Lama Semarang)

"Saya akan lakukan koreksi terhadap seluruh kegiatan di Kota Lama baik yang sifatnya revitalisasi maupun penyelenggaraan event, agar tidak merugikan sedulur-sedulur di Kota Lama," ujarnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengawasi proyek revitalisasi Kota Lama Semarang, Selasa (24/4/2018).Dok. Humas Pemkot Semarang Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengawasi proyek revitalisasi Kota Lama Semarang, Selasa (24/4/2018).

Hendrar mengaku bakal turun tangan mendorong percepatan revitalisasi Kota Lama. Salah satunya pada proyek Jalan Letjen Suprapto, yang merupakan jalan utama Kota Lama Semarang.

Kontraktor proyek itu membutuhkan waktu empat minggu untuk memindah pipa PDAM. Hendrar pun menelpon Direktur Teknik PDAM agar proyek bisa rampung dalam dua minggu.

"Percepatan ini penting karena salah satu roh kota lama adalah tempat-tempat usaha yang menghidupkan aktivitas di sini. Jangan sampai karena terlalu lama pengerjaannya justru menimbulkan lebih banyak kerugian," katanya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau