Bagi Li Miaomiao kaki yang penat karena seharian menggunakan sepatu hak tinggi dan dagu yang pegal karena harus mempertahankan senyum bukan sebuah penderitaan.
Dibandingkan dengan kesempatan untuk mengalungkan medali di leher atlet juara di Olimpiade Beijing, segala kesakitan itu akan terbayar.
Gadis langsung berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku sekolah menengah itu merupakan satu dari 34 gadis China yang dilatih khusus untuk menjadi pengalung medali. Mereka dilatih di Beijing Foreign Affairs School (BFAS), salah satu perguruan tinggi negeri dengan tugas memproduksi gadis yang camera face untuk keperluan acara-acara seremonial.
Banyak macam latihan yang harus mereka jalani. Kalau tidak sedang berlatih menyeimbangkan buku di atas kepala, Li dan teman-teman sekelasnya belajar bahasa Inggris. Atau, di lain waktu, mereka belajar budaya dan melihat gambar para pengalung medali tahun sebelumnya. Namun lebih penting dari semua itu adalah senyum.
"Saya harus berlatih di rumah. Tersenyum di depan cermin paling tidak satu jam tiap hari," tutur Li.
Ditemui di tempat latihan, Rabu (9/1), Li mengenakan seragam merah menyala dan sepatu hak tinggi. Saat itu ia sedang beristirahat sebelum menjalani latihan berikutnya.
"Saya ingin mempersembahkan senyum saya pada dunia agar semua tahu senyum gadis China lah yang paling hangat," ujarnya.
Ungkapan Li agaknya mewakili keinginan pemerintah China dalam menggelar Olimpiade Beijing 2008. Bayangkan saja, untuk memoles wajahnya sebaik mungkin, pemerintah China merogoh anggaran negaranya sebesar 40 miliar dolar AS. Hanya sebagian kecil dari dana itu yang digunakan untuk membangun sarana olah raga.
Selain membangun jaringan jalan dan kereta api bawah tanah, Beijing menghabiskan miliaran dolar AS untuk menggusur sejumlah permukiman dan mengusir penghuninya demi mempercantik wajah kota.
Bahkan ketika cat di sejumlah venue Olimpiade belum mengering, para pejabat tetap khawatir bahwa kelakuan warga Beijing bisa mengacaukan pesta akbar beberapa bulan mendatang itu.
Kekhawatiran itu membuat pemerintah membuat program kampanye khusus untuk membuat warga Beijing menghilangkan kebiasaan buruknya, seperti meludah di sembarang tempat. Pemerintah juga mengerahkan ribuan relawan untuk mengajar masyarat agar lebih beradab, misalnya antre saat hendak masuk bus atau kereta api.
Li Zhiqi, Direktur BFAS mengakui betapa tabiat buruk masyarakat membuat Beijing tidak cocok menjadi tuan rumah. Menurutnya, kebiasaan yang sudah mengakar itu sulit diubah. "Membangun perangkat lunak jauh lebih sulit ketimbang membangun perangkat keras, kata Li Zhiqi.
BFAS, kata Li Zhiqi, bekerja keras untuk mencetak tenaga-tenaga berkelakuan baik untuk berhubungan dengan tamu asing. "Ini peluang besar bagi mereka. Olimpiade memosisikan mereka di depan audiens internasional dan itu keuntungan seumur hidup," lanjut perempuan itu.
Namun dari 100.000 lowongan sukarelawan yang dibuka, posisi pengalung medali lah yang paling sulit didapat. Persaingannya teramat ketat. Li dan 33 temannya harus menyingkirkan lulusan sekolah tari, sarjana dan pemenang kontes kecantikan.
Syarat fisik yang harus dilalui adalah tinggi minimal 1,63 meter. "Memang tidak ada batasan berat badan, tetapi tentu saja tidak boleh terlalu berat," ujar Li Zhiqi. Maksudnya agar badan para gadis itu bisa pas dengan ukuran seragam yang telah disediakan.
Setelah lolos menjadi gadis pengalung medali, pelajarannya pun tidak mudah. Mereka harus tinggal di asrama khusus di pinggiran Beijing. Tiap hari mereka harus bangun pagi untuk belajar tentang etiket dan sikap.
Di luar urusan perilaku seperti melihat langsung pada lawan bicara, para siswa juga harus memberikan senyum yang sempurnya. "Cukup memperlihatkan delapan gigi paling atas," kata Li Bogeng, siswi berusia 17 tahun.
Bagi Li Miaomiao yang bertinggi badan 1,73 meter, senyum yang sempurna adalah yang muncul secara alami. Senyum itu ia dapat setelah belajar berjam-jam di depan cermin.
Dengan modal itu, Li Miaomiao terpilih menjadi satu di antara tujuh gadis untuk mengalungkan medali pada para petinju yang menang dalam uji coba Olimpiade November lalu. "Sekarang saya sudah mendapatkan suasana kemewahan, dan sikap saya sudah berubah lewat program pelatihan ini," katanya.
Karena usianya baru 16 tahun, Li Miaomiao tidak mungkin menjadi presenter Olimpiade yang syaratnya harus mahasiswa usia 18-25 tahun. Tetapi ia nekat ikut bersaing merebut posisi itu. "Saya sangat percaya diri. Saya rasa saya punya peluang 80 persen," katanya. Tak lupa ia memberikan senyum sempurnanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang