Kesederhanaan Seorang Petualang

Kompas.com - 11/01/2008, 09:00 WIB

WELLINGTON-JUMAT - "Hanya butuh beberapa langkah berat lagi, lalu tak ada apa pun lagi di atas kecuali langit. Tidak ada pilar yang keliru, tidak ada puncak lain lagi. Kami berdiri bersama di puncak. Tempatnya hanya cukup untuk enam orang. Kami menaklukkan Everest."

Itulah catatan Sir Edmund Hillary tentang peristiwa penaklukan puncak Everest pada 29 Mei 1953 yang bersejarah. Saat itu ia berdiri bergandengan tangan dengan Tenzing Norgay, seorang sherpa yang menemaninya menaklukkan puncak tertinggi di dunia itu. Tidak ada yang lebih tinggi dari dia.

Hillary juga menuliskan campur aduk perasaan yang menghinggapinya saat itu, antara takjub, heran, rendah hati dan bangga. "Inilah emosi yang membingungkan bagi orang pertama yang berdiri di puncak tertinggi di Bumi, setelah sebelumnya banyak yang gagal," tulis Hillary.

Tetapi dia juga menulis, yang paling dominan adalah perasaan lega dan terperanjat. Lega karena perjalanan panjang yang berat berakhir dan sesuatu yang tidak bisa didaki akhirnya terdaki juga.

"Terperanjat, karena itu terjadi pada diri saya, si Ed Hillary tua, penjaga lebah, yang pernah dari bintang di Tuakau Distric School tetapi tidak ada apa-apanya di Auckland Grammar (sekolah menengah) dan tidak punya harapan di universitas, jadi orang pertama di Everest. Saya tidak bisa mempercayai itu," katanya.

Setelah agak mereda emosinya, Hillary melepaskan masker oksigen lalu mengambil gambar. Ia mengatakan, mampu mencapai puncak saja tidak cukup, tetapi perlu bukti. Sekitar 15 menit kemudian mereka mulai perjalanan turun.

Kehidupan Hillary ditandai dengan sejumlah prestasi besar, petualangan hebat, penemuan, kegembiraan dan kesederhanaan pribadi. Kerendahhatiannya itu tampak dengan mengakui sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di Puncak Everest lama setelah rekan sependakiannya, Norgay, meninggal.

Filosofi hidupnya sangat sederhana. "Petualangan bisa untuk orang biasa dengan kualitas yang biasa-biasa saja seperti saya," katanya dalam sebuah wawancara setelah ia menulis biografi berjudul Nothing Venture, Nothing Win pada 1975.

Sejumlah teman dekatnya mengatakan, Hillary punya antusiasme tak terbatas dalam hal kehidupan dan petualangan. "Kita semua punya mimpi. Tetapi Ed punya banyak mimpi, lalu dia mendapatkan dorongan yang luar biasa untuk melakukanitu," ujar Jim Wilson, teman lama Hillary pada 1993.

Hillary mengungkapkan itu pada siswa sekolah dasar di Nepal pada 1998. Saat ia mengatakan, seseorang tidak perlu menjadi jenius untuk melakukan hal baik dalam hidup. "Itu tergantung motivasi. Jika sungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu, kalian akan bekerja keras untuk mencapainya," katanya sebelum menanam sejumlah pohon ek Himalaya langka di halaman sekolah itu. Penanaman pohon itu merupakan bagian dari program Hillary untuk menghutankan kembali dataran tinggi Nepal.

Sampai sekarang, Hillary masih menjadi satu-satu non-politik dari 24 orang di luar Inggris yang mendapat gelar bangsawan dari Ratu Inggris Elizabeth II. Ia menaklukkan Puncak Everest empat hari sebelum Elizabeth II menduduki takhta Inggris. Ia langsung menganugerahi Hillary dengan gelar Sir yang saat itu baru berusia 33 tahun.

Sebelum kematian Norgay pada 1986, Hillary menolak dianggap sebagai yang pertama menginjak puncak Everest, dengan mengatakan ia dan Norgay sebagai tim ketika mencapai puncak itu. Itu merupakan wujud kerendahhatian dan komitmennya kepada Norgay.

Bukti kesederhanaan Hillary lainnya adalah bahwa ia begitu kaget ketika dunia melihat prestasinya itu sebagai sesuatu yang heboh. "Saya begitu takjub melihat semua orang sangat memperhatikan kami yang hanya mendaki gunung," ujarnya.

Hillary tidak pernah lupa pada negara kecil penuh gunung yang melambungkan namanya. Ia selalu mengunjungi Nepal selama 54 tahun berikutnya. Tanpa gembar-gembor dan kompensasi apapun, Hillary menghabiskan waktu berpuluh tahun untuk menyumbangkan tenaga dan dana dari yayasan amal yang dibangunnya sendiri, Himalayan Trust, pada 1962.

Ia begitu terkenal di Nepal dan mendapat sebutan burra sahib (orang besar) karena tingginya lebih dari 190 cm. Dengan dana yang dia kumpulkan, Hillary membantu membangun rumah sakit, klinik kesehatan, sekolah hingga lapangan terbang. Ia juga mengumpulkan dana untuk membantu pendidikan keluarga Sherpa ke jenjang yang lebih tinggi. Lewat yayasan itu, ia mengumpulkan 250.000 dolar AS untuk berbagai proyek di Nepal.
 
Sebagai pemerhati lingkungan, ia minta para pendaki internasional membantu membersihkan ribuan ton kaleng oksigen bekas, kemasan makanan dan sampah lain yang mengotori kaki Everest.

Dengan komitmen sebesar itu pada Nepal, sudah lebih dari 120 kali Hillary pulang balik Nepal-Selandia Baru. Peter, anaknya yang juga petualang, menggambarkan kerja kemanusiaan sang ayah merupakan `tugas` untuk semua yang telah membantunya.

Bahkan, Hillary sedang berkunjung ke Nepal, saat istri pertamanya Luise (43) dan anaknya Belinda (16) tewas dalam kecelakaan pesawat, 31 Maret 1975. Hillary menikah lagi pada 1990 dengan June Mulgrew, mantan istri Peter Mulgrew, rekan sesama petualang yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di Antartika. Dalam perkawinan kedua ia mendapatkan anak Peter dan Sarah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau