Rumah Soeharto Disambangi Petugas STNK

Kompas.com - 16/01/2008, 22:18 WIB

PAGI  itu Ajun Inspektur Dua (Aipda) Selamet Wagimin, tampak tergesa-gesa. Tangan kirinya memegang setumpuk surat-surat bersampul coklat. Pria yang bertugas sebagai Bintara Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkantibmas)  di Polsektro Menteng, Jakarta Pusat, itu bergegas menuju motor dinasnya. Tidak lupa rompi hitam dan tas bertuliskan 'Pelayanan STNK Door to Door' dikenakannya.

"Saya harus bergerak cepat untuk mengirim surat-surat ini ke orang yang dituju," ucap Wagimin kepada Warta Kota.

Sejak diluncurkan program STNK door to door oleh Polda Metro Jaya, Selasa (15/1), kesibukan Wagimin sebagai Babinkamtibmas Kelurahan Gondangdia,  Menteng, Jakpus, semakin bertambah. Jika sebelumnya dia menyambangi rumah-rumah warga untuk menjelaskan soal peran polisi masyarakat (Polmas), kini tugasnya bertambah  karena harus  mengirim surat pemberitahuan pajak kendaraan yang akan jatuh tempo. "Hari pertama tugas saya baru selesai mengantar surat sampai pukul 09.00," ujarnya.

Mendapat kepercayaan itu  memberikan kesan tersendiri. Bagi Wagimin, kegiatan door to door bukanlah hal baru lagi.  Maklumlah setiap hari dia memang berkeliling dari satu rumah ke rumah warga lainnya. Kendati di  Kelurahan Gondangdia jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya relatif dekat, tapi dia seringkali menemui kendala.

"Dari 29 surat di hari pertama, 15 surat tidak bisa sampai ke tangan orang yang dituju," katanya. Hal ini karena di kawasan ini banyak rumah yang tak berpenghuni atau berganti pemilik.

Warta Kota yang sempat ikut bersama Wagimin, beberapa kali harus kecewa karena ternyata rumah yang didatangi kosong, seperti rumah di Jalan Suwiryo No 26, Menteng. Wagimin beberapa memanggil si pemilik rumah, tapi tidak ada jawaban. Wagimin kemudian  melongok dari balik pagar yang sedikit terbuka. Ternyata, rumah bercat putih itu sudah tidak terawat lagi dan tidak ada penghuninya. Dari luar yang terlihat hanya tumpukan karung berisi rumput dan sampah. "Ini salah satu kendalanya," katanya sambil menghela napas.

Pria yang pernah menjabat sebagai Kapospol Taman Suropati dan Sabang  ini tidak putus asa. Rumah warga lainnya tetap didatangi. Kali ini adalah rumah di Jalan Teuku Umar No 61, milik almarhum Umar Wirahadikusumah, mantan wakil presiden di era pemerintahan Presiden Soeharto.

Surat pemberitahuan diterima Musa, seorang staf di rumah tersebut. Sebelum menyerahkan surat, Wagimin  menjelaskan maksud dan tugas dia sebagai petugas pelayanan STNK door to door.

"Bapak bisa ngurus STNK langsung ke kantor samsat atau lewat saya. Surat ini sebagai pemberitahuan," katanya.

Mendengar penjelasan itu, Musa mengangguk tanda mengerti. Ia mengatakan, di rumah tersebut ada enam mobil dan tiga motor. "Kebanyakan yang ngurus orang kantor," katanya. Ia mengaku menyambut baik program tersebut.

Sehari sebelumnya, Wagimin juga menyambangi  rumah  mantan Presiden Soeharto di Jalan Cendana No 8, Menteng. "Yang terima surat petugas satpam. Saya tidak tahu kapan pajak kendaraannya akan diurus. Kata satpamnya semua anggota keluarga Cendana sedang di rumah sakit," katanya.

Menjadi pengantar surat kini menjadi tugas rutin baru dilakoni Wagimin. Kendati lelah, dia tetap bersemangat. Tak peduli cuaca panas atau hujan, Wagimin tetap jalan. "Ini perintah kapolda langsung," ucapnya.

Saat ditanya apakah dia mendapat insentif dengan tugas barunya itu, Wagimin menggelengkan kepala. "Gak tahu Mas. Emang dapat insentif?" ujar pria paruh baya itu balik bertanya.

Kepala Seksi STNK Polda Metro Jaya Kompol Arman Achdiat mengatakan, sedang mengkaji  pemberian insentif bagi anggota babinkamtibmas, termasuk menambah anggota yang bertugas mengantarkan surat. "Kalau respons masyarakat bagus, akan kita tambah dari petugas pospol," katanya.

Ia mengakui, program layanan STNK door to door tidak lepas dari sejumlah kendala teknis, seperti alamat wajib pajak (WP) tidak sesuai dengan STNK, kendaraannya sudah dijual, termasuk kekurangan petugas. (Soewidia Henaldi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau