Astana Giribangun Rawan Longsor

Kompas.com - 17/01/2008, 08:03 WIB

Laporan Wartawan Surya, Junianto Setyadi

JALAN utama ke Astana Giribangun di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, khususnya yang berjarak tak jauh dari makam Ny Tien Soeharto, itu memang rawan longsor. Tak heran jika Bupati Karanganyar Rina Iriani selalu memakai alasan memantau jalur rawan longsor setiap kali menjawab wartawan mengenai tujuan
kedatangannya ke Astana Giribangun.

Sampai Rabu (16/1) sore, beberapa titik longsor di jalur tersebut masih diperbaiki. Ketika Surya naik ke Astana Giribangun, Rabu siang, tampak beberapa petugas membenahi jalur tersebut. Saat Surya turun, hendak kembali ke Kota Solo, Rabu sore, mereka
masih berada di tempat yang berjarak sekitar 300 meter dari Astana Giribangun tersebut.

Hujan yang turun hampir setiap hari, membuat upaya pembenahan tak bisa berlangsung cepat. Menurut beberapa warga setempat, penyebab utama longsor itu pun hujan deras semalam suntuk, 26 Desember 2007 lalu.

Meski areal yang rawan longsor ini tak separah dibanding areal yang longsor akhir Desember 2007 lalu  di kecamatan tetangga Kecamatan Matesih, yaitu Kecamatan Tawangmangu --menelan korban 34 orang meninggal-- namun Rina tetap pantas khawatir. Sebab,
jika benar Pak Harto nanti dimakamkan di Astana Giribangun setelah meninggal, bagian jalan yang longsor tersebut tentu akan merepotkan para pelayat.

Apalagi, sebagaimana diketahui, mayoritas (calon) pelayat Pak Harto adalah orang-orang ‘top’, termasuk para pejabat tinggi. Ratna pasti ingin kehilangan muka gara-gara proses pemakaman mantan presiden tersebut nanti terganggu longsor.

Maka, tak heran pula bahwa bupati wanita ini menyiapkan sejumlah jalur alternatif menuju kompleks pemakaman keluarga Soeharto tersebut. Hal itu diakui Rina kala berada di Astana Giribangun, Selasa (15/1) lalu.

"Kami menyiapkan tiga jalur alternatif menuju lokasi, yaitu melalui Plumbon, Gerdu dan Koripan," katanya.

Menurut Rina, tiga jalur alternatif  yang disiapkan ini masih berada dalam satu kawasan ziarah di kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran Solo, yaitu Astana Mangadek yang berada di atas Astana Giribangun. Dengan tiga jalur alternatif, diharapkan perjalanan pulang-pergi ke Astana Giribangun akan lancar, tak
terganggu longsor.

Upaya maksimal Rina dan jajarannya di Pemkab Karanganyar menyiapkan jalur alternative ke Astana Giribangun ini secara tidak langsung sebenarnya menunjukkan bahwa pihak pemkab memang menyiapkan skenario pemakaman Soeharto. Meski jika diwawancara
selalu menjawab kedatangannya ke Giribangun tak terkait Soeharto, namun tindakan Rina memastikan kehadirannya ke sana terkait Soeharto.

Apalagi, sebagaimana diketahui, sejumlah tokoh penting dan pejabat pun telah meninjau Astana Giribangun setelah Pak Harto dikabarkan kritis di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta hamper dua pekan lalu. Termasuk, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Mayjen TNI Agus Suyitno (sebelum digantikan Mayor Jenderal Darpito Pudyastungkoro, Senin, 14/1), dan Kapolda Jateng Irjen Pol Drs Dody Sumantyawan.
 
“Sebenarnya Anda bisa simpulkan sendiri mengapa pejabat-pejabat itu datang. Meski mereka menyatakan datang untuk berziarah, atau meninjau lokasi longsor, Anda dapat simpulkan sendiri alasan mereka datang. Apalagi kalau bukan untuk menyiapkan proses
pemakaman,” kata seorang petinggi polisi yang ditemui di areal parkir A Astana Giribangun.

Fakta lain yang memperkuat informasi dari perwira polisi ini adalah ditutupnya Astana Giribangun untuk umum sejak Senin (14/1) lalu. Meski pihak pengurus makam menegaskan bahwa penutupan tersebut tak ada hubungannya dengan Pak Harto, tetap saja penegasan itu terasa aneh.

“Makam ditutup karena harus dibersihkan. Ditutup sampai kapan, saya tidak tahu karena tergantung atasan saya,” kata Ketua Pelaksana Harian Astana Giribangun Sukirno, yang juga staf Kecamatan Matesih, ketika ditemui di kantornya, di areal parkir A, Rabu (16/1) sore.

Mengapa waktu penutupan tak terbatas? Bukankah saat keadaan “normal”, dalam arti Soeharto tak sakit parah, kompleks astana pun setiap hari, pagi sampai sore, juga dibersihkan tanpa harus menutup kompleks makam? Menjawab pertanyaan ini, Sukirno berkilah bahwa petugas pembersih relatif tidak banyak sehingga perlu
waktu lama.

“Karyawan di sini semua 21 orang. Ada pembagian tugas sendiri-sendiri. Makanya, tak semua karyawan ikut membersihkan sehingga perlu waktu lama,” kata Sukirno.

***

Akibat masih ditutupnya kompleks makam, sepanjang Rabu (16/1) kemarin puluhan peziarah dan wisatawan kecele. Mereka tertahan di depan pintu masuk kompleks makam, yang ditutup dan dijaga dua petugas keamanan berpakaian preman.

Rabu siang, sebelum turun hujan, tampak sekitar 20 orang calon peziarah makam Ny Tien Soeharto tertahan di depan pintu masuk. Mereka duduk bergerombol sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu, setelah memperoleh kepastian tak bisa nyekar pusara Ny Tien.

“Saya datang kemari karena penasaran setelah mendengar kabar bahwa makam ini ditutup. Eh, ternyata bener juga,” aku Musfirin, 38, yang datang bersama istri dan seorang anak perempuannya.

Musfirin berasal dari Desa Tanggul, Kabupaten Jember, namun mukim di Plumbon, Tawangmangu, tempat asal sang istri, yang relatif dekat dari Astana Giribangun. Pria yang sehari-hari berdagang pakaian Muslim di Pasar Tawangmangu ini mengaku belum pernah berziarah ke Astana Giribangun.

“Kalau saya sih sudah beberapa kali ke sini. Termasuk beberapa waktu setelah Ibu Tien sedo (meninggal, Red). Tapi setelah Pak Harto lengser (tahun 1988, Red), saya belum pernah ke sini lagi,” tutur Ny Musfirin, yang kecewa karena tidak boleh masuk ke kompleks makam.

Perasaan kecewa juga dirasakan Ny Sumini, 47, yang datang bersama empat orang dari Kabupaten Ngawi. Dia mengaku menyempatkan diri datang ke Astana Giribangun karena mendengar berita Pak Harto akan dimakamkan di sana. “Ternyata ditutup,” katanya.

Meski demikian, dia juga mengaku sudah lega telah bisa datang ke Astana Giribangun. “Sekarang sudah plong, karena tahu langsung keadaannya. Tempatnya bagus, banyak tanaman hijau, dan ada suasana perkampungan,” pujinya.


Tatkala kekecewaan para calon peziarah didengar Sukirno, Ketua Pelaksana Harian Astana Giribangun tersebut mengaku tak dapat berbuat apa-apa. “Saya hanya bisa minta maaf, karena saya cuma
menjalankan perintah atasan,” katanya.

Atasan Sukirno adalah Manajer Astana Giribangun Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Sriyanto Soemanto Kusumo. Seperti diketahui, Sriyanto yang juga menjabat Kepala Rumah Tangga nDalem Kalitan, ini  jarang naik ke Astana Giribangun, dan sehari-hari berada di nDalem Kalitan, rumah pribadi keluarga Soeharto di Solo.

“Saya terserah apa kata beliau. Sepanjang belum ada perintah dari beliau untuk membuka kembali astana ini untuk umum, ya saya tidak berani mengizinkan orang-orang luar masuk,” tambah Sukirno, yang di dekat kantornya ada beberapa warga menggelar dagangan makanan dan minuman.

Para pedagang itu berjualan dengan model “permanen” –-membuka semacam kios terbuka--   setelah tahu bahwa hari-hari ini banyak orang, termasuk wartawan dan polisi, datang ke Giribangun. “Biasanya saya juga berjualan tapi secara asongan,” ungkap Wiwik, 31, perempuan asal Ngadirejo, Desa Girilayu, Matesih.

Menurut kawan Wiwik, Sri, pada hari-hari normal, keadaan di Giribangun relatif sepi sehingga dirinya hanya mau berdagang secara asongan. “Kalau dulu, saat Pak Harto masih menjadi presiden, banyak orang datang sehingga jualan saya pun laris,” kenangnya.

Sri tak berlebihan. Karena, data pada buku catatan pihak pengurus makam, setelah Ibu Tien meninggal, 28 April 1996, dan dimakamkan di Astana Giribangun, setiap hari ribuan orang datang berziarah. “Jumlah peziarah pernah mencapai 15 ribu orang per hari,” kata
Sukirno.

Dia masih ingat, rekor angka ribuan tersebut terjadi dua pekan sampai sebulan setelah Ny Tien dimakamkan. Kala itu, saking banyaknya pengunjung, para pedagang di areal parkir B di bagian bawah kompleks makam laris-manis menjual dagangan mereka kepada ribuan pezaiarah maupun wisatawan.

Di areal parkir yang luas itu memang terdapat puluhan kios penjual  souvenir maupun makanan. Tatkala Soeharto berkuasa, areal itu penuh pedagang sekaligus pembeli. Pasca-Soeharto lengser,  tempat tersebut sepi, tak ada satu pun penjual. Karena, peziarah maupun wisatawan yang datang memang hanya segelintir.

Baru setelah Astana Giribangun hari-hari ini ramai oleh puluhan wartawan dan orang-orang lain, seperti polisi dan tentara –-yang datang lantaran memperkirakan Soeharto segera dimakamkan— di areal parkir B itu mulai tampak lagi beberapa pedagang.

Mungkinkah areal tersebut akan ramai lagi setiap hari, nanti, setelah Pak Harto benar-benar dimakamkan di Astana Giribangun…?

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau