Satu Kios Rp 68 Juta

Kompas.com - 21/01/2008, 04:53 WIB

KEBAYORAN BARU, WARTA KOTA - Meskipun ratusan kios bunga dan ikan hias di Jalan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (18/1) telah rata dengan tanah, Pasar Radiodalam sebagai lokasi pengganti tampak masih belum siap digunakan. Harga kios di sana Rp 68  juta/kios.

Pasar itu berada di Jalan BRI, Radiodalam, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lokasinya berada di samping Pasar Inpres Radiodalam.

Pantauan Warta Kota, Minggu (20/1), puluhan pekerja mengecat dan menghaluskan dinding. Sebagian lagi mengelas konstruksi atap deretan kios tersebut. Ada juga yang memasang meteran listrik dan rolling door. Pasar terdiri atas 104 kios, setiap kiosnya berukuran 2X2 meter.

Menurut Kasubdin Taman Dinas Pertamanan Provinsi DKI, Dwi Bintarto, kios berukuran 2 x 2 m tersebut dinilai cukup untuk melakukan aktivitas perangkaian bunga. "Kalau buat kantor kan cukup, kalau membuat rangkaian besar, ya bisa di luar kios," ujarnya.

Dia menambahkan, lokasi di Radiodalam itu adalah lokasi permanen yang bisa ditempati pedagang selama lamanya, tidak sementara seperti di Barito. Nantinya, Pasar Radiodalam akan dikelola oleh PD Pasar Jaya.

Dwi menjelaskan, pihaknya telah menawarkan enam lokasi untuk berjualan kepada pedagang, yakni di Pasar Radiodalam, Pondokindah, Plaza Nagari Pakubuwono, Pasar Santa di Jalan Cipaku, Pasar Mampang, dan di Joharbaru, Jakarta Pusat.

Ke depannya, lanjut Dwi, pihaknya akan bekerja sama dengan Dishub DKI, serta Dinas PU DKI untuk memudahkan akses ke Radiodalam. Baik itu perbaikan jalan maupun rambu rambu lalu lintas. "Kalau bicara omset, memang tidak mungkin langsung sama seperti di Barito. Semua  butuh proses sosialisasi dan waktu. Namanya juga pindah," tandasnya.

Lokasi tersebut berada sekitar 500 meter dari Jalan Raya Radio Dalam. Ruas jalan hanya dapat dilalui dua mobil kecil. Tidak ada lahan parkir di areal seluas sekitar 2.500 m2 tersebut. Mobil atau sepeda motor bisa memarkir kendaraan di jalan sekeliling pasar atau di halaman Pasar Inpres.

Bangunan berbentuk  memanjang dan beratapkan asbes gelombang. Sebagian atap berupa fiberglass agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam. Selasar depan kios selebar  dua meter dan lorong selebar empat meter. Dua buah spanduk banner bertuliskan Bursa Bunga Potong dan Ikan Hias eks Barito Jakarta Selatan dipajang di depan pasar tersebut.

Setiap kios dilengkapi aliran listrik dan sebuah kran air. Namun, listrik  450 watt  itu belum mengalir lantaran instalasi masih dipasang. Kios kios  itu telah diundi pemiliknya. Pada setiap kios dipasang kertas kecil bertuliskan nama pemilik.

Sementara di pertokoan Plaza Nagari Pakubuwono di kawasan Velbak, Kebayoran Baru, tampak sepi pengunjung.

Rencananya, lokasi itu juga akan digunakan sebagai tempat penampungan para pedagang ikan hias. Pada bangunan itu saat ini hanya terdapat beberapa kios pedagang otomotif.

Para pedagang di Barito menolak pindah karena ukuran kios kecil dan tempatnya tidak strategis. Apalagi di lokasi penampungan itu, mereka diwajibkan membayar Rp 68 juta/kios.

"Di sini saya punya toko 2 x 8 m2, kalau di sana (Radiodalam) cuma 2 x 2 m2. Gedean juga kamar mandi. Udah gitu disuruh bayar Rp 68 juta," ujar Ati, pedagang bunga yang omsetnya Rp 7 juta/bulan. (M1)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau